Kamis, 19 Februari 2026

DEIKSIS_Materi Pragmatik

 

DEIKSIS

Deiksis berasal dari kata Yunani kuno yang berarti “menunjukkan atau menunjuk”. Dengan kata lain informasi kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu baik benda, tempat, ataupun waktu itulah yang disebut dengan deiksis. Deiksis didefinisikan sebagai ungkapan yang terikat dengan konteksnya. Contohnya dalam kalimat “Saya mencintai dia”, informasi dari kata ganti “saya” dan “dia” hanya dapat di telusuri dari konteks ujaran. Ungkapan-ungkapan yang hanya diketahui hanya dari konteks ujaran itulah yang di sebut deiksis.

Dalam KBBI deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217), deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan.

Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons, 1977: 637 via Djajasudarma, 1993: 43).

Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi, yaitu kata atau frase yang menunjuk kata, frase atau ungkapan yang akan diberikan. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan, 1997: 6).

Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan, dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara, yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons, 1977: 638 via Setiawan, 1997: 6).

Berdasarkan beberapa pendapat, dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk, pronomina, dan sebagainya. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora.

Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata deiksis. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Referen kata saya, sini, sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Jadi, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur.

 

JENIS DEIKSIS

Dalam kajian pragmatik dikenal adanya enam jenis deiksis yaitu deiksis persona, (orang), penunjuk, tempat, waktu, wacana, dan sosial. Berikut akan dipaparkan keenam deiksis tersebut.

1.    Deiksis Persona

Deiksis persona secara langsung diwujudkan dalam kategori gramatikal tentang persona (orang), menjadi persona 1, persona 2 dan persona 3. Berbeda dengan persona pertama dan kedua, persona 3 tidak berhubungan langsung dengan peran partisipan apapun dalam tiap peristiwa tutur. Dalam deiksis persona yang menjadi kriteria adalah peran partisipan yaitu peran sebagai penutur (orang ke-1), sebagai pendengar (orang ke-2), dan “yang dibicarakan” menjadi orang ke-3. Cara yang lazim untuk mengkodekan deiksis persona adalah dengan memakai pronominal (kata ganti orang), seperti: saya, aku, kamu, engkau, ia, dia, beliau, kami, kita, mereka, atau memakai nama diri seperti: saudara, bapak, ibu, tuan, dsb. (untuk orang ke-2). Selain itu, deiksis persona juga mencakupi bentuk-bentuk lain dari pronominal tersebut, seperti: ku-, -ku, -mu, -nya, dan kau.

2.    Deiksis Penunjuk

Dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya demonstratif (kata ganti penunjuk). Kata ini digunakan untuk menunjuk sesuatu yang dekat dengan penutur, dan itu digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh dari penutur. “Sesuatu” itu bukan hanya benda atau barang melainkan juga keadaan, peristiwa, bahkan waktu. Berikut contoh-contohnya:

a.    Masalah ini harus kita selesaikan segera.

b.    Ketika peristiwa itu terjadi, saya masih kecil.

c.    Saat ini saya belum bisa ngomong.

3.    Deiksis Tempat

Deiksis tempat dan deiksis ruang berkaitan dengan spesifikasi tempat relatif ke titik labuh dalam peristiwa tutur. Pentingnya spesifikasi tempat ini tampak pada kenyataan bahwa ada dua cara mendasar dalam mengacu objek, yaitu dengan mendeskripsikan atau menyebut objek atau dengan menempatkannya di suatu lokasi. Lokasi itu dapat dispesifikasikan relatif kepada objek atau titik acuan yang pasti. Misalnya:

a.    Stasiun kereta api itu terletak 200 meter dari gereja katedral

b.    Bedugul terletak 1.500 meter di atas permukaan laut

Secara deiksis keduanya dapat dispesifikasikan relatif kepada lokasi partisipan pada saat berbicara, seperti dalam:

a.    Stasiun itu 200 meter dari sini

b.    Bedugul itu sama dinginnya dengan di sini

Deiksis tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang (tempat) dipandang dari lokasi pemeran dalam peristiwa tutur. Deiksis tempat berhubungan dengan deiksis penunjuk “ini dan itu”. Di dalam menganalisis kalimat, semua bagian kalimat yang mengacu tempat disebut juga adverbial, dan kata-kata begini biasanya didahului dengan kata di, dalam atau pada, membentuk frase depan. Misalnya, di rumah, pada bangku, dalam kamar. Frase-frase semacam itu tampaknya tidak digolongkan ke dalam deiksis karena acuannya tetap, karena kata rumah, kamar, bangku, kapan pun dan dimana pun, mempunyai acuan yang tetap; berbeda dengan sini dan sana.  Hanya perlu diingat bahwa kedua deiksis ini biasa didahului dengan di dan ke, menjadi di sini dan di sana; ke sini dan ke sana. Masih bisa dipertanyakan adalah kata ke mana dan di mana, dalam kalimat seperti:

a.    Ke mana dia pergi?

b.    Entah, saya taruh di mana pensil tadi

c.    Saya tak tahu dia ke mana dan di mana

Kata-kata tersebut tergolong keterangan tempat; acuannya bukan hanya “tidak tetap” tetapi bahkan “tidak jelas”. Dengan pengertian acuan yang “tidak jelas” itu barangkali kata-kata ini dapat digolongkan deiksis tempat, karena “tidak jelas” berarti “bisa di mana-mana”, di sembarang tempat, dan tidak pasti.

