Jumat, 30 November 2018

Cerpen Fiksi 10 halaman | Karya Sendiri |


MENUNGGUMU DISELA HUJAN
***
Hal indah itu bernama cinta
Sederhana menyebutnya
Lain dari latar dan kenyataannya
Berbeda saat merasakan getarannya
            Cinta pandai membuat luka
            Namun ia juga pandai menyimpan rindu
            Dikala hasrat ingin bertemu
            Menjelma, menyiksa menjadi satu
***
“Tok...tokkk..tok...” Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Tapi tak ada jawaban dari dalam kamar. Kekhawatiran pun datang menyerang. Tiba-tiba pintu dibuka dengan hentakan keras. Pintupun akhirnya terbuka nampaklah seorang gadis remaja terbaring lemah tak berdaya diatas kasur dengan seprei bermotif bunga mawar putih. Teriakan histerispun terlontar dari bibir seseorang yang tadinya mengetuk pintu.
“Kay....Kayla bangun sayang.” Ucapnya menepuk pipi gadis itu.
Tak ada jawaban, gadis itu nampak pucat dari raut wajahnya serta ia tak sadarkan diri. Dengan nada serak ibu Kayla berteriak memanggil suaminya. Tak lama Kayla pun dibawah ke Rumah Sakit. Mikayla Kanaya, gadis yang kerap disapa Kayla dari SMP memang ia sudah memiliki penyakit ginjal yang sudah sangat parah bahkan ia harus tersiksa dengan Cuci Darah yang dijalankannya. Namun ayah serta ibu Kayla belum menemukan pendonor ginjal yang tepat untuk anaknya. Hingga Kayla harus selalu siap menerima sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Dirumah sakit Kayla dibawah keruang UGD untuk pemeriksaan, Dokter juga menyarankan agar Kayla segera dioperasi.
Pernyataan dokter membuat ibu kayla menangis bahkan ayah Kayla sangat bersedih. Kayla merupakan anak gadis satu-satunya yang ia miliki. Setelah diperiksa Kayla dibawah keruang pasien. Ayah dan ibu Kayla menunggu anaknya siuman. Tak membutuhkan waktu lama mata cantik itu pun perlahan-lahan terbuka.
“Sayang, kamu udah sadar?” ucap ibu Kayla mengelus lembut kepala anaknya.
“Ibu, aku kenapa disini bukannya aku sudah sehat?” ucap Kayla meyakinkan ibunya.
“Huussttt.... Iya kamu memang udah sehat.” Ucapnya memaklumi, “Kamu cuman pingsan tadi.” Tambahnya seraya meneteskan air mata.
“Yah, Kak Kevin mana?”
“Kakak kamu masih kuliah, ayah belum kasi tau dia.”
“Kayla pengen pulang Yah.” Pintanya, “Kayla juga mau kesekolah, Kay udah terlambat.” Rengeknya.
“Hari ini enggak usah kesekolah dulu, ayah juga udah izin sama guru kamu”.
“Tapi yah..”
“Udah sayang nurut yah sama ayah”. Ucapnya menggenggam tangan anaknya
“Ayah tolong jangan buat aku terlihat lemah.”
“Enggak anak ayah enggak lemah kamu anak hebat.”
“Kalau begitu Kay sekarang mau kesekolah, anterin Kay atau Kay berangkat sendiri.”
Ayah Kayla tak merespon permintaan anaknya itu, tetapi ibu Kayla menggenggam erat tangan suaminya dan memberikan anggukan. Ayah Kayla pasrah menerima permintaan itu.
“Baik ayah akan mengantarmu ke sekolah.” Ucapnya membantu anaknya turun dari kasur.
***
Kayla sudah siap dengan seragamnya, ayah Kayla mengantar sampai depan pagar sebab Kayla sendiri yang memintanya. Kayla memasuki kelasnya dengan seorang diri ia merasa sedih sebab ia tak mengikuti pelajaran pertama. Saat ia ingin duduk ditempatnya ia melihat tas hitam tengah berada dikursinya.
“Rin, tas siapa?” ucapnya menunjuk tas didepannya itu.
“Ohh itu tasnya anak baru.”
“Terus ngapain lo biarin dia nyimpen tasnya disini.”
“Bukan gue yang nyuruh.” Sanggahnya, “Tapi ibu Gita, katanya karena lo lagi berhalangan hadir jadi sementara anak baru itu duduk disini.” Jelasnya.
“Tapi sementara doang kok kalau lo udah datang dia pindah kebelakang lo.” Tambahnya.
“Yaudah sekarang kan gue juga udah datang jadi sekarang dia pindah kebelakang.” Ucapnya memindahkan tas tersebut kemudian duduk dikursinya.
Tak lama anak baru itu datang bersama dengan Angga entah dari mana mereka. Anak baru itu bingung siapa yang sudah lancang memindahkan tasnya itu kebelakang.
“Lo ngapain duduk di sini.” Ucapnya mendekat.
“Yang mestinya nanya itu gue.” Sanggahnya, “Ini tempat duduk gue, naik kelas dua SMA emang gue udah pilih nih tempat.” Tambahnya sembari berdiri.
“Rese juga ni cewe.” Ucapnya geram.
“Yang rese itu bukan gue tapi elonya, mentang-mentang anak baru.”
“Udah Ray lo duduk dibelakang aja, kan tadi ibu Gita juga udah bilang kalau Kayla udah datang lo duduk dibelakang.” Ucap Angga merangkul kawannya.
“Tuh denger sendiri kan.” Ucapnya menaikkan satu alisnya.
“Songong juga nih cewek okey lo bakal nyesel.” Batin Ray.
Rayhan yang kerap disapa Ray itu terpaksa mengalah sebab dia sadar bahwa dirinya anak baru. Setelah pelajaran kedua selesai baik Rini maupun Angga mengajak kawan sebangku mereka masing-masing untuk ke kantin, namun keduanya menolak. Sehingga Angga serta Rini kekantin tidak bersama Ray ataupun Kayla.
***
Sekarang kelas sudah sepi tinggal Kayla dan Ray yang berada diruangan tersebut. Itupun kesempatan besar yang dimanfaatkan Rayhan untuk membalas perlakuan Kayla. Rayhan menemukan ide ia mencari cicak didalam lacinya dan usahanya tidak sia-sia. Rayhan perlahan-lahan menjatuhkan cicak tersebut dikera baju Kayla agar tidak ketahuan. Kemudian ia mulai memancing Kayla sebab ia sangat penasaran dengan ekspresi wajah Kayla Nantinya.
“Hei, nama lo Kayla kan?” ucapnya sembari duduk dikursi samping Kayla.
“Kenapa? lo mau buat gara-gara sama gue.”
“Lo cantik tapi cuek dan cewek paling cuek yang pernah gue temuin baru kali ini cewek nyuwekin gue biasanya mereka muji dan antri buat dapetin perhatian gue.”
