Tampilkan postingan dengan label Naskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Februari 2026

Contoh Teks Drama atau Naskah Drama_Tugas Drama

Berikut ini salah satu contoh Teks Drama, bagi yang membutuhkan atau memerlukan semoga bisa bermanfaat dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Dimohon untuk yang mengcopy paste atau menyalin Teks Drama tersebut diharapkan tidak plagiat atau usahakan selalu mencantumkan sumber atau penulis dari Teks Drama tersebut, yakni saya sendiri Mila Amalya Munir.

Selamat membaca! 😍💖

kemarin perempuan dalam pelukan

Suatu ketika Rizki menikahi perempuan yang begitu ia cintai, tepatnya pada tanggal 18 maret 2017. Pernikahan mereka terbilang sangat bahagia. Hingga tak pernah Rizki bayangkan pada akhirnya. Peringatan hari jadi pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi bahkan sudah memutuskan untuk kepuncak dalam rangka merayakannya. Rizki dan istrinya bernama Ayu dari sini cerita mereka dimulai.

Pada suatu hari Ayu dan Rizki sedang pergi berlibur keluar kepuncak untuk memperingati hari jadi pernikahan mereka yang telah genap 1 tahun.

Riski : “Sayang, menurut kamu pemandangan disini bagus nggak?”

Ayu: “Hemm... kalau menurut kamu gimana?”

Riski: “Ya bagus lah!”

Ayu: “Sama, bagus juga”

Riski: “Kalau begitu kita kesana yuk!”

Ayu: “Kemana? disini aja lebih sejuk!”

Riski: “Tapi disana tempatnya lebih indah disana juga nggak kalah sejuk”

Ayu: “Memangnya dimana sih, jauh nggak? kalau jauh aku capek. memangnya kalau aku pingsan kamu bisa gendong aku nggak?”

Riski: “Yah, sayang jangan sampai pingsan badan kamu kan kayak gentong andaikan kayak luna maya boleh lah” Riski dengan raut wajah cengengesan.

Ayu: “Oh ceritanya kamu bandingin aku sama luna maya  yang artis itu, yang kamu idolain tapi tidak tau kamu, Kasihan.”

Riski: “Iya maaf, aku cuman bercanda biarpun kamu gendut tapi kamu tetap muat dihatiku, yakan.. yakan.”

Ayu: “Ha.ha.ha. iya-iya kamu bisa aja gombalnya.”

Riski: “Yaudah, yuk kesana.”

(Tiba-tiba ayu tersenggol seseorang)

Riski: “Sayang kamu nggak apa-apa? Untung saja jatuhnya ketanah jadinya nggak sakitkan?”

Ayu: “Bukannya ditolongin, istri lg jatuh malah dibercandain.”

(Ayu telah berdiri)

Ayu: “Sakti..?”

Sakti: “Ayu..?”

Riski: “Kalian saling kenal?”

Ayu dan Sakti: “Kami teman SMA.”

Riski: Oh, kami duluan.”

(Riski langsung menarik tangan Ayu ia merasa cemburu)

Sakti: “Hati-hati bro, jaga dia baik-baik.” Teriak Sakti

 (Beberapa tahun kemudian)

Riski dan Ayu telah dikaruniai seorang putri yang cantik mereka memberinya nama Syifa, kini Syifa sudah berusia 10 tahun.

Ayu yang sedang duduk bersantai diruang tamu. Tiba-tiba Handpone nya berbunyi ia segera mengangkat panggilan tersebut.

Ayu: “Halo, ini siapa?”

Sakti: “Ini dengan masa lalu kamu yang kamu tinggalkan demi harta.”

Ayu: (Wajah syok) “Kenapa lagi kamu muncul? aku sudah bahagia sekarang dengan keluarga kecilku.” Ayu menutup telepon secara sepihak.

Riski: Siapa yang menelpon, kok ditutup muka kamu juga kelihatan cemas?”

Ayu: “Eehhmm.. mm.. iitu orang salah sambung.”

Riski pun telah berangkat kekantor setelah berpamitan dengan Ayu. Sedangkan Syifa sudah kesekolah sedari tadi. Ayu kini tengah seorang diri dirumah tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar.