4.    Deiksis Waktu

Deiksis ini, yang di dalam tata bahasa disebut adverbial atau keteangan waktu, adalah pengungkapan kepada titik atau jarak waktu dipandang dari saat suatu ujaran terjadi, atau pada saat seorang penutur berujar. Waktu ketika ujaran terjadi diungkapkan dengan sekarang atau saat ini. Untuk waktu-waktu berikutnya terdapat kata-kata besok, lusa, nanti, kelak; untuk waktu “sebelum” waktu terjadinya ad kita menemukan tadi, kemarin, minggu lalu, ketika itu, dahulu. Dasar untuk menghitung dan mengukur waktu dalam banyak bahasa tampak bersifat siklus alami dan nyata, aitu siklus hari dan malam (dari pagi sampai malam hari), hari (dalam satu minggu dengan nama-namanya), bulan (berikut nama-namanya), musim (di Indonesia ada musim hujan dan musim kemarau), dan tahun. Satu-satuan waktu itu dapat digunakan baik sebagai pengukur (sekian hari, sekian bulan, sekian tahun) atau sebagai kalender untuk menempatkan peristiwa tutur dalam waktu pasti (jam ini hari ini bulan ini tahun ini).

Dalam hal deiksis waktu patut dicatat pentingnya membedakan saat ujaran (atau saat menullis) atau waktu pengenkodean (coding time = CT) dan waktu penerimaan (receiving time = RT). Sebagaimana sudah disinggung ketika kita berbicara tentang situasi kanonik, RT dapat diasumsikan identik dengan CT karena situasinya adalah situasi tatap muka. Jika tidak dalam situasi tatap muka, kita bisa menemui kesulitan. Kita lihat, misalnya, bagaimana deksis waktu berinteraksi dengan ukuran-kultural seperti kata hari ini, kemarin dan besok. Kita dapat mengatakan, misalnya, bahwa hari ini berarti ‘rentang waktu termasuk CT’, dan kemarin berarti ‘rentan hari sebelum rentang waktu termasuk CT/, dst. Tetapi bisa jadi kemarin mengacu kepada dua acuan yaitu (i) mengacu kepada rentang waktu yang utuh seperti pada kallimat Kemarin adalah hari Rabu; atau (ii) mengacu kepada sebagian dari rentang waktu itu: Kemarin dia memanggang ikan.  Waktu juga tidak jelas jika kita menerima “janji begini:  Sampai ketemu hari Minggu ya. Dapat dipertanyakan, Minggu itu mengacu ke hari Minggu depan, atau Minggu-minggu lain di masa depan.

Aspek lain yang menunjukkan interaksi antara perhitungan menurut kalender dengan deiksis waktu tampak ketika kita mempertimbangkan keterangan waktu sepaerti Selasa lalu, tahun depan, bulan berikutnya, sore nanti, mala ini. Semua itu merupakan gabungan antara “keterangan” deiksis, yaitu lalu, depan, berikutnya, nanti ini, dengan nama nondeiksis, atau kata-pengukur yaitu Selasa, tahun, bulan, sore, dan malam.

Sebagaimana batasan deiksis, yang mempunyai referen yang tidak tetap, deiksis waktu pun mengacu kepada rentang waktu yang dapat berubah-ubah. Perhatikan beberapa contoh berikut: kata sekarang mengacu kepada (1) saat penutur berbicara sampai dengan (5) waktu yang sangat panjang tetappi tidak jelas batasnya.

a.    Karena kamu sudah ngomong, maka sekarang saya ganti gomong.

b.    Sekarang hari Minggu, besok…senin.

c.    Janjinya Minggu kedua Januari, sekarang sudah Minggu ketiga.

d.    Seharusnya tahun 2002, ya… sekarang, dia pensiun.

e.    Sekarang kan zaman edan, jadi semua orang pun edan.

5.    Deiksis Wacana

Berbeda dengan keempat deiksis yang sudah disebut, yang mengacu kepada referen tertentu meskipun referen itu berubah-ubah, deiksis wacana harus dirumuskan dengan lebih dahulu melihatnya di dalam wacana tertentu. Deiksis di sini, misalnya, dapat dikatakan mengacu kepada tempat yang dekat dengan penutur. Deiksis wacana, atau deiksis teks, tidak dapat dikatakan dengan cara begitu. Deiksis wacana adalah mengacu kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diperankan (sebelumnya) dan atau yang sedang dikembangkan (yang akan terjadi). Deiksis wacana berhubungan dengan penggunaan ungkapan di dalam suatu ujaran untuk mengacu kepada suatu bagian wacana yang mengandung ujaran itu (termasuk ujaran itu sendiri). Kita juga dapat memasukkan ke dalam deiksis wacana sejumlah cara lain di mana sebuah ujaran mensinyalkan hubungan dengan teks yang mengelilinginya. Misalnya, karena wacana itu mengungkapkan waktu, maka wajar saja jika kata-kata deiksis waktu dapat dipakai untuk mengacu kapada bagian-bagian wacana tersebut. Begitulah, jika mempunyai deiksis waktu seperti Minggu, bulan berikut, awal tahun, maka untuk deiksis wacana kita dapat juga memakai bentuk akhir paragraf, bab berikut, awal paragraph, dsb. Dalam bahasa Indonesia kata-kata demikian biasanya didahului dengan preposisi seperti di, pada, dalam.

Contoh:

Hal itu sudah dikemukakan pada akhir bab.

Perhatikan awal paragraph ketiga.

Bab berikut membahas tentang rangkum buku.

Dua contoh pertama menunjukkan bahwa deiksis wacana mengacu kepada bagian wacana yang sudah disebut atau yang sudah ada, sedangkan pada contoh terakhir deiksis wacana mengacu kepada bagian wacana yang ada di belakangnya.

Kita juga mempunyai kata deiksis tempat yang dapat digunakan terutama demonsratif ini, itu, di situ, begini, begitu, demikian yang dapat mengacu kepada bagian tertentu dari wacana. Contoh:

Saya percaya Anda belum pernah mendengarkan cerita ini.