“Terus gue harus muji lo juga gitu, emangnya lo pahlawan.”
“Lo enggak liat tampang ganteng gue, mestinya lo bersyukur bisa dekat sama gue.” Ucapnya menaik turunkan kedua alisnya.
“Pengen muntah gue dengernya.”
“Yaudah muntah gih sana.” Ucapnya memalingkan wajah, “Tunggu dikera baju lo ada apaan tuh?” ucapnya menunjuk.
“Apaan?” ucap Kayla bingung, “Dimana?” Ucapnya meraba-raba bajunya.
“Tunggu lo diam dulu.” Ucapnya perlahan-lahan mendekat kewajah Kayla hingga tersisa jarak satu jengkal.
“Mau ngapain lo, jangan macam-macam.” Ancam Kayla, “Ini orang kenapa dekat banget sih bikin gue risih tau nggak, jantung gue juga kenapa jadi enggak beraturan gini sih.” Batin Kayla.
“Jangan pikir yang aneh-aneh.” Ucapnya membuyarkan lamunan Kayla.
“Gue cuman pengen ambil ini cicak dari kerah baju lo.” Ucapnya memperlihatkan cicak itu tepat diwajah Kayla.
“Aaaahhh...” Pekiknya.
Kayla yang takut refleks berdiri dan melompat-lompat sedangkan Rayhan tertawa puas Kayla yang tak hentinya melompat membuatnya hilang keseimbangan dan menyebabkan dirinya hampir saja terjatuh. Kebetulan saja Rayhan menarik pergelangan tangan Kayla dan menariknya masuk kedalam dekapannya. Kedua tatapan mereka bertemu beberapa detik hingga mereka baru menyadari ada seorang siswa yang melihat adegan mereka berdua.
“Ciee..ciee..” Ucap siswa itu meledek.
Kayla pun membenarkan posisinya begitupun dengan Rayhan dan tak lama ekspresi raut wajah Kayla kembali pucat sembari memegangi perunya.
“Kenapa lo?”
“Esttt... emm enggak kok, enggak apa-apa.” Ucapnya memegangi perutnya.
“Lo lagi datang bulan?”
Namun pertanyaan itu tidak direspon oleh Kayla sebab ia sudah tak bisa menahan sakit diperutnya hingga akhirnya ia pingsan. Untung saja Rayhan dengan cepat menolongnya saat akan terjatuh jika tidak ia akan terbentur kursi. Rayhan pun menggendongnya ke ruang UKS namun Kayla tak sadarkan diri hingga akhirnya ia dibawah ke Rumah Sakit. Rayhan dan Rini ikut mengantar Kayla ke Rumah Sakit Mereka menunggu Kayla didepan ruang UGD.
“Temen lo cemen banget gitu aja udah pingsan.” Ucap Rayhan santai, “Baru juga cicak bukan buaya ataupun kadal yang gue bawa.” Candanya.
“Apa?” ucap Rini syok, “Lo kasi dia cicak?” ucap Rini balik bertanya.
“Asal lo tau dia itu orang yang paling kuat yang gue kenal.”
“Kuat tapi pingsan.” Sindirnya.
“Lo salah dia pingsan bukan karena kecoa.” Sanggahnya, “ Tapi dia pingsan karena penyakitnya, dia sakit ginjal semenjak SMP dan butuh pendonor yang pas karena ginjalnya sudah tambah parah, itu sebabnya di jam pertama enggak masuk karena ayahnya izin kalau dia lagi di Rumah Sakit.” Jelas Rini.
“Seandainya gue yang diposisi dia gue enggak akan sekuat itu jalani Cuci Darah bahkan dia masih kuat buat kesekolah tadi.” Tambah Rini memperjelas.
“Sorry... gue enggak tau maksud gue cuman bercanda.”
“Bercanda!” Ucap Rini makin kesal, “Kalau dia sampai kenapa-napa gue enggak bakalan maafin lo dan gue juga bakalan benci lo seumur hidup.” Ucap Rini penuh penekanan.
“Bego ngapain coba gue ngomong gitu pastilah dia marah besar.” Batin Rayhan.
 Tak lama orang tua Kayla akhirnya datang begitupun dengan Kevin. Dengan sigap Kevin bertanya pada Rini dengan raut wajah yang sangat khawatir.
“Gimana adik gue?”
“Enggak tau kak dokter lama banget.”
“Ahh.. rese kenapa bukan gue aja yang sakit.” Ucapnya memukul tembok.
“Husstt kamu jangan bicara seperti itu.” Ucap ayahnya menenangkan.
Tak lama dokter akhirnya keluar wajahnya begitu lesu. Hingga membuat kedua orangtua Kayla bahkan Kevin terlihat bingung.
“Ada apa dok?” tanya ayah Kevin.
“Kondisinya sudah sangat parah jangan biarkan ia kecapean, apalagi banyak pikiran dia harus selalu tersenyum dan semangat karena sangat berbahaya untuk kondisinya jika ia syok dan tertekan.” Jelas Dokter, “Tapi saya sangat bangga dengan anak bapak ia begitu kuat seandainya dia lemah mungkin nyawanya sudah melayang.” Ucap dokter menegaskan.
“Enggak akan adik saya orangnya luar biasa saya yakin itu.”
“Iya saya tau yang terpenting suport terus dia dan doakan untuk kesembuhannya.”
“Baik dok terima kasih.” Ucap ayah Kevin.
Dokter pun meninggalkan mereka dengan wajah lesu. Keluarga bergantian menjenguk Kayla begitupun Rayhan dan Rini. Hingga tak lama keduanya kemudian berpamitan untuk pulang.
***
Tiba dirumah Rayhan langsung menuju kamarnya untuk mandi lalu mengganti pakaianya dengan baju kaos serta celana pendek selutut. Diambilnya gitarnya dan memulai menyanyikan lagu yang mewakili perasaannya sekarang. Ia membawakan lagu Ungu- Tercipta Untukku.
Menatap indahnya senyuman diwajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesrah tubuhku
Banyak kata yang tak mampu kuungkapkan
Kepada dirimu....
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku disetiap langkah
Yang meyakiniku kau tercipta untukku....
Tiba-tiba ia menghentikan permainan gitarnya. Rayhan mulai mengingat pertemuannya dengan Kayla. Sekarang perasaan Rayhan sedang berkecamuk ia sangat merasa bersalah.
“Kenapa gue buat dia kaya gitu dasar bego.” Ucapnya menaruh gitarnya.
“Mestinya gue buat dia tersenyum suport dia.” Ucapnya beranjak kekasur.
Rayhan memutuskan untuk tidur namun saat sedang memejamkan matanya ia tak bisa menyingkirkan bayangan Kayla mata indah yang sudah membuatnya terhanyut.
