DEIKSIS
Deiksis
berasal dari kata Yunani kuno yang berarti “menunjukkan atau menunjuk”. Dengan
kata lain informasi kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk
pada hal tertentu baik benda, tempat, ataupun waktu itulah yang disebut dengan
deiksis. Deiksis didefinisikan sebagai ungkapan yang terikat dengan konteksnya.
Contohnya dalam kalimat “Saya mencintai dia”, informasi dari kata ganti “saya”
dan “dia” hanya dapat di telusuri dari konteks ujaran. Ungkapan-ungkapan yang
hanya diketahui hanya dari konteks ujaran itulah yang di sebut deiksis.
Dalam
KBBI deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar
bahasa. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen
berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Menurut Bambang Yudi
Cahyono (1995: 217), deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat
tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna
yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan.
Deiksis
dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa,
proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam
hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh
pembicara atau yang diajak bicara (Lyons, 1977: 637 via Djajasudarma, 1993:
43).
Menurut
Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila
rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung siapa yang menjadi
pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Dalam bidang linguistik
terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi, yaitu kata atau
frase yang menunjuk kata, frase atau ungkapan yang akan diberikan. Rujukan
semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan, 1997: 6).
Pengertian
deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai
luar tuturan, dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si
pembicara, yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan
anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang
maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons, 1977: 638 via Setiawan,
1997: 6).
Berdasarkan
beberapa pendapat, dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala
semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat
ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar
bahasa seperti kata tunjuk, pronomina, dan sebagainya. Perujukan atau
penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut
anafora. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian.
Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora.
Fenomena
deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara
bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini,
sekarang adalah kata-kata deiksis. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang
tetap. Referen kata saya, sini, sekarang baru dapat diketahui maknanya jika
diketahui pula siapa, di tempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan.
Jadi, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur.
JENIS
DEIKSIS
Dalam kajian pragmatik dikenal
adanya enam jenis deiksis yaitu deiksis persona, (orang), penunjuk, tempat,
waktu, wacana, dan sosial. Berikut akan dipaparkan keenam deiksis tersebut.
1.
Deiksis Persona
Deiksis persona
secara langsung diwujudkan dalam kategori gramatikal tentang persona (orang),
menjadi persona 1, persona 2 dan persona 3. Berbeda dengan persona pertama dan
kedua, persona 3 tidak berhubungan langsung dengan peran partisipan apapun
dalam tiap peristiwa tutur. Dalam deiksis persona yang menjadi kriteria adalah
peran partisipan yaitu peran sebagai penutur (orang ke-1), sebagai pendengar
(orang ke-2), dan “yang dibicarakan” menjadi orang ke-3. Cara yang lazim untuk
mengkodekan deiksis persona adalah dengan memakai pronominal (kata ganti
orang), seperti: saya, aku, kamu, engkau, ia, dia, beliau, kami, kita, mereka,
atau memakai nama diri seperti: saudara, bapak, ibu, tuan, dsb. (untuk orang
ke-2). Selain itu, deiksis persona juga mencakupi bentuk-bentuk lain dari
pronominal tersebut, seperti: ku-, -ku, -mu, -nya, dan kau.
2.
Deiksis Penunjuk
Dalam bahasa
Indonesia kita menyebutnya demonstratif (kata ganti penunjuk). Kata ini
digunakan untuk menunjuk sesuatu yang dekat dengan penutur, dan itu digunakan
untuk menunjuk sesuatu yang jauh dari penutur. “Sesuatu” itu bukan hanya benda
atau barang melainkan juga keadaan, peristiwa, bahkan waktu. Berikut
contoh-contohnya:
a.
Masalah ini harus
kita selesaikan segera.
b.
Ketika peristiwa
itu terjadi, saya masih kecil.
c.
Saat ini saya belum
bisa ngomong.
3.
Deiksis Tempat
Deiksis tempat dan deiksis ruang
berkaitan dengan spesifikasi tempat relatif ke titik labuh dalam peristiwa
tutur. Pentingnya spesifikasi tempat ini tampak pada kenyataan bahwa ada dua
cara mendasar dalam mengacu objek, yaitu dengan mendeskripsikan atau menyebut
objek atau dengan menempatkannya di suatu lokasi. Lokasi itu dapat
dispesifikasikan relatif kepada objek atau titik acuan yang pasti. Misalnya:
a.