Sakti: “Buka sebentar aku mau bicara sama kamu?”

Ayu: “Apa lagi mau kamu bicarakan?” ucap Ayu setelah membuka pintu kembali.

Sakti: “Aku masih sayang banget sama kamu.”

Ayu: “Cuman itu yang mau kamu katakan, kamu sadar aku sudah berkeluarga.”

Sakti: “Aku tidak peduli.”

Ayu: “Sekarang aku minta kamu pergi dari sini sekarang nanti suamiku pulang dan jadi salah paham.”

Ternyata Ayu tidak sadar jika sedari tadi ada yang mendengar percakapanya dengan Sakti. Sakti pun pergi dan Ayu menutup pintu rumah kembali. Tak lama Riski pulang saat ia ingin memasuki rumahnya tiba-tiba saja Gita dan Santi mencegat Riski dan menariknya sedikit mejauh dari pintu.

Riski: “Kenapa tiba-tiba kalian ada disini mau ketemu istri saya?”

Gita: “Bukan-bukan, kami mau kasih tau sesuatu sama kamu yakan Santi?”

Riski: “Apa?”

Gita: “Aduh, kamu emangnya nggak tau yah?”

Santi: “Atau kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu?”

Riski: “Kalian mau ngomong apa sih sebenarnya, yah saya tidak tahu lah kan belum dikasih tahu.”

Gita: “Jadi begini, tadi kami berdua melihat istrimu dengan seorang pria yang barusan datang kesini.”

Santi: “Jangan-jangan istrimu selingkuh.”

Riski: “Kalian bicara apa sih, nggak jelas mungkin saja tukang service bisa jadi peralatan dapur istri saya ada yang rusak.”

Gita: “Beneran yakan Santi.”

Santi: “Iya, pria itu juga mengatakan masih sayang sama istri kamu katanya.”

Riski: “Kalian ada-ada saja, saya capek mau istirahat.” Riski meninggalkan perbincangan mereka dan masuk kerumah.

Keesokan harinya Sakti meminta Tika untuk bertemu dengannya disebuah cafe dan bermaksud merencanakan sesuatu.

Tika: “Tumben ada apa kamu ngajak aku kesini?”

Sakti: “Gini tik aku mau minta bantu kamu.”

Tika: “Bantuan, oh aku tau masalah itu lagi yah?”

Sakti: “Iya nih.”

Tika: “Gimana kalau aku bujuk Ayu supaya mau balik lagi sama kamu.”

Sakti: “Bagaimana caranya?”

Tika: “Gampang, serahin semuanya sama aku.”

Sakti: “Oke, aku serahkan semua sama kamu, yang jelas aku sama Ayu balikan.”

Tika: “Oke deh.”

Beberapa hari kemudian Tika berhasil mengajak Ayu untuk bertemu dicafe meski dengan susah payah dan akhirnya berhasil. Ayu yang baru keluar dari rumah tanpa sengaja Gita dan Santi melihatya.

Gita: “San, liat tuh dia mau kemana.”

Santi: “Apa jangan-jangan mau ketemuan sama pria yang kemarin.”

Gita: “Yah gitu deh, namanya juga wanita 80-an.”

Santi: “Maksudnya, perempuan umur 80-an emangnya Ayu sudah setua itu?”

Gita: “Masa lo nggak tau yang lagi viral itu.”

Santi: “Ohh tau, yang lagi viral 80 jutaan si Vanessa Cencel.”

Gita: “Iya, tapi Vanessa Engel kalie bukan Vanessa Cancel. Kalau Vanessa Cansel enggak jadi dong 80 jutanya.

Syifa: “Mama...mama mau kemana, papakan belum pulang aku takut dirumah sendiri aku ikut yah ma.” Ucap Syifa yang baru keluar dari rumah.

Ayu: “Enggak usah ikut yah, jauh mama mau ketemu temen.”

Syifa: “Pokoknya aku mau ikut kemana mama mau pergi.”

Ayu: “Tapi mama pulangnya malam banget nak.”