***
1 minggu berlalu Kayla tak pernah ke Sekolah membuat Rayhan sangat khawatir ia berpikiran mungkin terjadi sesuatu padanya. Rayhan menanyakan kabar Kayla pada Rini namun Rini juga bingung harus menjawab apa. Tak lama langkah gontai memasuki ruangan, sosok Kayla muncul dan membuat ekspresi wajah Rayhan tersenyum dan senyum itu juga dibalas oleh Kayla sangat manis. Rayhan lalu membantu Kayla menuju kursinya.
“Terima kasih.” Ucapnya sembari duduk, “Barusannya lo baik ada apa nih apa lo mau ngerjain gue lagi.” Ucap Kayla spontan membuat Rayhan terdiam.
“Segitu kejamnya yah gue.”
“Enggak kok cuman bercanda.”
“Lo mau nggak ikut sama gue disuatu tempat.” Bujuknya, “Gue yakin lo bakalan seneng.” Ucapnya penuh harap sembari berjongkok didepan Kayla.
“Kemana bentar lagi bel masuk?”
“Udah, kali ini guru enggak ada yang ngajar katanya ada rapat dadakan.”
“Lo anak baru jangan sok tau deh.”
“Terserah yang pasti lo ikut gue sekarang.” Ucap Rayhan menarik pergelangan tangan Kayla. Kayla tak mengubris ia juga tak berniat melawan sebab ia merasa sangat lemas.
“Lo mau bawa dia kemana?” Ucap Rini bingung.
“Udah gue pinjem teman lo bentar.”
“Gue harap Rayhan bisa buat Kayla semangat dan enggak putus asa.” Batin Rini.
***
Kayla tak melihat apa pun matanya tertutup sapu tangan. Kayla pasrah dan percaya sepenuhnya pada Rayhan. Entah apa yang sekarang dirasakan Kayla ia begitu nyaman berada didekat Rayhan.
“Kita sudah sampai.”
“Iya tapi dimana?” Ucap Kayla tak sabar, “Lo bawa gue kemana sih sebenarnya?”
“Udah lo nurut sekarang gue bakalan buka tutup mata lo”.
Perlahan-lahan mata Kayla terbuka ia mulai melihat apa yang ada disekitarnya. Danau yang begitu indah serta ayunan yang tergantung disebuah pohon besar.
“Wauu... Cantik banget.”
“Iya cantik aku enggak tau aku begitu terhanyut pada sebuah tatapan indah.” Ucap Rayhan melirik.
“Maksudnya?”
“Lupakan mungkin lo salah dengar.” Ucapnya lalu menarik pergelangan tangan Kayla.
“Sekarang lo duduk disini gue ambil sesuatu dulu.” Ucapnya membantu Kayla duduk di ayunan. Kemudian tak lama ia kembali dengan sebuah gitar. Rayhan mulai menyanyikan lagu dari CJR-Jika Bisa Memilih.
Yang ku punya apakah selamanya
Biar-biar waktu yang menjawabnya
*Jika... bisa... aku untuk memilih
Kuingin apa yang ada begini tuk selamanya
Disetiap cerita pasti ada akhirnya
Disetiap suka ada duka
Apapun yang kan terjadi
Ingat kita pernah berada disini
Jangan pernah lupakan kita
Semua suka duka cerita bersama
Simpanlah dihati....
Back to *
Air mata Kayla tak terbendung lagi entah mengapa laki-laki didepanya itu terlihat seperti Malaikat yang dikirim Tuhan mengisi kekosongan yang tengah ia rasakan sekarang. Rayhan yang melihat air yang begitu jernih mengalir dipipi gadis yang sudah mengisi hatinya itu. Membuat Rayhan menghentikan permainan gitarnya dan didekatinya Kayla lalu ia usap air mata itu dengan jemarinya.
“Kenapa lo nangis suara gue jelek yah?” sembari mengusap air mata Kayla.
“Haaahaaha..... Enggak suara lo bagus banget.” Ucap Kayla sedikit tertawa.
“Terus kenapa nangis?”
“Enggak terharu aja lo romantis juga.”
“Kay gue punya sesuatu buat lo.” Ucapnya menggenggam tangan Kayla.
“Apa?”
“Lo mau nggak jadi pacar gue, kalau lo mau lo pake gelang ini tapi kalau nggak lo buang aja nggak apa-apa.” Ucap Rayhan berlutut.
“Maaf Ray gue nggak bisa gue itu penyakitan.” Ucapnya Berdiri lalu beranjak untuk pergi, namun seketika tangan Rayhan menggenggam erat tangannya.
“Gue suka sama lo Mikayla Kanaya gue enggak tau kapan rasa ini ada yang gue tau rasa ini indah.” Teriaknya.
“Gue tau lo lagi sakit tapi gue lebih sakit kalo lo nolak gue.” Bujuknya.
“Tapi gue nggak bisa.” Kayla melepas tangan Rayhan dengan paksa dia berlari dan meninggalkan Rayhan, “Gue nggak mau lo suka sama gue karena kasihan.” Batin Kayla.
Rayhan mengejar Kayla ia takut terjadi hal yang tak diinginkan. Seketika hujan turun Kayla berlari begitu cepat hingga ia tergelincir dan terjatuh diaspal. Kakinya tak bisa digerakkan hingga Rayhan datang mengulurkan tangannya. Kayla tak bisa menolak ia meraih tangan itu. Ditariknya Kayla untuk berdiri dan seketika dari arah yang tak jauh dari mereka motor melaju dengan kecepatan tinggi. Rayhan yang sadar akan hal itu mendorong Kayla dan membuat Rayhan terserempet motor. Pengendara itu kabur Kayla histeris.
“Rayhannn...” Teriak Kayla mendekat.
“Lo jangan takut gue enggak apa-apa.” Nada rehan pelan ditambah derasnya hujan.
“Ray gue sebenarnya juga suka sama lo gue mau jadi pacar lo tapi lo bangun.” Ucapnya sembari air matanya mengalir. Rayhan tak menjawab ia hanya memberi senyuman.
“Lo lihat gue bakalan pake gelang ini.” Ucap Kayla mengenakan gelang itu. Namun Rayhan sudah tak sadarkan diri.
***
Sesampainya dirumah sakit Rayhan langsung dibawah keruang operasi karena benturan keras dikepalanya. Begitupun dengan Kayla ia sudah tak sadarkan diri dan dirinya juga sudah diruang operasi. Dokter mengatakan bahwa ia telah menemukan pendonor yang tepat untuknya. Operasi akhirnya berjalan lancar suatu kabar baik sekaligus kabar buruk yang harus Kayla dengar. Saat Kayla sadar dia terus mencari Rayhan menanyakan apa orang yang tengah ia harapkan itu baik-baik saja.
“Ayah... Kay kenapa disini?” ucapnya ingin bangun, “Bukannya Kay tadi anterin Rayhan ke Rumah Sakit.” Ucapnya menarik tangan ayahnya.