Stasiun kereta api itu terletak 200
meter dari gereja katedral
b.
Bedugul terletak 1.500 meter di atas
permukaan laut
Secara
deiksis keduanya dapat dispesifikasikan relatif kepada lokasi partisipan pada
saat berbicara, seperti dalam:
a.
Stasiun itu 200 meter dari sini
b.
Bedugul itu sama dinginnya dengan di
sini
Deiksis
tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang (tempat) dipandang dari
lokasi pemeran dalam peristiwa tutur. Deiksis tempat berhubungan dengan deiksis
penunjuk “ini dan itu”. Di dalam menganalisis kalimat, semua bagian kalimat
yang mengacu tempat disebut juga adverbial, dan kata-kata begini biasanya
didahului dengan kata di, dalam atau pada, membentuk frase depan. Misalnya, di
rumah, pada bangku, dalam kamar. Frase-frase semacam itu tampaknya tidak
digolongkan ke dalam deiksis karena acuannya tetap, karena kata rumah, kamar,
bangku, kapan pun dan dimana pun, mempunyai acuan yang tetap; berbeda dengan
sini dan sana. Hanya perlu diingat bahwa
kedua deiksis ini biasa didahului dengan di dan ke, menjadi di sini dan di
sana; ke sini dan ke sana. Masih bisa dipertanyakan adalah kata ke mana dan di
mana, dalam kalimat seperti:
a.
Ke mana dia pergi?
b.
Entah, saya taruh di mana pensil
tadi
c.
Saya tak tahu dia ke mana dan di
mana
Kata-kata
tersebut tergolong keterangan tempat; acuannya bukan hanya “tidak tetap” tetapi
bahkan “tidak jelas”. Dengan pengertian acuan yang “tidak jelas” itu barangkali
kata-kata ini dapat digolongkan deiksis tempat, karena “tidak jelas” berarti
“bisa di mana-mana”, di sembarang tempat, dan tidak pasti.
4.
Deiksis Waktu
Deiksis ini, yang di dalam tata
bahasa disebut adverbial atau keteangan waktu, adalah pengungkapan kepada titik
atau jarak waktu dipandang dari saat suatu ujaran terjadi, atau pada saat
seorang penutur berujar. Waktu ketika ujaran terjadi diungkapkan dengan
sekarang atau saat ini. Untuk waktu-waktu berikutnya terdapat kata-kata besok,
lusa, nanti, kelak; untuk waktu “sebelum” waktu terjadinya ad kita menemukan
tadi, kemarin, minggu lalu, ketika itu, dahulu. Dasar untuk menghitung dan
mengukur waktu dalam banyak bahasa tampak bersifat siklus alami dan nyata, aitu
siklus hari dan malam (dari pagi sampai malam hari), hari (dalam satu minggu
dengan nama-namanya), bulan (berikut nama-namanya), musim (di Indonesia ada
musim hujan dan musim kemarau), dan tahun. Satu-satuan waktu itu dapat digunakan
baik sebagai pengukur (sekian hari, sekian bulan, sekian tahun) atau sebagai
kalender untuk menempatkan peristiwa tutur dalam waktu pasti (jam ini hari ini
bulan ini tahun ini).
Dalam hal deiksis waktu patut
dicatat pentingnya membedakan saat ujaran (atau saat menullis) atau waktu
pengenkodean (coding time = CT) dan waktu penerimaan (receiving time = RT).
Sebagaimana sudah disinggung ketika kita berbicara tentang situasi kanonik, RT
dapat diasumsikan identik dengan CT karena situasinya adalah situasi tatap
muka. Jika tidak dalam situasi tatap muka, kita bisa menemui kesulitan. Kita
lihat, misalnya, bagaimana deksis waktu berinteraksi dengan ukuran-kultural
seperti kata hari ini, kemarin dan besok. Kita dapat mengatakan, misalnya,
bahwa hari ini berarti ‘rentang waktu termasuk CT’, dan kemarin berarti ‘rentan
hari sebelum rentang waktu termasuk CT/, dst. Tetapi bisa jadi kemarin mengacu
kepada dua acuan yaitu (i) mengacu kepada rentang waktu yang utuh seperti pada
kallimat Kemarin adalah hari Rabu; atau (ii) mengacu kepada sebagian dari
rentang waktu itu: Kemarin dia memanggang ikan.