Syifa: “Pokonya aku ikut..ikut..ikut.” (Merengek)

Ayu: “Yasudah kita pergi sekarang.”

Sesampainya dicafe

Ayu: “Kamu sudah dari tadi?”

Tika: “Nggak baru datang juga.”

Ayu: “Oh, kirain.”

Syifa: “Halo tante.”

Tika: “Syifa juga ikut?”

Ayu: “Iya dia nangis tadi pengen ikut.”

Tika: “Oh, iya sini duduk dekat tante.”

Syifa: “Iya tante.”

Ayu: “Ada apa Tika?”

Tika: “Gini Yu, gimana yah ngomongnya.”

Ayu: “Udah ngomong aja.”

Tika: “Masalah Sakti.”

Ayu: “Sakti, kenapa dia?”

Tika: “Sakti curhat sama aku katanya dia masih sayang banget sama kamu dan dia mau balikan sama kamu.”

Ayu: “Aku kan sudah punya keluarga.”

Tika: “Aku mau tanya kamu, jujur kamu juga masih sayang sama Sakti kan, dia kan cinta pertama kamu.”

Ayu: (Terdiam)

Tika: “Udah jujur aja.”

Syifa: “Sakti itu siapa ma.”

Ayu: “Teman SMA mama dulu.”

Tika: “Iya Syifa dia teman SMA kami dulu.”

Syifa: “Oh iya.”

Tika: “Jadi gimana nih yu?”

Ayu: “Iya sebenarnya aku masih punya perasaan sama Sakti tapi kamu tau sendiri aku sudah punya suami dan anak.”

Tika: “Nggak apa-apa yu, dekat lagi aja sama Sakti.”

Ayu: “Nanti suamiku marah.”

Tika: “Nggak usah ngasih tau suami kamu kan gampang.”

Ayu: “Tapi (Sambil Mikir)

Tika: “Sakti tuh hampir gila gara-gara kamu.”

Ayu: “Nanti aku lihat, aku pikir-pikir dulu.”

Tika: “Yasudah kabarin yah keputusan kamu nantinya.”

Ayu: “Iya nanti aku kabarin.”

Ayu dan Syifa pun pulang dari cafe. Sesampainya dirumah Syifa bertemu dengan Riski.

Riski: Syifa dari mana aja sama mama?”

Syifa: “Dari ketemu teman SMA mama, papa tau nggak mama mau punya pacar baru loh.”

Riski: “Kamu ngomong apa sih, Syifa.”

Syifa: “Bener pa, Syifa denger sendiri mama mau deket lagi sama om..om.. lupa namanya.”

Riski: “Kamu capekan kamu kekamar yah istirahat.”

Syifa: “Iya Syifa mau tidur, capek.”

Riski: “Kamu, dari mana kenapa Syifa sampai mengatakan kamu mau punya pacar baru.”

Ayu: “Dia salah paham, aku ketemu Tika dia punya pacar baru.”

Riski: “Tapi om yang dimaksud Syifa?”

Ayu: “Itu pacarnya Tika.”

Riski: “Yasudah aku kekamar aku capek.”

Ayu: (Melamun memikirkan perkataan Tika di cafe)

Akhirnya Ayu diam-diam menelpon Sakti dan memulai kisah mereka kembali yang pernah berakhir.

Ayu: “Halo, Sakti.. kamu lagi ngapain? Entah kenapa aku jadi ingat perkataan Tika tadi siang.”

Sakti: “Memang dia ngomong apa, sampai kamu nelpon aku?”

Ayu: “Nggak kok nggak ngomong apa-apa.”

Mulai dari telepon singkat itu dan pertemuan dibelakang Riski hingga akhirnya perselingkuhan itu terjadi. Sampai suatu ketika tidak sengaja Riski melihat chat-chat Sakti dan Ayu yang begitu mesra.

Riski: “Ayu sejak kapan kamu selingkuh dibelakang aku? Kamu tega lakuin ini semua setelah apa yang aku berikan selama ini untuk kamu, kenapa?”

Ayu: “Karna... aaku, aku juga nggak tau kenapa ini terjadi aku bingung, darimana semua ini berawal.”