Itu cerita paling lucu yang pernah saya dengar.

Di sini sudah tampak keraguan penulis.

6.    Deiksis Sosial

Deiksis sosial berhubungan dengan aspek-asek kalimat yang mencerminkan kenyataan-kenyataan tertentu tentang situasi sosial ketika tindak tutur terjadi. Deiksis sosial menunjukkan perbedaan-perbedaan sosial (perbedaan yang disebabkan oleh factor-faktor social seperti jenis kelamin, usia, kedudukan didalam masyarakat, pendidikan, pekerjaan, dsb.  yang ada para partisipan dalam sebuah komunikasi verbal yang nyata, terutama yang berhubungan dengan segi hubungan peran antara penutur dan petutur, atau penutur dengan topik atau acuan lainnya. Dapat dikatan bahwa deiksis social itu adalah deiksis yang disamping mengacu keadaan referen tertentu, juga mengandung konotasi social tertentu, khusus nyaa para deiksis persona. Dalam bahasa Indonesia hal itu tampak, misalnya dalam penggunaan kata sapaan kamu, kau, anda, saudara, Tuan, Bapak, Ibu, dsb. Dan deiksis persona bagii penutur seperti saya, aku, hamba, patik, atau enggunaan nama diri. Dalam bahasa yang mengenal tingkatan-tingkatan (unda usuk) bahasa, seperti bahasa jawa, perbedaan itu diwujudkaan dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Beberapa contoh;

a.    Majikan : “ Inem “

Pembantu : “ saya Tuan “

b.    (dalam bahasa jawa ) Majikan : “Inem “

Pembantu  :  “ Dalem, ndara “

Penggunaan saya ( dalem ) dan Tuan ( ndara ) menunjukkan hubungan social antara dua orang yang kedudukannya tidak sejajar (tidak seemitris), seperti hubungan antara majikan dan pembantunya.

Jadi, sebenarnya ada banyak aspek pengguna bahasa yang bergantung kepada hubungan sosial antara penutur-penutur itu, tetapi penggunaan ini hanya relevan bagi deiksis sosial yang sudah digramatikalkan, seperti pronominal yang mengandung rasa “sopan “ dan kata sapa. Harus ada pula diakui adanya banyak manifeestasi dari deiksisis social dikodekan dalam banyak bahasa, yaitu relasional (relation) dan mutlak (absolute) yang relasion itu berhubungan dengan relasi-relasi antara:

a.    Penutur dan acuan (misalnya honorifiks acuan)

b.    Penutur dan petutur (misalnya honorifiks petutur)

c.    Penutur dan pendengar/penonton yang bukan petutur (misalnya honorifiks pendengar)

d.    Penutur dan latar (misalnya tingkat-tingkat formalitas)

Ragam hubungan itu menjadi amat rumit dalam bahasa-bahasa yang mengenal tingkat-tingkat tutur, atau unda usuk (bahasa jawa) atau sor-singgih (bahasa bali)

 

BENTUK DEIKSIS

Tentang bentuk deiksis biasanya dihubungkan dengan jumlah pendukungnya. Dari situ dapat dilihat adanya golongan deiksis yang berikut:

1.    Deiksis Morfem, yakni deiksis yang tidak berbentuk kata sebagai morfem bebas, melainkan berbentuk morfem terikat, seperti awalan atau akhiran. Misalnya, ku- (diikuti verba), -ku, -mu,-nya (seperti dalam miliku, memandangmu, di depannya).

2.    Deiksis kata, yakni deiksis yang hanya terdiri dari satu kata, seperti: ini, sana, aku, begitu, ia, sekarang, kelak, Tuan, hamba.

3.    Deiksis frase, yakni deiksis yang terdiri dari dua kata atau lebih, misalnya: di sini, esok pagi, tuan hamba, paduka tuan, pada waktu itu, di kelak kemudian hari.

Penggolongan deiksis sebagaimana dikemukakan di atas bukanlah satu-satunya model penggolongan. Para penganut aliran pragmatik yang lebih “modern” mengemukakan adanya pemillihan lain, yakni deiksis luar-tuturan atau luar-ujaran atau luar-ujaran (atau eksofora) dan deiksis dalam-tuturan atau dalam ujaran (atau endofora).

1.    Deiksis Luar-tuturan

Deiksis ini mencakupi empat deiksis yang sudah disebut di atas, yakni deiksis persona, penunjuk, tempat, dan waktu. Yang dimaksud dengan deiksis luar-tuturan adalah deiksis yang acuannya di luar teks verbal, di luar apa yang diujarkan atau dituturkan, berada pada konteks situasi. Teks adalah sepotong atau sepenggal bahasa lisan atau tertulis (Richards dkk,..1985). Teks dapat dilihat dari segi strukturnya (misalnya, berupa kalimat atau cakapan) dan atau fungsinya (misalnya untuk memperingatkan, menyuruh, bertanya, dsb.) suatu pemahaman tuntas terhadap sebuah teks sering tidak dimungkinkan tanpa melihat konteks tempat terjadinya teks itu. sebuah teks dapat terdiri dari dari satu kata misalnya, “ masuk “ dan “keluar“ pada pelataran parker; “BERBAHAYA“ sebagai peringatan yang tertempel pada gardu listrik, atau teriakan “Api!” ketika kebakaran; atau dapat sangat panjang.

Ceramah, khotbah, novel, perdebatan. Teks-teks sebagaimana dicontohkan di atas sering disebut wacana. Teks itu bukan merupakan satuan gramatikal (sebagaimana morfem, frase, klausa, kalimat), satuan yang lebih banyak diatur oleh kaidah gramatika, melainkan satuan semantik.