“Iya, Rayhan juga lagi dioperasi sayang, dan ada kabar baik yang mesti kamu dengar.”
“Apa?”
“Kamu juga sudah dioperasi, kita sudah temukan pendonor yang tepat, sekarang kamu sudah benar-benar sahat.” Ucap ayah Kayla tersenyum dan ibu Kayla memeluk putrinya dengan begitu erat sedangkan Kevin mengusap-usap kepala adiknya.
Tiba-tiba Rini masuk keruangan perawatan Kayla dengan muka yang bingung seperti ada yang ingin ia sampaikan. Ayah serta ibu juga Kevin mengerti akan hal itu membiarkan Rini dan Kayla berdua.
“Kenapa Rin?” Ucapnya lalu duduk yang tadinya ia baring dikasur.
“Ada surat dari Rayhan buat lo.” Rini kemudian memberikan surat itu.
Kayla yang penasaran menerima surat tersebut dari tangan Rini. Kayla kemudian membaca isi surat yang tengah ia pegang.
Kayla, nama indah yang selalu ada dipikiranku aku tak mengerti kapan rasa ini datang menghampiri. Yang pasti, kala senja telah hilang aku juga akan membuktikan bahwa cintaku tulus, luas bahkan tak berbatas. Aku selalu menyimpanmu dihati walau aku harus isin kepadamu untuk pergi sebab aku tau kamu pasti tak mengisinkanku pergi atau hanya aku yang kepedean. Haaahaa....
Jangan menangis membaca surat ku sekarang kamu tersenyumlah sebab mengapa aku tau kamu sudah mendapat pendonor yang tepat. Meski sekarang aku tak disampingmu kamu harus tetap menjalani hidup sebagai mana mestinya. Kamu ingat kita bertemu tak saling mengenal maka jika aku pergi tak sulit kan buat kamu untuk lupa. Aku pergi Ratu Cengeng yang mesti kamu tau aku tak pernah mencari mu maka jangan pula mencariku sebab cinta akan mempertemukan kita.
                                                                                         Rayhan, untuk Kayla
                                                                             Always, I love you....... Kekasihku.
“Rayhannnn... Jangan pergi!” Teriaknya.
“Itu surat terakhir Rayhan dia udah meninggal dia bilang sama gue lo jangan kepemakamannya atau dia akan teramat sedih.”
“Apa jangan-jangan yang mendonorkan ginjalnya, Rayhan?”
“Bukan, Ginjal yang ditubuh lo itu ginjal cewek, gue yang kasi tau Rayhan sebelum operasi kalau lo udah dapat pendonor.” Jelas Rini, “Maaf Kay ada Rahasia yang nggak mesti lo tau dan gue yakin cinta lo bakalan kembali.” Batin Rini kemudian ia memeluk Kayla untuk menenangkan.
***
-2 Tahun kemudian-
Kayla sudah lulus SMA dan Kuliah di Universitas yang selama ini dia impikan. Hari yang melelahkan untuk Kayla ia duduk ditaman belakang kampusnya tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Kayla mulai bernostalgia mengingat hujan yang mengantar kekasihnya pergi meninggalkannya. Ia tak berniat berteduh sebab ia sudah terlalu lama menunggu disela hujan ia selalu berharap Rayhan kembali walau itu tak mungkin.
“Hujan.... kamu begitu pintar mengundang ingatan yang susah terkubur walau yang selalu ada di ingatan ia terlebih dulu terkubur.” Ucapnya merentangkan tangannya.
Tak lama lelaki bertubuh tinggi namun ia menggunakan penutup wajah berupa masker perlahan-lahan mendekati Kayla. Lelaki itu menghentikan ingatan Kayla seketika tentang Rayhan.
“Ngapain main hujan-hujan, nanti kamu sakit.” Bisiknya ditelinga Kayla.
“Kamu siapa?” ucap Kayla berbalik badan.
“Kamu tunggu sebentar ada yang ingin aku ambilkan.” Ucap lelaki itu pergi dan kembali dengan sebuah gitar. Kayla kemudian teringat dimana Rayhan melakukan hal yang sama.
Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu The Overtunes- Sayap pelindung. Alunan lagu dan gitar yang seirama membuat Kayla tak berhenti takjub. Kayla merasa mengenal suara itu. Selesai membawakan alunan lagu tersebut. Lelaki itu kemudian melepas masker yang tadinya menutup wajahnya dan penantian itu sirna.
“Rayhan?” Ucapnya langsung berlari memeluk Rayhan.
“Iya aku Rayhanendra orang yang pernah ditolak cintanya.”
“Aku enggak mimpikan, bukannya kamu udah meninggal.” Ucapnya melepas pelukan.
“Aku nggak pernah mengatakan aku meninggal, aku cuman bilang aku pergi.” Jelasnya.
“Sebenarnya yang mendonorkan ginjalnya itu aku dan kemudian orang tua ku membawaku ke Singapure untuk pengobatan, aku enggak mau kamu marah jadi aku terpaksa buat surat dan bilang sama Rini kalau aku meninggal, supaya kamu enggak tersiksa untuk menunggu. dan aku juga takut kalau pada akhirnya aku memang benar meninggal itu tak akan menyakitkanmu lagi.” Jelasnya kemudian menaruh gitarnya dan berlutut didepan Kayla.
“Mikayla Kanaya dibawah langit yang sama aku mengatakan mau kah kamu menjadi milikku?” Ucap Rayhan sembari menggenggam kedua tangan Kayla.
“Enggak aku benci sama kamu.” Ucap Kayla melepas genggaman Rayhan.
“Tapi kenapa kamu masih menggunakan gelang itu? sudahlah kalau begitu aku pergi.” Ucapnya berdiri.
“Yaudah balik gih sana.” Ucapnya masih dengan kekesalan.
Rayhan tak menjawab ia membalikkan badan dan ingin melangkah pergi, namun seketika Kayla berlari dan memeluknya dari belakang.
“Jangan pergi lagi aku enggak mau tersiksa kembali.” Ucapnya meneteskan air mata.
“Aku tau kamu tak akan membiarkanku untuk pergi.” Ucapnya melepas pelukan Kayla.
“Sekarang kamu jawab mau atau nggak?” Ucapnya saat mereka sudah berhadapan.
“Aku mau Rayhanendra, mau menjadi milikmu, sebab cintaku lebih kuat dari Rindu.”
*Selesai*

Biodata:
Mila Amalya Munir yang kerap disapa Mila lahir didesa yang terletak di Kab. Soppeng, Sulawesi selatan yakni Lewa-lewa 02 Agustus 1998. Ia lahir dari rahim seorang Ibu yang cantik bernama Jamila serta memiliki seorang Ayah yang hebat bernama Munir, Mila merupakan Anak pertama dari 3 bersaudara yakni Nirwana dan Rahmat Yusri. Ia merupakan gadis penyuka Hujan serta warna Biru dan Hijau. Mila tengah menempu pendidikan-nya sekarang di Universitas Muhammadiyah Makassar dengan mengambil jurusan Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobby-nya gemar membaca baik Cerpen maupun Novel ia juga suka dengan Puisi. Cerpen ini dibuat 16 Desember 2017 Terima Kasih.