Waktu juga tidak jelas jika kita menerima “janji begini: Sampai ketemu hari Minggu ya. Dapat
dipertanyakan, Minggu itu mengacu ke hari Minggu depan, atau Minggu-minggu lain
di masa depan.
Aspek lain yang menunjukkan
interaksi antara perhitungan menurut kalender dengan deiksis waktu tampak
ketika kita mempertimbangkan keterangan waktu sepaerti Selasa lalu, tahun
depan, bulan berikutnya, sore nanti, mala ini. Semua itu merupakan gabungan antara
“keterangan” deiksis, yaitu lalu, depan, berikutnya, nanti ini, dengan nama
nondeiksis, atau kata-pengukur yaitu Selasa, tahun, bulan, sore, dan malam.
Sebagaimana batasan deiksis, yang
mempunyai referen yang tidak tetap, deiksis waktu pun mengacu kepada rentang
waktu yang dapat berubah-ubah. Perhatikan beberapa contoh berikut: kata
sekarang mengacu kepada (1) saat penutur berbicara sampai dengan (5) waktu yang
sangat panjang tetappi tidak jelas batasnya.
a.
Karena kamu sudah ngomong, maka
sekarang saya ganti gomong.
b.
Sekarang hari Minggu, besok…senin.
c.
Janjinya Minggu kedua Januari,
sekarang sudah Minggu ketiga.
d.
Seharusnya tahun 2002, ya… sekarang,
dia pensiun.
e.
Sekarang kan zaman edan, jadi semua
orang pun edan.
5.
Deiksis Wacana
Berbeda dengan keempat deiksis yang
sudah disebut, yang mengacu kepada referen tertentu meskipun referen itu
berubah-ubah, deiksis wacana harus dirumuskan dengan lebih dahulu melihatnya di
dalam wacana tertentu. Deiksis di sini, misalnya, dapat dikatakan mengacu
kepada tempat yang dekat dengan penutur. Deiksis wacana, atau deiksis teks,
tidak dapat dikatakan dengan cara begitu. Deiksis wacana adalah mengacu kepada
bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diperankan (sebelumnya) dan atau
yang sedang dikembangkan (yang akan terjadi). Deiksis wacana berhubungan dengan
penggunaan ungkapan di dalam suatu ujaran untuk mengacu kepada suatu bagian
wacana yang mengandung ujaran itu (termasuk ujaran itu sendiri). Kita juga dapat
memasukkan ke dalam deiksis wacana sejumlah cara lain di mana sebuah ujaran
mensinyalkan hubungan dengan teks yang mengelilinginya. Misalnya, karena wacana
itu mengungkapkan waktu, maka wajar saja jika kata-kata deiksis waktu dapat
dipakai untuk mengacu kapada bagian-bagian wacana tersebut. Begitulah, jika
mempunyai deiksis waktu seperti Minggu, bulan berikut, awal tahun, maka untuk
deiksis wacana kita dapat juga memakai bentuk akhir paragraf, bab berikut, awal
paragraph, dsb. Dalam bahasa Indonesia kata-kata demikian biasanya didahului
dengan preposisi seperti di, pada, dalam.
Contoh:
Hal itu sudah dikemukakan pada akhir
bab.
Perhatikan awal paragraph ketiga.
Bab berikut membahas tentang rangkum
buku.
Dua contoh pertama menunjukkan bahwa
deiksis wacana mengacu kepada bagian wacana yang sudah disebut atau yang sudah
ada, sedangkan pada contoh terakhir deiksis wacana mengacu kepada bagian wacana
yang ada di belakangnya.
Kita juga mempunyai kata deiksis
tempat yang dapat digunakan terutama demonsratif ini, itu, di situ, begini,
begitu, demikian yang dapat mengacu kepada bagian tertentu dari wacana. Contoh:
Saya percaya Anda belum pernah
mendengarkan cerita ini.