Riski: “Astagfirullah, ayu kamu tau itu dosa kamu bohongin suami kamu, kamu selingkuh. Kamu harus tinggalin dia.”

Ayu: “Aku tau aku salah telah mengecewaknmu, tapi aku nggak bisa ninggalin dia aku nggak bisa.”

Riski: “Kalau itu mau kamu, kamu pilih dia?”

Ayu: “Iya dan aku mau kita pisah.”

(Ayu beranjak ingin meninggalkan rumah)

Syifa: “Mama..mama mau kemana, jangan pergi, jangan tinggalin Syifa.”

Riski: “Biarlah nak, kalau itu pilihan mama kamu papa yang akan jaga Syifa.”

Pada akhirnya pun Riski menjadi seorang duda ia yang merawat Syifa sedangkan Ayu sudah pergi dengan selingkuhannya. Tak pernah terfikirkan oleh Riski bahwa pernikahan yang telah ia bina beberapa tahun belakangan bersama Ayu hancur begitu saja karena adanya orang ketiga.

And

*Teks drama tersebut merupakan tugas kuliah Jurusan Bahasa Indonesia yang dimana ceritanya disesuaikan dengan tema yang diberikan oleh Dosen pengampuh mata kuliah. Teks drama tersebut diharapkan bisa menjadi referensi bagi yang memerlukan atau yang membutuhkan salah satu contoh Teks Drama. 😊💙