Sabtu, 28 April 2018

Cerpen Sepuluh Halaman


KURINDUKAN PELUKMU DIUJUNG SENJA
Mila Amalya Munir (23 November 2017)

Aku selalu berfikir kenapa hidup ini tak selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan, bukankah hidup adalah sebuah pilihan, namun hidup yang aku jalani serasa kurang dari apa yang ku bayangkan. Walau aku memilih ingin begini dan begitu, namun ada pilihan yang tidak bisa aku wujudkan dalam kehidupanku.
Menurut ku pilihan yang aku inginkan itu bukanlah menyalahi kodrat ku dari sang pencipta namun, bagi setiap orang yang mendengar mungkin ia menganggap ku naif tapi seandainya aku diberikan satu permintaan didunia ini aku ingin sekali itu menjadi nyata bahkan jika aku harus terlahir kembali.
***
Matahari yang begitu indah dipagi yang nampak cerah dari sudut kamar yang tak begitu luas terlihat sepasang mata yang hangat memandang jalanan yang mulai terlihat ramai dari sudut jendela. Entah apa yang terlintas dibenaknya, yang dia tau sekarang dia harus berangkat kesekolah. Tak lama terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya, “Tok....tok....tokkk.”
“Iyaa masuk.” Teriaknya mempersilahkan.
Pintu kamar pun sedikit demi sedikit terbuka hingga nampak sosok wanita yang tepat dipanggil ibu, ia berdiri tepat selangkah didepan pintu.
“Kamu kenapa diam saja, kamu nanti terlambat kesekolah.”
“Iyaaa bu, ini juga baru selesai pakai baju.” Ucapnya berdiri lalu melangkah keluar dari kamar namun terhenti tepat disebelah ibunya.
“Kamu kenapa, apa kamu sakit?” ucapnya saat gadis itu tepat disampingnya.
“Tidak bu, aku baik-baik saja aku berangkat.” Ucapnya sembari menyalim tangan ibunya kemudian berlalu pergi.
“Anak itu setiap pagi selalu saja seperti itu, Amelia kamu selalu membuat ku khawatir.” Batinya sembari melihat punggung anaknya hingga tak terlihat lagi.
Gadis jelita yang bernama, Amelia cahya putri yang kerap disapa Amelia setiap paginya memang selalu melamun didepan jendela. Amelia Tak pernah mengungkapkan apa yang ada dibenaknya.
***
Hari-hari berikutnya berlalu seiring bergantinya waktu Amelia tetap sama gadis murung yang tak pernah tau menyampaikan apa yang mengganjal dihatinya. Selama ini lewat buku Diary-nya ia hanya mampu melukis perasaan lewat pena menggaris kata demi kata dan membentuk sebuah makna tepat pada senja hari yang tenang ia menuangkan isi hatinya disebuah buku berwarna coklat tua dimeja belajarnya. Tepat hari itu iya menulis ungkapan perasaannya didalam sebuah Diary coklatnya.
Heii... Diary apa kamu masih ingat keinginan yang ku utarakan padamu, kapan aku bisa merasakan saat itu? saat dimana aku memiliki tempat untuk curhat layaknya kawan dekat bahkan orang yang siap menjaga ku, menyayangiku, ada saat aku perlu dialah kakak yang selama ini aku tunggu. Aku sadar itu takkan mungkin ku miliki sebab aku terlahir sebagai anak tunggal aku ingin sekali memiliki kakak untuk tempat ku bercerita tentang begitu kejam hidup ini aku tak ingin menyalahi takdir ilahi namun itulah harapan ku sejak lama. Aku selalu iri pada teman ku yang memiliki seorang kakak. Aku selalu iri Diary saat mereka punya kakak yang selalu siap mengantar mereka kesekolah setiap pagi, sedangkan aku. Ibu ku orang tua tunggal yang ku miliki sekarang namun ia sibuk dengan bisnisnya semenjak Ayah tiada. Diary aku hanya minta sampaikanlah pada tuhan apakah iya bisa mengirimkan kakak untukku walau aku harus terlahir kembali. Apa salah aku ingin merasakan apa yang mereka rasakan? sebab aku hanya berteman dengan kesepian serta kesunyian.
12 Maret 2011
Aku ingin kakak ku datang
Dalam harapan yang terpendam!!!
Senja pun menutup sore itu, sore yang begitu damai Amelia hanya menghabiskan waktunya dikamar belajar dan belajar seperti kemauan ibunya yang juga membuat Amelia tertekan, disertai kurangnya kasih sayang dari ibunya karena kesibukan yang ia punya, walau ibunya terkadang bertanya apakah ia baik-baik saja, namun bukan itu yang Amelia mau. Pertanyaan apakah keadaanya baik-baik saja bukan itu tapi Amelia hanya membutuhkan sedikit waktu luang untuk bersama. Hingga Amelia pun terlelap dalam tidurnya dimeja belajar. Tiba-tiba langkah kaki mendekat pada tubuhnya yang begitu tenang yang tidur dengan nyaman dimeja belajar.
“Maafkan ibu karena bisnis keluarga ibu jarang meluangkan waktu untukmu.” Sembari mengusap kepala Amelia.
“Ibu ingin bisa selalu bersamamu tapi keadaan yang membuat ibu harus begini, ibu harap kamu bisa mengerti ibu melakukan ini semata-mata untuk kebahagiaanmu.” Air matanya pun mulai mengalir membanjiri pipinnya yang sudah sedikit keriput.
“Sebentar lagi umurmu akan menginjak 17 tahun kamu akan menjadi anak yang lebih dewasa lagi dan ibu harap kamu mengerti keadaan ibu yang sekarang.” Tambahnya lalu pergi karena ia sudah tak bisa membendung rasa bersalahnya.
Amelia pun terbangun ia merasa rambutnya sedikit basah, ia juga merasa seperti ibunya datang menemuinya.
“Apa aku hanya bermimpi.”
“Entah tapi kenapa kepalaku serasa ada air yang membasahi.” Tambahnya
“Sudahlah Amelia mungkin hanya perasaanmu saja, mending sekarang aku tidur.” Ia kemudian berjalan ke kasurnya dan berbaring hingga matanya terpejam.
***
Esoknya Amelia berangkat kesekolah dengan berjalan kaki walau ibunya selalu meminta ia kesekolah diantar supir namun ia selalu lebih memilih untuk berjalan kaki terbiasa juga dengan naik angkot ia beranggapan dengan begitu ia berjumpa dengan banyak orang dan sedikit melupakan masalahnya menurutnya sederhana lebih menyenangkan, dari situlah ia bisa melihat kebersamaan keakraban orang-orang disekitarnya dan itulah yang tidak ia punya. Ditengah perjalanan ia menyebrang ke jalan raya ia melihat tampak seorang anak kecil yang tengah menangis duduk di depan toko. Namun saat ia menyebrang tiba-tiba ada mobil dari sebelah kiri begitu cepat melaju ke arahnya.