Contoh anaphora:

Pak karta itu orang baik, istrinya juga

Dia dan istrinya adalah orang baik semua

Sekarang senin, jadi lusa adalah hari Rabu.

Kita lihat bahwa deiksis- nya yang ada dalam ujaran (tuturan) mengacu kepada dia (pak Karta) yang juga berada di dalam ujaran atau teks yang sama. Deiksis waktu, lusa, juga mengacu kepada Rabu, yang ada dalam teks ujaran.

2.    Deiksis dalam tuturan

Deiksis ini acuannya berada dalam teks atau tuturan. Menurut Nababan mengenai deiksis wacana, yaitu yang mencakupi anaphora dan katafora. Berbeda dengan Nababan, Kaswanti Purwo mengatakan bahwa deiksis dalam tuturan dibagi dua yaitu anaphora dan katafora. Jadi, deiksis dalam tuturan serupa dengan deiksis wacana. Deiksis anaphora mengacu kepada sesuatu yang disebut; didalam teks tertulis deiksis ini tampak mengacu kesebelah kiri atau kebagian atas. Sebaliknya, deiksis katafora mengacu ke acuan ke sebelah kanan atau di bawahnya.

Contoh:

1.    “masalah ini diangap selesai, begitu putusannya”

2.    “begini saja : ambil depositomu dan bayar utangmu !”

3.    “hallo, selamat sore, saya, Paijo, boleh saya bicara dengan Asiah ?”

Deiksis begitu dan begini tidak mengacu kepada satu kata yang mewakili benda atau peristiwa, melainkan kepada “seluruh ujaran” sebelum atau sesudahnya. Deiksis ini bukan deiksis persona, tempat, waktu, karena itu perlu dicarikan istilah sendiri: deiksis petunjuk.

Pada contoh (3) kita berhadapan dengan apa yang di dalam gramatika disebut aposisi, yaitu dua unsur kalimat (biasanya nomina) yang sederajat dan mempunyai acuan yang sama atau setidak-tidaknya, salah satu unsur mancakupi acuan unsur yang lain. Dalam contoh di atas saya dan Paijo kedudukannya dalam kalimat tersebut sederajat dan mengacu kepada orang yang sama, dalam hal ini adalah penutur. Dalam hal ini kita dapat mengatakan hal seperti ini: saya Paijo, tetapi Paijo belum tentu saya, karena masih banyak Paijo-paijo yang lainnya. Padanannya: mawar itu pasti bunga tetapi bunga belum tentu mawar.

 

PEMBALIKAN DEIKSIS

Saat ini kita ketahui bahwa deiksis itu bersifat egosentris, berpusat kepada “saya” yaitu penutur. Semua pengacuan atau penunjukan bertitik labuh kepada penutur. Deiksis penunjuk ini mengacu kepada sesuatu yang dekat dengan penutur, itu untuk sesuatu yang jauh dari penutur; sekarang mengacu kepada waktu ketika penutur berbicara; sini mengacu kepada tempat yang dekat dengan penutur ketika berbicara.

Namun, ada kenyataan bahwa pengacuan atau penunjukan tersebut tidak bertitik labuh pada penutur, tidak bersifat egosentris. Kaswanti Purwo mengatakan hal itu sebagai pembalikan deiksis. Pembalikan seperti ini dapat terjadi pada deiksis luar-tuturan atau dalam tuturan. Pembalikan deiksis luar-tuturan tampak pada percakapan lewat telepon dan dalam surat (khususnya surat pribadi). Perhatikan percakapan telepon berikut:

          (1)     Ani     : “Halo……. Ade, ya?”

                   Ade    : “ He-eh. Gimana, An?”

                   Ani     : “Baik. Gimana kamu di sini?”

                   Ade    : “Baik juga. Cuma hujan terus. Di sini hujan juga ya?”

Dalam wacana telepon di atas kata di sini yang diujarkan Ani mengacu kepada tempat Ade, petutur atau pendengar, dan bukan tempat Ani, penutur. Sebaliknya, di sini yang diujarkan Ade mengacu kepada tempat Ani, yang bukan penutur, melainkan petutur atau pendengar. Jadi, titik labuh itu dibalik dari penutur ke petutur.

Hal serupa juga terjadi pada surat berikut:

(3)  Ade,

Surat Ade udah Ani terima. Trims. Gimana kabarmu di sini? Udah ujan?

Kalo udah, anget dong; nggak kepanesan.        

Ade nanya pacar Ani? Wah, Ani udah di–PHK lama sekali.    

Surat kedua karib ini memakai ragam santai dan akrab. Dalam surat tadi, “di sini “mengacu kepada tempat penerima surat, pembaca yang sepadan dengan petutur, bukan kepada penulis,yang sepadan dengan penutur.

Di samping kedua hal tersebut, ada pula kenyataan bahwa di dalam percakapan sering terjadi pengulangan ujaran penutur, bukan oleh penuturnya sendiri melainkan oleh pendengar atau petuturnya. Dalam hal seperti itu dapat terjadi pembalikan deiksis juga, yang biasa tutur berbalik (echo utterance) atau penggunaan tutur berkutip (quotional use).

Perhatikan percakapan berikut:

          A : “ Jangan paksa saya membunuh. Tidak. Saya tak bisa.”

          B : “ Apa katamu? “Saya tak bisa?”Saya tak bisa? Harus bisa!”                      