Itu cerita paling lucu yang pernah
saya dengar.
Di sini sudah tampak keraguan
penulis.
6.
Deiksis Sosial
Deiksis sosial berhubungan dengan
aspek-asek kalimat yang mencerminkan kenyataan-kenyataan tertentu tentang
situasi sosial ketika tindak tutur terjadi. Deiksis sosial menunjukkan
perbedaan-perbedaan sosial (perbedaan yang disebabkan oleh factor-faktor social
seperti jenis kelamin, usia, kedudukan didalam masyarakat, pendidikan,
pekerjaan, dsb. yang ada para partisipan
dalam sebuah komunikasi verbal yang nyata, terutama yang berhubungan dengan
segi hubungan peran antara penutur dan petutur, atau penutur dengan topik atau
acuan lainnya. Dapat dikatan bahwa deiksis social itu adalah deiksis yang
disamping mengacu keadaan referen tertentu, juga mengandung konotasi social
tertentu, khusus nyaa para deiksis persona. Dalam bahasa Indonesia hal itu
tampak, misalnya dalam penggunaan kata sapaan kamu, kau, anda, saudara, Tuan,
Bapak, Ibu, dsb. Dan deiksis persona bagii penutur seperti saya, aku, hamba,
patik, atau enggunaan nama diri. Dalam bahasa yang mengenal tingkatan-tingkatan
(unda usuk) bahasa, seperti bahasa jawa, perbedaan itu diwujudkaan dalam
bentuk-bentuk yang berbeda. Beberapa contoh;
a.
Majikan : “ Inem “
Pembantu
: “ saya Tuan “
b.
(dalam bahasa jawa ) Majikan : “Inem
“
Pembantu : “
Dalem, ndara “
Penggunaan
saya ( dalem ) dan Tuan ( ndara ) menunjukkan hubungan social antara dua orang
yang kedudukannya tidak sejajar (tidak seemitris), seperti hubungan antara majikan
dan pembantunya.
Jadi,
sebenarnya ada banyak aspek pengguna bahasa yang bergantung kepada hubungan
sosial antara penutur-penutur itu, tetapi penggunaan ini hanya relevan bagi
deiksis sosial yang sudah digramatikalkan, seperti pronominal yang mengandung
rasa “sopan “ dan kata sapa. Harus ada pula diakui adanya banyak manifeestasi
dari deiksisis social dikodekan dalam banyak bahasa, yaitu relasional
(relation) dan mutlak (absolute) yang relasion itu berhubungan dengan
relasi-relasi antara:
a.
Penutur dan acuan (misalnya
honorifiks acuan)
b.
Penutur dan petutur (misalnya
honorifiks petutur)
c.
Penutur dan pendengar/penonton yang
bukan petutur (misalnya honorifiks pendengar)
d.
Penutur dan latar (misalnya
tingkat-tingkat formalitas)
Ragam
hubungan itu menjadi amat rumit dalam bahasa-bahasa yang mengenal
tingkat-tingkat tutur, atau unda usuk (bahasa jawa) atau sor-singgih (bahasa
bali)
BENTUK
DEIKSIS
Tentang bentuk deiksis biasanya dihubungkan
dengan jumlah pendukungnya. Dari situ dapat dilihat adanya golongan deiksis
yang berikut:
1.
Deiksis Morfem, yakni deiksis yang
tidak berbentuk kata sebagai morfem bebas, melainkan berbentuk morfem terikat,
seperti awalan atau akhiran. Misalnya, ku- (diikuti verba), -ku, -mu,-nya
(seperti dalam miliku, memandangmu, di depannya).
2.
Deiksis kata, yakni deiksis yang
hanya terdiri dari satu kata, seperti: ini, sana, aku, begitu, ia, sekarang,
kelak, Tuan, hamba.
3.
Deiksis frase, yakni deiksis yang
terdiri dari dua kata atau lebih, misalnya: di sini, esok pagi, tuan hamba,
paduka tuan, pada waktu itu, di kelak kemudian hari.