“Aaahhh.” Pekiknya
Tapi seorang lelaki bertubuh ramping tegak dan lebih tinggi darinya datang mendorongnya dan membuat ia tersungkur. “Brruuukk...” laki-laki itu terjatuh, laki-laki itupun kemudian dilarikan kerumah sakit sedangkan Amelia ia terlebih dahulu kearah anak yang tadinya ia lihat sedang menangis.
“Adekk kenapa nangis?” Tanyaku.
“Aa..ku mencari kakak ku ia pergi membelikan ku es cream.” Ucapnya menangis tersedu-sedu dan terus menunduk dengan memeluk kedua lututnya.
“Kamu jangan nangis kakak kamu pasti balik lagi kesini.”
“Tidak aku sudah lama menunggunya, ini salah ku kak tadi kakak ku memintakku untuk menunggunya disini tapi aku malah mengejar tukang penjual balon.” Jelasnya panjang lebar
“Nama kamu siapa?” Ucapnya tersenyum.
“Aku Aska kak.” Anak itu pun berhenti menunduk dan membalas senyum Amelia walau raut wajahnya masih terlihat sedih.
“Kamu mau nggak ikut dengan kakak, kakak janji bantu kamu cari kakak kamu tapi kita kerumah sakit sebentar yah.” Bujuknya.
“Kita ngapain kesana kak?”
“Tadi saat kakak mau kesini kakak hampir tertabrak dan ada orang yang nolongin kakak jadi kakak harus melihat kondisinya terlebih dahulu.”
“kakak juga tidak tega ninggalin kamu disini sendiri.” Tambahnya.
Anak itu pun berdiri dan ikut dengan Amelia kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Amelia langsung keruang Administrasi untuk membayar semua biaya rumah sakit laki-laki yang sudah menolongnya tadi. Kemudian Amelia membesuk laki-laki tersebut diruang UGD diruangan itu ia tampak melihat laki-laki itu bangun dari kasur tempatnya diperiksa.
“heiii... kenapa kamu bangun.” Ucap Amelia saat ia sudah didekat laki-laki itu.
“Udah enggak apa-apa kok santai aja kalie.”                                             
“kamu tuh baru aja ditabrak bisanya udah mau pulang.” Ucapnya dengan muka khawatir.
“Hahaha.... luka gini aja dokter bilang ini cuman luka ringan.”
“Luka ringan haa.. asal kamu tau kalau ada apa-apa sama kamu ini salah ku.” Ucapnya tiba-tiba air yang begitu jernih mengalir dipipinya.
“Aku minta maaf tapi serius aku enggak apa-apa, lagian kamu tadi nyebrang kenapa enggak liat-liat dulu.”
“Ini memang salah ku aku juga minta maaf.” Ucapnya menghapus air matanya.
“Emang cewek gini yah pintar nyembunyiin sesuatu bahkan jika dia juga terluka dia lebih mikirin orang lain.
“Maksud kamu.”
“Kamu enggak sadar lutut kamu juga terluka.”
“Dasar cewek sok kuat udah gih urusin tuh luka aku mau pulang enggak usah khawatirin orang kalau kamu aja enggak khawatir dengan dirimu sendiri.” Ucapnya lalu melangkah keluar dari ruangan.
“Dasar cowok aneh diperhatiin ngomel-ngomel.” Ucapnya membatin kemudian ia juga keluar dari ruangan itu.
Amelia kaget saat ia keluar ia tak melihat Aska yang tadi ia tinggal sebentar dikursi depan ruang UGD. Amelia pun berlari keluar rumah sakit ia nampak kaget sesampainya diluar ia melihat Aska berjalan bersama laki-laki itu.
“Askaa.”
“Kakak.” Ucapnya menengok dan tersenyum.
“Kamu mau bawa anak ini kemana apa jangan-jangan kamu.” Ucapnya menghampiri.
“Dasar kamu memang cewek yang paling Aneh udah sok kuat sekarang sok tau.”
“Bukannya sok tau kan jaga-jaga, lagian kamu mau bawa dia kemana?.”
“Bawa pulanglah, masa aku tinggalin adik aku di rumah sakit.”
“Adikk.. Aska adik kamu?”
“Iyaa-lah masih enggak percaya.”
“Jadi kamu yang buat dia nunggu kamu sampe nangis.”
“Asal kamu tau dia takut kamu enggak balik-balik.” Tambahnya
“Kamu ngapain marah-marah sama aku, aku juga nyariin aska kemana-mana.”
“Tapi kenapa kamu nya lama banget dia hampir ngira kalau dia udah hilang.”
“Kak aku kan tadi udah bilang ini salah aku kakak memintaku menunggu tapi aku.” Ucapnya menunduk merasa bersalah.
“Dia juga salah dek kenapa dia memintamu menunggu sendirian disana kalau ada yang nyulik kamu gimana siapa yang tanggung jawab”. Ucap Amelia sangat jengkel
“Kamu kalau enggak tau yang sebenarnya enggak usah ikut campur dan sok tau.” Ucap laki-laki itu juga ikut kesal.
“Tadi dia sendiri yang pengen nunggu disitu karena dia capek buat jalan aku juga memintanya menunggu sebentar, tapi saat aku balik dia pergi aku cari-cari enggak nemuin pas aku mau nyebrang aku lihat kamu ditengah jalan yang hampir ditabrak mobil dan gara-gara itu aku kerumah sakit terus.” Ucapnya terpotong.
“Udah-udah iya aku minta maaf tapi itu juga karena aku liat Aska yang duduk didepan toko sambil nangis, jadi bukan sepenuhnya salah aku.”
“Capek ngomong sama cewek aneh kaya kamu bisanya nyalahin bukannya terima kasih.” Ucapnya lalu pergi.
Amelia hanya terdiam ia lalu pulang kerumahnya dengan naik taxi. Di rumahnya ia masih membayangkan kejadian tadi sore menimpanya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba hari dimana Amelia berganti umur yang kini umurnya telah genab 17 tahun. Ia tak meminta apa-apa yang hanya ia inginkan ibunya hadir dipesta Ulang Tahunnya. Pesta Ulang tahunnya dipersiapkan dengan begitu meriah oleh teman-teman terdekatnya disebuah taman kompleks perumahannya. Taman itu didekorasi dengan sedemikian rupa perpaduan warna putih dan biru nuansanya begitu indah serta tertata dengan rapi. Tamu yang diundang pun berdatangan yakni teman sekolahnya bahkan laki-laki yang beberapa hari yang lalu menolongnya pun datang.