Jumat, 07 Desember 2018

Naskah Film Pendek durasi 10 menit | Cerita Fiktif | Senyum Terakhirmu


SENYUM TERAKHIRMU

Sudah lama senyum itu terenggut dari bibirnya—Semenjak kejadian nahas itu. Hari-hari yang terlewati sama saja yang dirasakan oleh perempuan berambut sebahu itu, tidak ada yang berubah setelah kejadian 2 tahun silam. Sudah sekian kali tempat ini selalu menjadi tempat yang selalu membuatnya ingin kembali sebelum kajadian itu benar-benar merubah semuanya. Ayunan yang tergantung di pohon yang rindang ia duduk disana digenggamnya kuat tali yang menggantung itu perasaannya masih sama—ia hanya mampu merasakan—Tak bisa ia lihat hanya gelap emosinya tak terkontrol perlahan air bening jatuh dari kelopak matanya. Ia terisak hingga seseorang datang dan menyentuh pundaknya.
“Jangan ditahan keluarkan apa yang membuatmu terbeban, sudah dua tahun kamu hanya bersikap tenang, hanya waktu sehari setelah kejadian itu kamu menangis.”Ucapnya menenangkan tetapi tangannya masih setia dipundak gadis itu.
“Aku tau kamu Rapuh,Ta.”
Gadis itu bernama Jelita hidupnya berubah setelah kecelakan—Tabrakan yang dialaminya membuat penglihatanya tidak berfungsi lagi bahkan ia divonis oleh dokter tidak dapat melihat kembali, Tetapi dokter juga mengatakan masih ada sedikit kemungkinan jika didapatkan pendonor yang tepat walau itu kemungkinannya kecil .
“Aku nggak apa-apa.” Suara Jelita lirih.
“Kamu nggak perlu menutupi itu, Jelita.”Sanggahnya, “Menangis bukan membuatmu lemah setidaknya kamu mengobati rasa tertekanmu.” Tambahnya, kemudian cowok itu berjalan kedepan Jelita berhadapan dengannya dan ia berlutut. Tangannya bergerak menyentuh pipi jelita yang sudah dari tadi dialiri air mata—perlahan menghapusnya sentuhan itu membuat Jelita tersentak kaget.
“Bukannya kamu memintaku menangis?”
“Iya, tapi tangisanmu saja kamu ragu untuk mengeluarkannya bagaimana bisa kamu menghapus beban itu?” Cowok itu menatap iba.
“Apa kamu tidak mau belajar untuk tersenyum semenjak kejadian itu kamu tak pernah tersenyum kembali kamu hanya bersikap tenang.” Tambahnya lagi.
“Kenapa kamu masih setia menemaniku Vid?”
“Karena aku mengikuti kata hatiku.” Ucap cowok yang bernama David sembari menggenggam tangan Jelita.
“Stop, Vid jangan karena kamu kasihan.” Jelita melepas genggaman David.
“Aku tulus.”
“Aku capek, ayo pulang!” Jelita mencoba berdiri dari ayunan dengan sigap David membantunya.
“Kapan kamu sadar aku benar-benar menyukaimu.” Batin David
Mereka pun akhirnya sampai dirumah Jelita, suasana yang begitu sepi karena kedua orang tuanya bercerai dan Jelita ikut dengan Ayahnya yang begitu sibuk hingga kadang jarang berada di rumah sedangkan Ibunya ia sudah menikah kembali meski begitu ia juga tidak pernah telat untuk memberikan perhatian kepada Jelita walau hanya lewat telepon tapi bukan itu yang dibutuhkan Jelita kehadiran ibunya setiap saat disisinya yang begitu ia inginkan.
“Non, udah pulang?” Ucap Bi Yuyun, pembantu rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah Jelita.
“Iya Bu.”
“Jangan menolak saya panggil ibu sudah lama saya tidak pernah mengucapkan kata itu.” Pinta Jelita.
“Enggak kok non, terserah non saja.” Ucap Bi Yuyun membantu Jelita duduk di sofa diikuti David.
“Duduk, den.” Yang kemudian dibalas senyum oleh David lalu duduk di sofa pas didepan Jelita.
“Bu bisa duduk didekat Jelita?” Tanpa waktu lama Bi Yuyun langsung duduk kemudian merangkul Jelita seolah menggantikan peran Ibu Jelita.
“Non dari mana saja jalan-jalannya dengan den David?”
“Di taman dekat rumah.”
“Bibi sudah menduga, dari dulu non sangat suka sekali tempat itu.”
“Iya, disana banyak kenangannya.”
“Yang sabar yah, non.” Bi Yuyun tidak dapat menahan air matanya.
“Seandainya aku nggak pernah ngalamin ini semua, Seandainya waktu itu mobil taksi yang aku tumpangi tidak tabrakan mungkin kedua orang tuaku masih bersama sampai sekarang.”
“Hussstt... kamu jangan selalu menyalahkan diri sendiri.” David angkat bicara.
“Tapi memang begitu keadaannya, mereka malu punya anak buta.” Ucap Jelita dengan ekspresi tenang seperti dia sudah terbiasa dengan kata itu.