Penggolongan deiksis sebagaimana dikemukakan di
atas bukanlah satu-satunya model penggolongan. Para penganut aliran pragmatik
yang lebih “modern” mengemukakan adanya pemillihan lain, yakni deiksis
luar-tuturan atau luar-ujaran atau luar-ujaran (atau eksofora) dan deiksis dalam-tuturan
atau dalam ujaran (atau endofora).
1.
Deiksis Luar-tuturan
Deiksis ini mencakupi empat deiksis
yang sudah disebut di atas, yakni deiksis persona, penunjuk, tempat, dan waktu.
Yang dimaksud dengan deiksis luar-tuturan adalah deiksis yang acuannya di luar
teks verbal, di luar apa yang diujarkan atau dituturkan, berada pada konteks
situasi. Teks adalah sepotong atau sepenggal bahasa lisan atau tertulis (Richards
dkk,..1985). Teks dapat dilihat dari segi strukturnya (misalnya, berupa kalimat
atau cakapan) dan atau fungsinya (misalnya untuk memperingatkan, menyuruh,
bertanya, dsb.) suatu pemahaman tuntas terhadap sebuah teks sering tidak
dimungkinkan tanpa melihat konteks tempat terjadinya teks itu. sebuah teks
dapat terdiri dari dari satu kata misalnya, “ masuk “ dan “keluar“ pada
pelataran parker; “BERBAHAYA“ sebagai peringatan yang tertempel pada gardu
listrik, atau teriakan “Api!” ketika kebakaran; atau dapat sangat panjang.
Ceramah, khotbah, novel, perdebatan.
Teks-teks sebagaimana dicontohkan di atas sering disebut wacana. Teks itu bukan
merupakan satuan gramatikal (sebagaimana morfem, frase, klausa, kalimat),
satuan yang lebih banyak diatur oleh kaidah gramatika, melainkan satuan
semantik.
Contoh anaphora:
Pak karta itu orang baik, istrinya
juga
Dia dan istrinya adalah orang baik
semua
Sekarang senin, jadi lusa adalah
hari Rabu.
Kita lihat bahwa deiksis- nya yang
ada dalam ujaran (tuturan) mengacu kepada dia (pak Karta) yang juga berada di
dalam ujaran atau teks yang sama. Deiksis waktu, lusa, juga mengacu kepada
Rabu, yang ada dalam teks ujaran.
2.
Deiksis dalam tuturan
Deiksis ini acuannya berada dalam
teks atau tuturan. Menurut Nababan mengenai deiksis wacana, yaitu yang
mencakupi anaphora dan katafora. Berbeda dengan Nababan, Kaswanti Purwo
mengatakan bahwa deiksis dalam tuturan dibagi dua yaitu anaphora dan katafora.
Jadi, deiksis dalam tuturan serupa dengan deiksis wacana. Deiksis anaphora
mengacu kepada sesuatu yang disebut; didalam teks tertulis deiksis ini tampak
mengacu kesebelah kiri atau kebagian atas. Sebaliknya, deiksis katafora mengacu
ke acuan ke sebelah kanan atau di bawahnya.
Contoh:
1.
“masalah ini diangap selesai, begitu
putusannya”
2.
“begini saja : ambil depositomu dan
bayar utangmu !”
3.
“hallo, selamat sore, saya, Paijo,
boleh saya bicara dengan Asiah ?”
Deiksis
begitu dan begini tidak mengacu kepada satu kata yang mewakili benda atau
peristiwa, melainkan kepada “seluruh ujaran” sebelum atau sesudahnya. Deiksis
ini bukan deiksis persona, tempat, waktu, karena itu perlu dicarikan istilah
sendiri: deiksis petunjuk.
Pada
contoh (3) kita berhadapan dengan apa yang di dalam gramatika disebut aposisi,
yaitu dua unsur kalimat (biasanya nomina) yang sederajat dan mempunyai acuan yang
sama atau setidak-tidaknya, salah satu unsur mancakupi acuan unsur yang lain.
Dalam contoh di atas saya dan Paijo kedudukannya dalam kalimat tersebut
sederajat dan mengacu kepada orang yang sama, dalam hal ini adalah penutur.
Dalam hal ini kita dapat mengatakan hal seperti ini: saya Paijo, tetapi Paijo
belum tentu saya, karena masih banyak Paijo-paijo yang lainnya. Padanannya:
mawar itu pasti bunga tetapi bunga belum tentu mawar.
PEMBALIKAN
DEIKSIS
Saat ini kita ketahui bahwa deiksis itu bersifat
egosentris, berpusat kepada “saya” yaitu penutur. Semua pengacuan atau
penunjukan bertitik labuh kepada penutur. Deiksis penunjuk ini mengacu kepada
sesuatu yang dekat dengan penutur, itu untuk sesuatu yang jauh dari penutur;
sekarang mengacu kepada waktu ketika penutur berbicara; sini mengacu kepada
tempat yang dekat dengan penutur ketika berbicara.
Namun, ada kenyataan bahwa pengacuan atau
penunjukan tersebut tidak bertitik labuh pada penutur, tidak bersifat
egosentris. Kaswanti Purwo mengatakan hal itu sebagai pembalikan deiksis.
Pembalikan seperti ini dapat terjadi pada deiksis luar-tuturan atau dalam
tuturan. Pembalikan deiksis luar-tuturan tampak pada percakapan lewat telepon
dan dalam surat (khususnya surat pribadi). Perhatikan percakapan telepon
berikut:
(1) Ani : “Halo……. Ade, ya?”
Ade : “ He-eh. Gimana, An?”
Ani : “Baik. Gimana kamu di sini?”
Ade : “Baik juga. Cuma hujan terus. Di sini hujan juga ya?”
Dalam wacana telepon di atas kata di sini yang
diujarkan Ani mengacu kepada tempat Ade, petutur atau pendengar, dan bukan
tempat Ani, penutur. Sebaliknya, di sini yang diujarkan Ade mengacu kepada
tempat Ani, yang bukan penutur, melainkan petutur atau pendengar. Jadi, titik
labuh itu dibalik dari penutur ke petutur.
Hal serupa juga terjadi pada surat berikut:
(3) Ade,
Surat Ade udah Ani terima. Trims. Gimana kabarmu
di sini? Udah ujan?
Kalo udah, anget dong; nggak kepanesan.
Ade nanya pacar Ani? Wah, Ani udah di–PHK lama
sekali.
Surat kedua karib ini memakai ragam santai dan
akrab. Dalam surat tadi, “di sini “mengacu kepada tempat penerima surat,
pembaca yang sepadan dengan petutur, bukan kepada penulis,yang sepadan dengan
penutur.
Di samping kedua hal tersebut, ada pula
kenyataan bahwa di dalam percakapan sering terjadi pengulangan ujaran penutur,
bukan oleh penuturnya sendiri melainkan oleh pendengar atau petuturnya. Dalam
hal seperti itu dapat terjadi pembalikan deiksis juga, yang biasa tutur
berbalik (echo utterance) atau penggunaan tutur berkutip (quotional use).
Perhatikan percakapan berikut:
A : “ Jangan paksa saya membunuh.
Tidak. Saya tak bisa.”
B : “ Apa katamu? “Saya tak bisa?”Saya
tak bisa? Harus bisa!”
Kita lihat deiksis saya pada A mengacu kepada
dirinya sendiri. Juga pada bagian ujaran yang berbunyi, “Saya tak bisa.” Namun,
pada B, ujaran si A tadi diulang atau “dikutip” oleh B (dan di dalam tulisan
pun ujaran tersebut diberi tanda kutip ‘----‘), sehingga deiksis saya yang
diujarkan oleh B (penutur) sebenarnya mengacu kepada A yang pada saat ujaran
itu dikutip, bertindak sebagai pendengar, bukan penutur. Jadi, ujaran B itu
berbalik kepada A dalam wujud pengguna “kutipan” bagian ujaran yang utuh dan
asli, dan deiksis persona ke-1 (saya) dipakai untuk “pengganti” persona ke-2
(kamu, kau).
PENJENISAN
LAIN DARI DEIKSIS
Di samping penjenisan deiksis menjadi enam
sebagaimana yang dikemukakan di depan, para pakar, antara lain Nababan, juga
menyebut penjenisan lain, yakni deiksis sejati dan taksejati, dan deiksis
kinesik dan simbolik.