“Kamu.” Ucap Amelia kaget saat melihat kedatangan laki-laki itu.
“kenapa?” Ucapnya santai.
“Kalian udah pada kenal?” tanya laki-laki teman satu kelas Amelia.
“Iya, cewek ini yang buat aku masuk rumah sakit.” Sindirnya.
“Kemarin kan aku udah minta maaf.”
“Udah kenapa pada berdebat sih.” Ucapnya sembari memberikan kado pada Amelia
“Selamat Ulang Tahun yah.” Tambahnya
“Iya makasih yah, Raka.” Ucapnya mengambil kado tersebut dibarengi dengan senyum
“Jadi yang Ulang tahun tikus jelek ini.”
“Whattt tikus?”
“Sorry... sorry Amelia sepupu gue rada gitu orangnya.”
“Loh jaga sikap dong kan gue enggak enak sama yang punya acara.” Bisiknya.
“Kalau gue tau loh ngajakin gue kepesta dia, gue enggak bakalan kesini tau.” Balasnya.
“Udah dari pada loh bosan dirumah, udah gih kasi tuh kado.” Ucap Raka menyeggol lengan sepupunya.
“Males banget.”
“Radit udah kasi kenapa si luh.” Bentaknya.
“Jadi nama loh Radit Pantes.”
“Apa?” Ucapnya penasaran.
“Radit, Rada Idiot hahaaaa.” Ucapnya dibarengi tawa kemenangan.
“Puass loh ambil ni kado, semoga jadi dewasa dasar kekanakan.” Ucapnya kesal memberikan. kadonya lalu pergi tidak jauh dari pesta.
“Apa aku salah ngomong yah.” Ucapnya membatin
“Bukannya dia yang kekanakan gitu aja marah, dasar cowo sensi.” Ucapnya ngedumel sendiri
Acara pun akan segerah dimulai semua tamu undangan mendekat kemeja bundar tempat kue ulang tahun Amelia berada. Amelia hanya diam ia menengok kiri dan kanan mencari keberadaan seseorang, namun sosok itu tak ditemukan. Saat kue sudah ditiup Amelia berlari meninggalkan acara Ulang tahunnya, ia berlari menuju kursi taman yang tidak jauh dari pestanya.
“Kenapa sih aku enggak pernah sedetik pun diperhatikan, kenapa ibu ku lebih mementingkan pekerjaannya dari pada anaknya sendiri, andai Ayah masih ada pasti aku enggak akan ngerasain kaya gini atau andai aku punya kakak sebagai teman curhat aku enggak akan pernah ngerasain sendiri.” Ucapnya begitu sedih.
“Kamu enggak pernah sendiri, kamu punya orang tua yang menyayangimu.” Ucap sosok yang entah dia siapa.
“Kamu siapa?” ucapnya menengok ke arah sosok itu.
“Aku Yuda kamu kenapa disini malam-malam?” ucapnya lalu duduk disamping Amelia.
“Aku enggak apa-apa.” Ucapnya menyapu air matanya
“Terus kenapa kamu nangis?” sanggahnya “Bahkan merasa kamu enggak diperhatiin.”
“Sebenarnya hari ini umurku genab 17 tahun tapi ibu ku tidak datang keacara ulang tahunku ia lupa dan sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Ayahku ia sudah menjadi bintang yang bersinar dilangit sana.” Ucapnya mulai meneteskan air matanya kembali.
“Kamu jangan bersedih umur kamu juga udah 17 tahun itu juga ibu kamu lakuin buat hidup kamu kedepannya seandainya dia tidak menyayangimu dia tidak akan bekerja lembur dan selarut ini jika bukan hanya untukmu.” Bujuknya.
“Udah kamu jangan bersedih, kamu boleh menganggapku sebagai kakak mu kalau kamu sedih kamu luapkan saja kesedihanmu padaku aku siap menanggungnya.” Ucapnya sembari menghapus air mata Amelia.
“Kenapa kamu baik pada ku kita baru bertemu.” Ucapnya tersenyum.
Yuda tak menghiraukan kata-kata Amelia ia meneruskan bercerita, Yuda bercerita tentang dirinya. serta bagaimana ia menjalani sebuah hidup.
“Mungkin kamu mengira didunia ini kamu orang yang paling sendiri kamu lebih salah karena sebenarnya didunia ini ada yang lebih sedih bahkan sendiri, kamu tidak tau aku didunia ini hanya tinggal seorang diri dipanti asuhan aku tak tau dimana kedua orang tua ku bahkan aku tak tau apa kah aku punya saudara atau tidak, yang aku pikir mungkin orang tuaku sudah meninggal.” Ucapnya mulai bercerita.
“Setiap saat aku berharap bisa punya seorang adik perempuan yang cantik selalu merengek padaku, membuatku tertawa dengan tingkah lucunya, tapi semua itu tidak pernah aku rasakan bagiku mungkin dengan adanya gadis kecil itu masalahku bisa sedikit berkurang.” Tambahnya.
“Aku juga sangat ingin memiliki kakak yang selalu ada buat ku, bahkan aku selalu iri pada temanku yang memiliki seorang kakak.” Ucapnya tersenyum
“Kak Yuda mau enggak kalau aku menganggap mu sebagai kakak ku.” Ucapnya penuh harap.
“Pliss beri aku kesempatan bisa menjadi adikmu.” Ucapnya memohon.
“Aku janji tidak menyusahkan mu, pliss... Ayolah kak.” Tambahnya.
“Kamu enggak takut kalau aku orang jahat yang menyamar dan kamu memintaku menjadi kakak mu permohonan apa itu.” Ledeknya.
“Pliss kak bukannya kakak ingin punya adik perempuan.” Rengeknya.
“Iya tapi bukan yang cengeng.”
“Aku enggak cengeng serius.” Ucapnya meyakinkan.
“Tapi tadi nangis.” Ucapnya mengacak rambut Amelia.
“Enggak anggap aja tadi kelilipan.” Ucap Amelia cemberut.
“Hahahaa, iya deh kelilipan.”
“kakak kenapa ngeledek sih.” Ucapnya mencubit lengan Yuda.
“Iyaa.. aduhh aduh sakit,” ucapnya meringis, “kakak mau ko jadi kakak kamu.”
“Beneran?” ucapnya berdiri dengan antusias dan dibarengi anggukan oleh Yuda.
“Yehhh Ayah aku punya kakak aku tau Ayah juga seneng kan disana yeye...yeye... aku juga punya kakak.” Teriaknya.
“Hussttt udah malam jangan berisik atau aku tarik tadi permintaan itu.”
“Iya dehh aku tuh seneng banget akhirnya permintaanku dikabulkan.” Ucapnya Kembali duduk.
“Oh iya selamat Ulang Tahun yah doa yang terbaik untukmu maaf kakak tidak punya kado.” Ucapnya lalu mencubit pipi Amelia.