Kita lihat deiksis saya pada A mengacu kepada dirinya sendiri. Juga pada bagian ujaran yang berbunyi, “Saya tak bisa.” Namun, pada B, ujaran si A tadi diulang atau “dikutip” oleh B (dan di dalam tulisan pun ujaran tersebut diberi tanda kutip ‘----‘), sehingga deiksis saya yang diujarkan oleh B (penutur) sebenarnya mengacu kepada A yang pada saat ujaran itu dikutip, bertindak sebagai pendengar, bukan penutur. Jadi, ujaran B itu berbalik kepada A dalam wujud pengguna “kutipan” bagian ujaran yang utuh dan asli, dan deiksis persona ke-1 (saya) dipakai untuk “pengganti” persona ke-2 (kamu, kau).

 

PENJENISAN LAIN DARI DEIKSIS

Di samping penjenisan deiksis menjadi enam sebagaimana yang dikemukakan di depan, para pakar, antara lain Nababan, juga menyebut penjenisan lain, yakni deiksis sejati dan taksejati, dan deiksis kinesik dan simbolik.

Deiksis sejati adalah kata atau frase yang maknanya dapat diterangkan seluruhnya dengan konsep deiksis tanpa mengaitkannya, misalnya dengan kondisi social.  Deiksis sejati termasuk ke dalam kata-kata yang tergolong deiksis persona, waktu, penunjuk, dan tempat: saya, dia, di sini, itu, sekarang, dsb. Kata-kata tersebutlah yang selalu dipakai sebagai kata pengacu.

Deiksis taksejati adalah kata atau frase yang maknanya hanya sebagian berupa deiksis dan sebagian fungsinya adalah nondeiksis. Dapat pula dikatakan, deiksis ini di samping mempunyai fungsi sebagai deiksis (sebagai pengacu acuan yang berubah-ubah) juga sebagai nondeiksis (mempunyai makna lain yang tidak bersifat mengacu).

Deiksis kinesik dan simbolik dikemukakan oleh FILLMORE (1971), yang masing-masing disebutkan gestural deictic usage (penggunaan deiksis dengan gerak anggota tubuh) dan simbolik deictic usage (penggunaan deiksis dengan lambang). Kata atau frase yag dipakai secara kinesik dapat dipahami hanya dengan pengamatan langsung terhadap gerak anggota badan (gesture), seperti acungan jari telunjuk, lambaian tangan, anggukan kepala, dalam peristiwa berbahasa melalui pendengaran, penglihatan, dan rabaan.

Misalnya,

a.    “Bukan dia guru saya, tetapi dia. Dia adalah Bapak saya.”

b.    “Kau boleh pergi, tetapi kau  harus tinggal di sini.”

Dalam kalimat (1) kita akan tahu siapa yang dimaksud dengan dia jika kita melihat langsung siapa yang ditunjuk oleh penutur. Demikian juga kau dalam kalimat (2).

Sebaliknya, penggunaan kata secara simbolis hanya memerlukan pengetahuan tentang faktor tempat dan waktu (kadang-kadang factor social juga) dari peristiwa berbahasa itu untuk dapat memahami siapa dan apa yang dimaksud dalam kalimat itu. Misalnya, hanya dengan pengetahuan tentang lokasi “umum” para pemeran dalam peristiwa berbahasa itu sudah cukup untuk memahami kota mana dan waktu kapan yang dimaksud dalam ujaran berikut:

a.    “Saya tidak dapat pulang tahun ini.”

b.    “Kota ini amat ramai.”

Melihat paparan dan contoh-contoh yang diberikan Nababan, tampaknya segala sesuatu yang berhubungan deiksis kinesik dan simbolik ini serupa dengan deiksis wacana, khususnya deiksis eksofora. Artinya, jika eksofora itu dirumuskan sebagai deiksis yang acuannya di luar tuturan atau ujaran, dan “baru bisa kita pahami jika kita melihat konteks tempat ujaran itu berlangsung”, maka dua contoh untuk deiksis kinesik di atas dapat juga dipakai untuk mencontoh deiksis eksofora. Dalam contoh tadi, deiksis persona dia dan kau mengacu kepada persona-persona di luar ujaran atau teks. Dalam rumusan deiksis kinesik dikatakan: “hanya dapat dipahami dengan pengamatan secara langsung” gerak anggota badan. Jadi, kinesik atau luar-tuturan tampaknya tergantung kepada titik pandang mana yang disasar. Jika titik pandang kita kepada teks dan konteks, kita berbicara tentang deiksis luar-tuturan. Jika titik pandang kita pada pengamatan langsung dan tidak langsung pada gerak anggota badan, maka kita berbicara tentang kinesik. Contoh-contoh untuk dieksis simbolik pun dapat dipakai untuk contoh deiksis luar-tuturan karena yang diacu oleh kota ini dan tahun ini sebenarnya tidak ada di dalam teks melainkan di luarnya. Kita memang bisa mengetahui apa yang diacu kota ini kalau kita berada di kota ketika ujaran itu terucapkan; dan tahun ini jelas mengacu kepada tahun ketika ujaran itu terucapkan.

 

 

 

Rabu, 18 Februari 2026

Makalah Materi Drama_Kajian dan Apresiasi Drama_Jurusan Bahasa Indonesia

 Berikut Contoh Makalah Tentang Drama!


MAKALAH

KAJIAN DAN APRESIASI DRAMA BAHASA INDONESIA

 

DISUSUN: KELOMPOK 2 / 5D

 
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018



KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah, tak lupa penyusun memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun masih diberi kesehatan yang tidak ternilai harganya. Berkat rahmat-Nya pula, penyusun masih diberi kesempatan untuk menyusun makalah ini.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallambeserta keluarga dan para sahabatnya. Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam telah menuntun umat islam dari zaman kebodohan menuju zaman ilmu pengetahuan. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada.