“Buktinya ibuku menikah lagi dan ayahku lebih cinta dengan pekerjaannya.”
“Non, jangan beranggapan seperti itu ayah dan ibu non bercerai karena hubungan mereka memang sudah tidak bisa di pertahankan, ayah non juga sibuk kerja untuk biaya non.”
“Tapi setidaknya mereka ingat aku, aku butuh mereka bukan lewat telepon tapi mereka disampingku sebentar saja mendengar keluhku.”
Ucapan Jelita seketika membuat suasana hening David tak tau harus berkata apa lagi. Memang benar apa yang dikatakan Jelita, ia sangat butuh penguat yang diharapkan dari kedua orang tuanya.
“Bawa aku kekamar, Bi!”
Bi Yuyun dengan hati-hati menuntun Jelita menuju kamarnya, membaringkannya dikasur, menyalimutinya. Bi Yuyun memberikan kehangatan seorang Ibu karena ia begitu menyayangi anak majikannya itu dari dulu dia telah menganggap jelita seperti anaknya sendiri.
Hari dimana Jelita pun jatuh sakit karena beban yang ia rasakan sudah sangat berat untuk ditanggungnya hingga daya tahan tubuhnya menurun. Bi yuyun berniat membawa jelita kerumah sakit. Sebelum itu dia menelpon David terlebih dahulu.
“Hallo, den bisa kesini?”
“.................”
“Non Jelita sakit.”
“.................”
“Baik den.”
Tak lama David pun datang dengan segera ia menggendong Jelita menuju mobilnya diikuti dengan Bi Yuyun. Tak butuh waktu lama mereka akhirnya sampai di Rumah Sakit. Segera Jelita ditangani oleh Dokter yang selalu menanganinya. Tak lama dokter itupun keluar dari kamar rumah sakit tempat Jelita sekarang terbaring.
“Bagaimana, dok?” Ucap David begitu Khawatir
“Mana keluarganya Jelita?”
“Saya keluarganya dok kenapa dengan Jelita?”
“Saya ingin bicara dengan ibu dan ayahnya.”
“Ayahnya ada urusan diluar kota dok, ibunya belum diberi kabar.”
“Tolong hubungi kedua orang tuanya secepatnya karena jelita sangat kritis.”
David termenung dengan perasaan yang syok segera ia menghubungi ibu Jelita dan kemudianya Ayahnya. Tak lama ibunya tiba dirumah sakit sedangkan ayahnya baru diperjalanan dan mungkin dipastikan besok baru ia tiba dari luar kota. Ibu Jelita masuk kemar rawat Jelita ia langsung menangis dari tadi ia menahan air matanya namun melihat kondisi anaknya dari suami pertamannya itu ia merasakan sakit.
“Bangun sayang, Ibu udah datang.” Ucapnya saat sudah berada disamping kasur jelita sembari ia mengusap puncuk kepala anaknya itu. Tidak ada jawaban dari Jelita matanya masih setia terpejam.
“Ayo nak bangun, maafin ibu, hiks... hiks....” Ucapnya terisak
“Sabar tan.” Ucap David yang baru saja masuk dikamar rawat.
“Jelita udah lama pengen banget ibunya berada disampingnya seperti sekarang bahkan lengkap dengan ayahnya.” Ucapan David membuat Ibu Jelita merasa sangat bersalah kepada putrinya.
“Bahkan ia sering ke taman dimana tante dan om dulu sering kesana saat Jelita masih anak-anak hingga remaja, ia begitu berharap orang tuanya bisa utuh kembali.” Jelas David ia tidak melihat rawut wajah ibu Jelita yang sudah dibanjiri air mata, David hanya fokus menatap seseorang yang telah lama mengisi hatinya itu.
“Yang lebih tante tidak pernah tau, Jelita menyalahkan dirinya yang buta bahwa karenanya tante dan om bercerai, dia menganggap kalian berdua malu memiliki anak seperti Jelita hingga kalian memutuskan untuk berpisah.” Kali ini David mengucapkan itu dengan melihat kearah Ibu Jelita.
“Hiks...hiks.. jadi selama ini aku sendiri yang menyiksa anakku dengan permasalahan yang tidak pernah ada sangkut pautnya dengan Jelita.” Ucapnya kemudian ia memeluk anaknya itu dengan mata jelita yang masih saja terpejam.
Besoknya kesehatan Jelita malah tambah parah, Jantungnya sudah begitu lemah mungkin karena makannya serta tidurnya yang tidak teratur serta beban yang selalu mengganggunya. Hingga ia tak mementingkan lagi kesehatannya. Ayah Jelita pun sudah tiba ia segera menemui dokter yang menangani anaknya.
“Dok, apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya?” Tanya ayah Jelita saat dia sudah berada di ruangan Dokter yang merawat anaknya itu.
“Begini pak anak bapak sangat tertekan hingga mengganggu kesehatannya, makan dan pola tidurnya tidak terjaga hingga membuat daya tahan tubuhnya lemah, dan dari semalam sampai sekarang ia masih kritis” Ucap dokter menautkan kedua tanganya diatas meja.
Ucapan dokter langsung membuat ayah Jelita ingin segara menemui anaknya. Ia pun sudah berada di ruangan Jelita sekarang. Segera ia memeluk anak semata wayangnya itu dan membuat mantan istrinya yang masih terlelap disofa langsung terbangun.
“Jelita ayo bangun, nak.” Ucapnya menghentikan pelukannya kemudian memegang kedua pipi anaknya itu.
“Mas sudah datang?”
“Ngapain lagi kamu disini sudah puas melihat anakmu terbaring lemah seperti ini.” Tegas Ayah Jelita.
“Mas aku nggak pernah ingin semua ini terjadi.” Sanggahnya, “Kita nggak bole sama-sama egois.” Jelasnya.
“Yang egois itu kamu, selingkuh dengan lelaki lain.” Ucapnya tidak dapat menahan emosi.
“Kamu juga egois mas kamu lebih pilih pekerjaan dari pada keluargamu sendiri.”
“Om, Tante kalian masih bersikap seperti ini kalian tidak kasihan melihat kondisi Jelita sekarang?” Ucap David yang baru saja datang.
Ibu dan Ayah Jelita pun terdiam mendengar perkataan David. David yang baru datang dengan membawa sebuket bunga mawar putih perlahan berjalan mendekati Jelita yang terbaring lemah ditatapnya wanita itu penuh cinta kemudian ia simpan bunga itu disamping Jelita.
“Yang jelita harapkan kalian datang memberikan dukungan untuk kesembuhannya bukan memperdebatkan masalah perpisahan.” Ucap David begitu kecewa.
David ingin melanjutkan perkataanya namun terhenti saat suara yang sudah dua hari tidak ia dengar memanggil namanya.
“Daa..vid.” Ucap Jelita dengan suara serak dan lemah tapi masih jelas terdengar.
“Jelita.” Ucap Ibu Jelita langsung memeluk anaknya.
“Maafkan ibu sayang, ibu sudah sangat egois dan mengorbankan perasaan kamu, ibu bercerai sama ayah bukan salah kamu sayang ibu cuman tidak betah dengan ayah yang lebih sibuk kerja sampai lupa ia punya anak dan istri, tapi jujur ibu juga salah karena ibu selingkuh.” Pengakuan ibunya itu membuat Jelita kaget. Ternyata selama ini ibunya selingkuh tanpa ia sadari.
“Maafkan ayah ini semua salah ayah yang terlalu sibuk tapi itu juga untuk kamu sayang.”
“Kalian baru sadar kemana aja, kalian tau aku buta tapi sebenarnya kalian yang menutup mata seolah tidak melihat kalian punya anak. Beberapa hari, minggu, bulan bahkan tahun aku menunggu kalian melihat keadaanku tapi mungkin aku sangat egois mengharapkan sesuatu yang tak mungkin, hiks....hiks.” Ucap Jelita dengan terisak.
“Maaf.” Ucap Ibu dan Ayah Jelita.
“Terima kasih untuk semuanya kasih sayang kalian sejak aku kecil sampai kebencian kalian yang malu karena aku buta.”
“Jangan bilang begitu nak kami tidak pernah membencimu ini semua karena keegoisan kamiyang menjadikannya seperti ini.” Jelas Ayah Jelita.
Dada Jelita pun tiba-tiba sesak ia bergetar hebat yang membuat Ibu dan Ayahnya beserta David cemas.
“Makasih vid, selama ini lo betah disamping aku meski aku buta.” Ucapnya dengan suara yang semakin lemah.
“Hussttt aku ikhlas.” Ucap David mengelus kepala Jelita.
“Kamu harus kuat, aku panggil dokter yah?” Ucap David ingin beranjak namun tiba-tiba saja Jelita menggenggam tangan kanannya.
“Ng..gak uusahh, akku udah capeekk.”
“Pliss jangan bilang gitu.” David membalas genggaman Jelita.
“Ibu, ayah tolong kaalian salingg memaafkann.” Pinta Jelita.
“Ayah sudah memaafkan ibu mu nak.” Ucapnya lalu ia memeluk Ibu Jelita.
“Maafkan aku mas.” Ucap Ibu Jelita membalas pelukan.
 Keduanya pun berhenti berpelukan lalu Ibu jelita berbalik mencium kening anaknya itu. Sedangkan Ayah Jelita menggenggam tangan Jelita sebelah kiri karena David juga menggenggam tangan Jelita yang sebelah kanan.
“Maakasihh unntuk kalian yaang uudah saayang samaa Jelita, teerlebbih kamu David.”
Jelita tersenyum begitu bahagia terlukis pada raut wajahnya yang sudah pucat pasif dan tak lama senyum itu memudar seiring kepergiannya. Semuanya histeris karena Jelita sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.
Selesai