Deiksis sejati adalah kata atau frase yang
maknanya dapat diterangkan seluruhnya dengan konsep deiksis tanpa
mengaitkannya, misalnya dengan kondisi social.
Deiksis sejati termasuk ke dalam kata-kata yang tergolong deiksis
persona, waktu, penunjuk, dan tempat: saya, dia, di sini, itu, sekarang, dsb.
Kata-kata tersebutlah yang selalu dipakai sebagai kata pengacu.
Deiksis taksejati adalah kata atau frase yang
maknanya hanya sebagian berupa deiksis dan sebagian fungsinya adalah
nondeiksis. Dapat pula dikatakan, deiksis ini di samping mempunyai fungsi
sebagai deiksis (sebagai pengacu acuan yang berubah-ubah) juga sebagai
nondeiksis (mempunyai makna lain yang tidak bersifat mengacu).
Deiksis kinesik dan simbolik dikemukakan oleh
FILLMORE (1971), yang masing-masing disebutkan gestural deictic usage
(penggunaan deiksis dengan gerak anggota tubuh) dan simbolik deictic usage
(penggunaan deiksis dengan lambang). Kata atau frase yag dipakai secara kinesik
dapat dipahami hanya dengan pengamatan langsung terhadap gerak anggota badan
(gesture), seperti acungan jari telunjuk, lambaian tangan, anggukan kepala,
dalam peristiwa berbahasa melalui pendengaran, penglihatan, dan rabaan.
Misalnya,
a.
“Bukan dia guru saya, tetapi dia.
Dia adalah Bapak saya.”
b.
“Kau boleh pergi, tetapi kau harus tinggal di sini.”
Dalam kalimat (1) kita akan tahu siapa yang
dimaksud dengan dia jika kita melihat langsung siapa yang ditunjuk oleh
penutur. Demikian juga kau dalam kalimat (2).
Sebaliknya, penggunaan kata secara simbolis
hanya memerlukan pengetahuan tentang faktor tempat dan waktu (kadang-kadang
factor social juga) dari peristiwa berbahasa itu untuk dapat memahami siapa dan
apa yang dimaksud dalam kalimat itu. Misalnya, hanya dengan pengetahuan tentang
lokasi “umum” para pemeran dalam peristiwa berbahasa itu sudah cukup untuk
memahami kota mana dan waktu kapan yang dimaksud dalam ujaran berikut:
a.
“Saya tidak dapat pulang tahun ini.”
b.
“Kota ini amat ramai.”
Melihat paparan dan contoh-contoh yang diberikan
Nababan, tampaknya segala sesuatu yang berhubungan deiksis kinesik dan simbolik
ini serupa dengan deiksis wacana, khususnya deiksis eksofora. Artinya, jika
eksofora itu dirumuskan sebagai deiksis yang acuannya di luar tuturan atau
ujaran, dan “baru bisa kita pahami jika kita melihat konteks tempat ujaran itu
berlangsung”, maka dua contoh untuk deiksis kinesik di atas dapat juga dipakai
untuk mencontoh deiksis eksofora. Dalam contoh tadi, deiksis persona dia dan
kau mengacu kepada persona-persona di luar ujaran atau teks. Dalam rumusan
deiksis kinesik dikatakan: “hanya dapat dipahami dengan pengamatan secara
langsung” gerak anggota badan. Jadi, kinesik atau luar-tuturan tampaknya
tergantung kepada titik pandang mana yang disasar. Jika titik pandang kita
kepada teks dan konteks, kita berbicara tentang deiksis luar-tuturan. Jika
titik pandang kita pada pengamatan langsung dan tidak langsung pada gerak
anggota badan, maka kita berbicara tentang kinesik. Contoh-contoh untuk dieksis
simbolik pun dapat dipakai untuk contoh deiksis luar-tuturan karena yang diacu
oleh kota ini dan tahun ini sebenarnya tidak ada di dalam teks melainkan di
luarnya. Kita memang bisa mengetahui apa yang diacu kota ini kalau kita berada
di kota ketika ujaran itu terucapkan; dan tahun ini jelas mengacu kepada tahun
ketika ujaran itu terucapkan.