Makalah ini dibuat untuk menambah wawasan teman-teman tentang Kajian dan Apresiasi Drama. Makalah ini juga sekaligus memenuhi kewajiban penyusun dalam menyelesaikan tugas kuliah. Makalah ini membahas tentang Kajian dan Apresiasi Drama yang berjudul “Klasifikasi Dan Aliran Drama dan Penggerak Teater Di Indonesia”. Adapun isi makalah ini, yaitu: klasifikasi drama, Aliran-aliran drama, jenis drama berdasarkan konsepnya dan nama penggerakan teater di indonesia.

Penyusun juga berterima kasih kepada Azis Nojeng sebagai dosen pengampuh mata kuliah, Kajian dan Apresiasi Drama karena beliau tidak pernah bosan untuk mengarahkan penyusun agar lebih baik lagi. Makalah ini tentu mempunyai banyak hambatan dari yang terkecil sampai yang terbesar. Namun, berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari orang tua penyusun yang selalu memberikan sumbangsi material dan doa, sehingga kendala-kendala yang penyusun hadapi bisa teratasi.

Terima kasih kepada teman-teman kelompok II, yaitu Putri salistyandari Sri Wanda Wahyuni, Rahmania hafsari, Irvan dan Sri Mardianti atas partisipasinya yang telah mendedikasikan fikiran, tenaga, waktu, dan materialnya dalam proses penyusunan makalah ini. Makalah ini disusun dengan penuh kesabaran dan rintangan, baik yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Terima kasih juga kepada pihak yang telah membantu penyusun dalam percetakan makalah dari awal pembuatan makalah hingga selesai. Karena tanpa bantuan percetakan tentu penyusun tidak bisa menyelesaikan makalah ini dalam bentuk yang diinginkan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih leluasa dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca ataupun pendengar khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar. Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurnah untuk itu kepada pembaca, penulis meminta kritik dan saran demi perbaikan makalah dimasa yang akan datang. Wabillahi taufiq wal hidayah fastabikul khaerat, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 


Makassar,     November 2018

 Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

 

SAMPUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

A.  KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA DAN

1.         Klasifikasi Drama

2.         Aliran-Aliran Drama

3.         Jenis Drama Berdasarkan Konsepnya

B.  PENGGERAK TEATER DI INDONESIA

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi. Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan.  Perkataan drama berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak atau beraksi.

Lebih lanjut istilah drama dalam sejarah perkembangannya di Indonesia dikenal dengan beberapa istilah, diantaranya : Sandiwara, yang diambil dari bahasa Jawa “sandhi” dan “warah” yang berarti pelajaran yang diberikan secara diam-diam atau rahasia (sandi artinya rahasia dan warah artinya pelajaran. Lakon, yang berasal dari bahasa Jawa ini mempunyai arti perjalanan cerita (biasanya dikenal dalam pementasan wayang). Oleh karena itu pementasan drama tentunya banyak menghadirkan cerita yang berbeda-beda antara pengarang yang satu dengan yang lainnya sehingga dapat melahirkan klasifikasi drama.

 

 

BAB II

KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA DAN PENGGERAK TEATER DI INDONESIA

 

A.  KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA

1.    Klasifikasi Drama

Klasifikasi drama didasarkan atas tanggapan manusia terhadap kehidupan. Berbicara pengertian drama secara luas kajiannya, tidaklah berkutat pada pengertian-pengertian semata, tetapi sebagai karya sastra.

Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan ini dari sisi yang menggembirakan dan sebaliknya dapat juga dari sisi yang menyedihkan. Dapat juga seseorang memberikan variasi antara sedih dan gembira mencampurkan dua sikap itu karena dalam kehidupan yang real manusia tidak selalu sedih dan tidak selalu gembira.

Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan dengan berbagai problemaktinya sehingga memberikan nuansa yang bervariasi baik dalam keadaan sedih maupun gembira dalam kehidupan dunia pentas (drama). Oleh karena itu pementasan drama tentunya banyak menghadirkan cerita yang berbeda-beda antara pengarang yang satu dengan yang lainnya sehingga dapat melahirkan klasifikasi drama.

 

2.    Aliran – Aliran Drama

Selain klasifikasi drama diatas, dapat juga dilihat dari alirannya dan sifat-sifatnya. Walaupun sifat tersebut tidak menjadi corak kaki (pijakaan) tetapi hanya dapat menjadi ciri pokok saja karena tidak ada drama yang berpijak pada satu aliran atau sifat secara mutlak seratus persen, tetapi kecendrungan menganut lebih dari satu aliran atau sifat drama. Adapun klasifikasi drama berdasarkan aliran atau sifatnya, di antaranya :

a. Aliran klasik. Drama dengan aliran ini mempunyai beberapa ciri-ciri;

 1) tunduk pada hukum trilogy Aristoteles,

2) actingnya bergaya deklamasi,

3) drama lirik lebih banyak ditulis,

4) irama permainan lamban, banyak diselingi dengan monolog bersifat statis, dan

 5) materi cerita bergaya Romawi dan Yunani

b.  Aliran romantik. Drama ini bertentangan dengan drama aliran klasik, dengan tidak mematuhi hukum drama tetap (trilogy Aristoteles), dengan ciri-ciri:

1) kebebasan bentuk,

2) isi yang fantastis dan sering tidak logis,

3) materinya bunuh-membunuh, teriakan dalam gelap, korban pembunuhan yang hidup kembali dan tokoh-tokohnya sentmentil,

4) mementingkan keindahan bahasa,

5) dalam penyutradaraan segi visual ditonjolkan, dan

6) actingnya bombastis, bernafsu, mimic yang berlebih-lebihan.

c.  Aliran realis, dalam hal ini naskah yang ditampakkan lebih pada pencapaian ilusi atas penggambaran kenyataan dalam pentas. Terdapat dua realisme, yaitu:

1) reslisme sosial dengan ciri-ciri;

a) peran-peran utama biasanya rakyat jelata, petani, buruh dan sebagainya,

 b) aktingnya wajar seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Dan

 2) realisme psykologis, dengan ciri-ciri;

a) lebih menonjolkan aspek kejiwaan tokoh atau lakon,

b) settingnya bersifat wajar dengan intonasi yang tepat,

c) suasana digambarkan dengan simbolik (perlambangan), dan lebih mementingkan konflik psikologis dari pada konflik fisik

d.  Aliran ekspresionis, ialah seni menyatakan dengan menonjolkan perasaan atau pikiran pengarang, dengan ciri-ciri:

1) pergantian adengan cepat,

2) penggunaa pentas ekstrem, dan

3) fragmen-fragmen yang film-isme (meniru gaya dan cara film)

e. Aliran naturalis, aliran ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari realisme dengan menampakkan kenyataan yang digambarkan diusahakan mungkin dengan kenyataan alam (natural), sehingga penampilan mendekati alam sesungguhnya, dan bukan alam tiruan (lukisan dekor semata)

f. Aliran eksistensialis, dengan menampilkan tokoh-tokoh yang sadar akan esksistensi (keberadaan) dalam drama yang mengutamakan kebebasan tokoh (kemandirian kuat) akan rohaniyah dan jasmaniah bahkan dikatakan mutlak. Kemandirian menjadi ciri-ciri eksistensi diri yang hendak membentuk kebebasan setinggi-tingginya. Oleh karena itu sang tokoh bicara seenaknya, sehingga lakon kehilangan kontek dengan lawan bicaranya.

 

3.    Klasifikasi Drama Berdasarkan Konsepnya

a.      Tragedi

Tragedi adalah jenis drama yang melukiskan cerita penuh kesedihan dan kemalangan. Tokoh dalam drama tragedi biasa disebut sebagai “tragic hero” yang memiliki arti yaitu seorang pahlawan mengalami nasib tragis, seperti ketidakberuntungan, kesialan, dan lainnya. Contoh drama jenis tragedi yang terkenal adalah garapan penulis Inggris yang berjudul Doctor Faustus, dan masih banyak lainnya. Sementara drama tragedi garapan William Shakespeare yang terkenal yaitu berjudul Hamlet, Othello, dan Macbeth.

b.      Komedi

Komedi adalah jenis drama yang bersifat menghibur dengan unsur jenaka di dalamnya. Dalam naskah drama komedi, akan terdapat dialog lucu yang menyindir dan biasanya memiliki ending yang bahagia. Begitu pula dengan tokoh dalam drama komedi yang memiliki karakter lucu, jenaka, tetapi juga bijaksana. Tujuan dari drama jenis komedi adalah untuk menghibur penonton. Komedi memiliki beberapa sub-genre tergantung dari konteks cerita yang akan dibawa oleh penulis, serta cara pembawaan dialog, yang meliputi lelucon dan sindiran. Salah satu contoh drama komedi yang terkenal yaitu berjudul A Midsummer Night’s Dream garapan William Shakespeare.

 

B.  PENGGERAK TEATER DI INDONESIA

1.      W.S. RENDRA

W.S. Rendra yang memiliki nama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Sejak muda, dia menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada, dan dari perguruan tinggi itu pulalah dia menerima gelar Doktor Honoris Causa. Penyair yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak"], ini, tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra melahirkan banyak seniman antara lain Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain. .

a.    Kehidupan Pribadi

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya.

b.    Pendidikan

1)   TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.

2)   SD s.d. SMA Katolik, SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo (tamat pada tahun 1955).

3)   Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

4)   Mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967).

c.    Rendra sebagai sastrawan

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia pertama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun '60-an dan tahun '70-an. Kaki Palsu adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan Orang-orang di Tikungan Jalan adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta.)

d.    Bengkel Teater dan Bengkel Teater Rendra

Pada tahun 1967, sepulang dari Amerika Serikat, ia mendirikan Bengkel Teater yang sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun sejak 1977 ia mendapat kesulitan untuk tampil di muka publik baik untuk mempertunjukkan karya dramanya maupun membacakan puisinya. Kelompok teaternya pun tak pelak sukar bertahan. Untuk menanggulangi ekonominya Rendra hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok. Pada 1985, Rendra mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih berdiri sampai sekarang dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya. Bengkel teater ini berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar yang terdiri dari bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan sanggar untuk latihan drama dan tari.

e.    Penghargaan

1)   Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)

2)   Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)

3)   Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)

4)   Hadiah Akademi Jakarta (1975)

5)   Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)

6)   Penghargaan Adam Malik (1989)

7)   The S.E.A. Write Award (1996)

8)   Penghargaan Achmad Bakri (2006).

kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ke-3 yang memberinya dua anak, yaitu Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

f.     Beberapa karya

Drama

1)   Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)

2)   Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) – 1967

3)   SEKDA (1977)

4)   Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 6 kali)

5)   Mastodon dan Burung Kondor (1972)

6)   Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali

2.      TEGUH KARYA

Teguh Karya lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941, merupakan anak kedua Mohammad Adnan. Arifin menamatkan SD di Taman Siswa, Cirebon, SMP Muhammadiyah, Cirebon, lalu SMA Negeri Cirebon tetapi tidak tamat, kemudian pindah ke SMA Jurnalistik, Solo. Setelah itu ia kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Ia mulai menulis cerita pendek dan puisi sejak SMP dan mengirimkannya ke majalah yang terbit di Cirebon dan Bandung. Semasa sekolah ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi anggota Himpunan Peminat Sastra Surakarta sambil mencanangkan Hari Puisi. Di sini ia menemukan latar belakang teaternya yang kuat. Dalam kelompok drama bentukan W.S. Rendra tersebut ia juga mulai menulis dan menyutradarai lakon-lakonnya sendiri, seperti Kapai Kapai, Tengul, Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja. Kemudian saat kuliah, ia bergabung dengan Teater Muslim yang dipimpin Mohammad Diponegoro. Ia kemudian hijrah ke Jakarta dan mendirikan Teater Kecil pada tahun 1968.