“Tidak apa, kak Yuda jadi kakak ku saja sudah jadi kado terindah.”
“Aku jamin kamu akan bahagia selalu dan aku juga akan selalu mengusap air  matamu disaat sedih.”
“Aku juga jamin karena kakak sudah ada disampingku aku enggak akan pernah sedih asalkan kakak juga tidak akan pergi.”
“Iya kakak pasti akan selalu disini disampingmu, menemani serta menjagamu bagaimana kamu sudah puas.”
“Haaahhaa.... Puasss.” Ucap Amelia dan Yuda bersamaan.
Mereka pun tertawa bersama serta Amelia tak mampu menyembunyikan perasaan bahagia tatkala apa yang ia harapkan sudah ada didepan mata.
***
Hari-hari Amelia pun menjadi lebih berwarna semenjak kedatangan Yuda namun hari yang tak pernah Amelia nantikan pun tiba ternyata Tuhan berkehendak lain ia harus menjadi Amelia yang dulu lagi sunyi bersama kesendirian sebab Yuda menghadap takkdirnya terlebih dahulu ia mengalami kecelakaan ia terjatuh saat melakukan panjat tebing saat Adventure bersama kawan-kawannya didaerah puncak. Dihari kematian Yuda Amelia sangat terpukul bahkan ia mengurung diri dikamar. Hingga seorang teman Yuda menitipkan surat terakhir yang Yuda berikan untuk Amelia. Amelia pun membaca isi surat terakhir dari Yuda.
“Bahagia” itulah kata yang menggambarkan perasaanku sekarang ini, bisa memilikimu bisa menjaga dan menggengggam tangan mu tapi entah apa yang aku rasakan akhir-akhir ini aku merasa tidak akan barada dekat lagi disampingmu. Aku merasa seakan aku akan ke suatu tempat yang jauh mungkin bertemu kedua orang tua ku. Aku begitu bahagia punya gadis kecil sepertimu adik yang begitu aku sayangi tapi kakak tidak bisa berjanji untuk selalu bersama serta menjagamu kakak takut ada saatnya kakak akan membuatmu kecewa. Tapi kamu jangan pernah merasa sendiri sebab kakak tau kakak akan selalu ada dihati mu. Jika terjadi sesuatu pada ku kamu jangan bersedih terlalu lama atau aku tidak akan melihatmu lagi. Kita tak pernah tau takdir.
Bahkan kita bertemu karena takdir jadi jika kita berpisah itu juga karena takdir dan jangan pernah kau sesali karena pasti ada hikma disetiap pertemuan dan perpisahan ini. Kamu harus tau kakak sangat sayang padamu bahkan jika seluruh hidup kakak harus kakak berikan padamu dan hanya itu yang bisa membuatmu bahagia akan kakak berikan. Itu karena kakak begitu sayang padamu walau hubungan kita masih singkat tapi kakak yakin hubungan ini tidak akan berubah dan putus walau kita terpisah.
                                                                                         10 Oktober 2012
                                                                                         Yuda Prayoga
                                                                 (Untuk Gadis kecil ku, aku menyayangimu)
Air mata Amelia tidak dapat dibendung lagi ia meluapkan semua perasaannya. Pada senja yang tak lagi sama. Amelia memutuskan ke taman dimana ia pertama kali bertemu dengan Yuda disana ia mulai mengenang apa yang pernah terjadi 1 tahun silam.
“Ditempat ini kita bertemu serta pertama kali kau menghapus air mataku waktu cepat sekali berlalu hingga Tuhan menjauhkanmu dari ku.” Air matanya pun mulai mengalir.
“Seperti kata mu aku tak menyesali pertemuan itu bahkan aku sangat bersyukur bisa merasakan pernah digenggam oleh tangan penyayang sepertimu, kakak aku rindu kakak sekarang kamu sudah tak seperti dulu dan tak menepati janji mu lagi.”
“Kau akan selalu membuatku bahagia menghapus air mataku jika sedih sekarang dimana dirimu berada.” Ucapnya terisak.
“Ini ambil hapus air matamu.” Ucap Radit memberi sapu tangan.
“Kamu kenapa disini?” ucapnya lalu mengambil sapu tangan dari tangan Radit.
“Enggak penting, yang penting kenapa kamu duduk sendiri disini?” ucapnnya heran.
“Sebentar lagi akan gelap.” Tambahnya.
“Kamu enggak tau sore seperti inilah yang aku rindukan dimana senja tiba, aku kangen dengan seseorang yang memelukku pada senja seperti ini namun baru sebentar ia menjadi kakak ku tapi Tuhan lebih menyayanginya.”
“Tapi sekarang aku benci senja dia tak lagi sama.”
“Senja itu indah yang membuatmu tak menyukainya karena kenangan yang ia bawa, mestinya kamu bersyukur masih bisa mengenangnya saat senja.” Ucapnya lalu memandang langit sore yang nampak kemerahan sore itu.
“Kamu benar senja memang indah tapi ia cepat sirnah dan tergantikan oleh gelap seperti kak Yuda yang hanya datang seperti mimpi lalu pergi.”
“Tapi kamu salah bukannya senja yang mengantarkan kita untuk melihat Bintang dia rela sirna dan digantikan oleh Bintang seperti halnya Yuda dia juga sudah menjadi bintang disana.” Ucapnya menunjuk langit.
“Senja sampaikan kepadanya aku merindukan peluknya.” Batin Amelia.
Amelia memulai kehidupannya yang baru iya mulai belajar untuk ikhlas bahwasanya apa yang ada didunia ini memang takkan ada yang abadi. Serta memang ada saat dimana kita harus ditakdirkan seorang diri. Amelia sangat bersyukur setidaknya ia pernah merasakan sosok seorang kakak walau itu tak bertahan lama. Tapi yang perlu ia sadari bahwa hidup yang ia miliki mungkin lebih baik dari seseorang yang ada diluar sana serta dengan kehadiran Yuda adalah suatu hal yang bisa membuatnya sadar bahwa ada yang lebih sedih bahkan sendiri dari dirinya sendiri.
*Selesai*

Biodata:
Mila Amalya Munir yang kerap disapa Mila lahir didesa yang terletak di Kab. Soppeng, Sulawesi selatan yakni Lewa-lewa 02 Agustus 1998. Ia lahir dari rahim seorang Ibu yang cantik bernama Jamila serta memiliki seorang Ayah yang hebat bernama Munir, Mila merupakan Anak pertama dari 3 bersaudara yakni Nirwana dan Rahmat Yusri. Ia merupakan gadis penyuka Hujan serta warna Biru dan Hijau. Mila tengah menempu pendidikan-nya sekarang di Universitas Muhammadiyah Makassar dengan mengambil jurusan Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobby-nya gemar membaca baik Cerpen maupun Novel ia juga suka dengan Puisi. Akun media sosialnya Facebook: Mila, Instagram: @mylha28. Terima Kasih.