Tahun 1972-1973 ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa, Amerika Serikat.

 

3.   ARIFIN C. NOER

Arifin lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941, merupakan anak kedua Mohammad Adnan. Arifin menamatkan SD di Taman Siswa, Cirebon, SMP Muhammadiyah, Cirebon, lalu SMA Negeri Cirebon tetapi tidak tamat, kemudian pindah ke SMA Jurnalistik, Solo. Setelah itu ia kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Ia mulai menulis cerita pendek dan puisi sejak SMP dan mengirimkannya ke majalah yang terbit di Cirebon dan Bandung. Semasa sekolah ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi anggota Himpunan Peminat Sastra Surakarta sambil mencanangkan Hari Puisi. Tahun 1972-1973 ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa, Amerika Serikat.

1.    Karier

Di tengah minat dan impiannya sebagai seniman, Arifin sempat meniti karier sebagai manajer personalia Yayasan Dana Bantuan Haji Indonesia dan wartawan Harian Pelopor Baru. Mengaku otodidak di bidang sinematografi, ia mulai bekerja dengan kamera ketika Wim Umboh membuat film Kugapai Cintamu, 1976. Arifin merasakan pengalaman sebagai sutradara teater merupakan dasar yang perlu di dunia film. Debut penyutradaraannya adalah Suci Sang Primadona yang diproduseri PT Gramedia Film.  Selain terlibat di bidang teater dan film, ia juga menulis puisi.

 

4. PUTU WIJAYA

Putu Wijaya adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, baik anggota keluarga dekat dan jauh. Putu mempunyai kebiasaan membaca sejak kecil. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak dan ibunya yang bernama Mekel Ermawati. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.

Pendidikan

 

3.      NANO RIANTIARNO

Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Ia bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia dan ikut mendirikan Teater populer pada 1968. Pada 1 Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok teater yang paling produktif di Indonesia saat ini.[1] Hingga 2006, kelompok ini telah menggelar sekitar 111 produksi panggung dan televisi.

Nano sendiri menulis sebagian besar karya panggungnya, antara lain:

4.      AKHUDIAT

Akhudiat, lahir di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, pada tanggal 5 Mei 1946. Ayahnya, Akwan (lahir tahun 1925), adalah seorang petani yang tekun di desa Karanganyar, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan ibunya, bernama Musarapah (kelahiran tahun 1930).

   

5.      YOSEPH ISKANDAR

             Yoseph Iskandar, lahir di Purwakarta, 11 Januari 1953 – meninggal di Ujungberung, Bandung, 26 Maret 2008 pada umur 55 tahun. Pengarang cerpen, novel, roman, dan drama dalam bahasa Sunda. Lulus dari SMA, Yoseph masuk ke ATPU (Akademi Teknik Pekerjaan Umum) di Bandung. Tapi ia lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan kesenian mahasiswa daripada kuliah. Ia pernah memimpin “Teater Khas" (1977-1981). Kemudian ia memilih untuk meninggalkan dunia teknik. Karya-karyanya yang sudah dibukukan di antaranya:

  1. Perang Bubat (1988)
  2. Wastu Kancana (1989)
  3. Prabu Wangisutah (1991)
  4. Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana (1991)
  5. Pamanahrasa (1991)
  6. Putri Subanglarang (1991)
  7. Prabu Anom Jayadéwata (1996)
  8. Tri Tangtu di Bumi

6.      Ali Shahab (lahir di Jakarta, 22 September 1941; umur 77 tahun) adalah seorang wartawan dan sutradara senior Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah sinetron Rumah Masa Depan yang ditayangkan di TVRI pada era 1980-an. Selain itu, ia juga menulis beberapa novel remaja bernuansa Islami.

1.      Ali adalah adik kandung dari wartawan dan budayawan Alwi Shahab.

2.      Ali Shahab (lahir di Jakarta, 22 September 1941; umur 77 tahun) adalah seorang wartawan dan sutradara senior Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah sinetron Rumah Masa Depan yang ditayangkan di TVRI pada era 1980-an. Selain itu, ia juga menulis beberapa novel remaja bernuansa Islami.

3.      Ali adalah adik kandung dari wartawan dan budayawan Alwi Shahab.

Sinetron

  • Rumah Masa Depan (1980)
  • Nyai Dasimah
  • Putri Malam
  • Zalsa (2000)


BAB III

PENUTUP

 

A.  SIMPULAN

Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi. Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan.  Perkataan drama berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak atau beraksi.

 

Klasifikasi drama didasarkan atas tanggapan manusia terhadap kehidupan. Berbicara pengertian drama secara luas kajiannya, tidaklah berkutat pada pengertian-pengertian semata, tetapi sebagai karya sastra.

 

penggerak teater di indonesia

1.    W.s Rendra

2.    Arifin C. Noer

3.    Teguh Karya

4.    Putu Wijaya

5.    Nano Riantiarno

6.    Akhudiat

7.    Yoseph Iskandar

8.    Ali Shahab


B.  SARAN

Demikianlah makalah yang penulis buat, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca terutama bagi penulis. Penulis mohon maaf bila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas. penulis hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. penulis juga sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi perbaikan makalah ini. Sekian dari kami, dan terima kasih atas partisipasinya dalam perbaikan makalah ini. Wabillahi taufiq wal hidayah fastabikul khaerat, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu.