Rabu, 18 Februari 2026

Makalah Materi Drama_Kajian dan Apresiasi Drama_Jurusan Bahasa Indonesia

 Berikut Contoh Makalah Tentang Drama!


MAKALAH

KAJIAN DAN APRESIASI DRAMA BAHASA INDONESIA

 

DISUSUN: KELOMPOK 2 / 5D

 
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018



KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah, tak lupa penyusun memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun masih diberi kesehatan yang tidak ternilai harganya. Berkat rahmat-Nya pula, penyusun masih diberi kesempatan untuk menyusun makalah ini.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallambeserta keluarga dan para sahabatnya. Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam telah menuntun umat islam dari zaman kebodohan menuju zaman ilmu pengetahuan. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada.

Makalah ini dibuat untuk menambah wawasan teman-teman tentang Kajian dan Apresiasi Drama. Makalah ini juga sekaligus memenuhi kewajiban penyusun dalam menyelesaikan tugas kuliah. Makalah ini membahas tentang Kajian dan Apresiasi Drama yang berjudul “Klasifikasi Dan Aliran Drama dan Penggerak Teater Di Indonesia”. Adapun isi makalah ini, yaitu: klasifikasi drama, Aliran-aliran drama, jenis drama berdasarkan konsepnya dan nama penggerakan teater di indonesia.

Penyusun juga berterima kasih kepada Azis Nojeng sebagai dosen pengampuh mata kuliah, Kajian dan Apresiasi Drama karena beliau tidak pernah bosan untuk mengarahkan penyusun agar lebih baik lagi. Makalah ini tentu mempunyai banyak hambatan dari yang terkecil sampai yang terbesar. Namun, berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari orang tua penyusun yang selalu memberikan sumbangsi material dan doa, sehingga kendala-kendala yang penyusun hadapi bisa teratasi.

Terima kasih kepada teman-teman kelompok II, yaitu Putri salistyandari Sri Wanda Wahyuni, Rahmania hafsari, Irvan dan Sri Mardianti atas partisipasinya yang telah mendedikasikan fikiran, tenaga, waktu, dan materialnya dalam proses penyusunan makalah ini. Makalah ini disusun dengan penuh kesabaran dan rintangan, baik yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Terima kasih juga kepada pihak yang telah membantu penyusun dalam percetakan makalah dari awal pembuatan makalah hingga selesai. Karena tanpa bantuan percetakan tentu penyusun tidak bisa menyelesaikan makalah ini dalam bentuk yang diinginkan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih leluasa dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca ataupun pendengar khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar. Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurnah untuk itu kepada pembaca, penulis meminta kritik dan saran demi perbaikan makalah dimasa yang akan datang. Wabillahi taufiq wal hidayah fastabikul khaerat, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 


Makassar,     November 2018

 Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

 

SAMPUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

A.  KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA DAN

1.         Klasifikasi Drama

2.         Aliran-Aliran Drama

3.         Jenis Drama Berdasarkan Konsepnya

B.  PENGGERAK TEATER DI INDONESIA

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi. Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan.  Perkataan drama berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak atau beraksi.

Lebih lanjut istilah drama dalam sejarah perkembangannya di Indonesia dikenal dengan beberapa istilah, diantaranya : Sandiwara, yang diambil dari bahasa Jawa “sandhi” dan “warah” yang berarti pelajaran yang diberikan secara diam-diam atau rahasia (sandi artinya rahasia dan warah artinya pelajaran. Lakon, yang berasal dari bahasa Jawa ini mempunyai arti perjalanan cerita (biasanya dikenal dalam pementasan wayang). Oleh karena itu pementasan drama tentunya banyak menghadirkan cerita yang berbeda-beda antara pengarang yang satu dengan yang lainnya sehingga dapat melahirkan klasifikasi drama.

 

 

BAB II

KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA DAN PENGGERAK TEATER DI INDONESIA

 

A.  KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA

1.    Klasifikasi Drama

Klasifikasi drama didasarkan atas tanggapan manusia terhadap kehidupan. Berbicara pengertian drama secara luas kajiannya, tidaklah berkutat pada pengertian-pengertian semata, tetapi sebagai karya sastra.

Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan ini dari sisi yang menggembirakan dan sebaliknya dapat juga dari sisi yang menyedihkan. Dapat juga seseorang memberikan variasi antara sedih dan gembira mencampurkan dua sikap itu karena dalam kehidupan yang real manusia tidak selalu sedih dan tidak selalu gembira.

Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan dengan berbagai problemaktinya sehingga memberikan nuansa yang bervariasi baik dalam keadaan sedih maupun gembira dalam kehidupan dunia pentas (drama). Oleh karena itu pementasan drama tentunya banyak menghadirkan cerita yang berbeda-beda antara pengarang yang satu dengan yang lainnya sehingga dapat melahirkan klasifikasi drama.

 

2.    Aliran – Aliran Drama

Selain klasifikasi drama diatas, dapat juga dilihat dari alirannya dan sifat-sifatnya. Walaupun sifat tersebut tidak menjadi corak kaki (pijakaan) tetapi hanya dapat menjadi ciri pokok saja karena tidak ada drama yang berpijak pada satu aliran atau sifat secara mutlak seratus persen, tetapi kecendrungan menganut lebih dari satu aliran atau sifat drama. Adapun klasifikasi drama berdasarkan aliran atau sifatnya, di antaranya :

a. Aliran klasik. Drama dengan aliran ini mempunyai beberapa ciri-ciri;

 1) tunduk pada hukum trilogy Aristoteles,

2) actingnya bergaya deklamasi,

3) drama lirik lebih banyak ditulis,

4) irama permainan lamban, banyak diselingi dengan monolog bersifat statis, dan

 5) materi cerita bergaya Romawi dan Yunani

b.  Aliran romantik. Drama ini bertentangan dengan drama aliran klasik, dengan tidak mematuhi hukum drama tetap (trilogy Aristoteles), dengan ciri-ciri:

1) kebebasan bentuk,

2) isi yang fantastis dan sering tidak logis,

3) materinya bunuh-membunuh, teriakan dalam gelap, korban pembunuhan yang hidup kembali dan tokoh-tokohnya sentmentil,

4) mementingkan keindahan bahasa,

5) dalam penyutradaraan segi visual ditonjolkan, dan

6) actingnya bombastis, bernafsu, mimic yang berlebih-lebihan.

c.  Aliran realis, dalam hal ini naskah yang ditampakkan lebih pada pencapaian ilusi atas penggambaran kenyataan dalam pentas. Terdapat dua realisme, yaitu:

1) reslisme sosial dengan ciri-ciri;

a) peran-peran utama biasanya rakyat jelata, petani, buruh dan sebagainya,

 b) aktingnya wajar seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Dan

 2) realisme psykologis, dengan ciri-ciri;

a) lebih menonjolkan aspek kejiwaan tokoh atau lakon,

b) settingnya bersifat wajar dengan intonasi yang tepat,

c) suasana digambarkan dengan simbolik (perlambangan), dan lebih mementingkan konflik psikologis dari pada konflik fisik

d.  Aliran ekspresionis, ialah seni menyatakan dengan menonjolkan perasaan atau pikiran pengarang, dengan ciri-ciri:

1) pergantian adengan cepat,

2) penggunaa pentas ekstrem, dan

3) fragmen-fragmen yang film-isme (meniru gaya dan cara film)

e. Aliran naturalis, aliran ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari realisme dengan menampakkan kenyataan yang digambarkan diusahakan mungkin dengan kenyataan alam (natural), sehingga penampilan mendekati alam sesungguhnya, dan bukan alam tiruan (lukisan dekor semata)

f. Aliran eksistensialis, dengan menampilkan tokoh-tokoh yang sadar akan esksistensi (keberadaan) dalam drama yang mengutamakan kebebasan tokoh (kemandirian kuat) akan rohaniyah dan jasmaniah bahkan dikatakan mutlak. Kemandirian menjadi ciri-ciri eksistensi diri yang hendak membentuk kebebasan setinggi-tingginya. Oleh karena itu sang tokoh bicara seenaknya, sehingga lakon kehilangan kontek dengan lawan bicaranya.

 

3.    Klasifikasi Drama Berdasarkan Konsepnya

a.      Tragedi

Tragedi adalah jenis drama yang melukiskan cerita penuh kesedihan dan kemalangan. Tokoh dalam drama tragedi biasa disebut sebagai “tragic hero” yang memiliki arti yaitu seorang pahlawan mengalami nasib tragis, seperti ketidakberuntungan, kesialan, dan lainnya. Contoh drama jenis tragedi yang terkenal adalah garapan penulis Inggris yang berjudul Doctor Faustus, dan masih banyak lainnya. Sementara drama tragedi garapan William Shakespeare yang terkenal yaitu berjudul Hamlet, Othello, dan Macbeth.

b.      Komedi

Komedi adalah jenis drama yang bersifat menghibur dengan unsur jenaka di dalamnya. Dalam naskah drama komedi, akan terdapat dialog lucu yang menyindir dan biasanya memiliki ending yang bahagia. Begitu pula dengan tokoh dalam drama komedi yang memiliki karakter lucu, jenaka, tetapi juga bijaksana. Tujuan dari drama jenis komedi adalah untuk menghibur penonton. Komedi memiliki beberapa sub-genre tergantung dari konteks cerita yang akan dibawa oleh penulis, serta cara pembawaan dialog, yang meliputi lelucon dan sindiran. Salah satu contoh drama komedi yang terkenal yaitu berjudul A Midsummer Night’s Dream garapan William Shakespeare.

 

B.  PENGGERAK TEATER DI INDONESIA

1.      W.S. RENDRA

W.S. Rendra yang memiliki nama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Sejak muda, dia menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada, dan dari perguruan tinggi itu pulalah dia menerima gelar Doktor Honoris Causa. Penyair yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak"], ini, tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra melahirkan banyak seniman antara lain Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain. .

a.    Kehidupan Pribadi

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya.

b.    Pendidikan

1)   TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.

2)   SD s.d. SMA Katolik, SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo (tamat pada tahun 1955).

3)   Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

4)   Mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967).

c.    Rendra sebagai sastrawan

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia pertama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun '60-an dan tahun '70-an. Kaki Palsu adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan Orang-orang di Tikungan Jalan adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta.)

d.    Bengkel Teater dan Bengkel Teater Rendra

Pada tahun 1967, sepulang dari Amerika Serikat, ia mendirikan Bengkel Teater yang sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun sejak 1977 ia mendapat kesulitan untuk tampil di muka publik baik untuk mempertunjukkan karya dramanya maupun membacakan puisinya. Kelompok teaternya pun tak pelak sukar bertahan. Untuk menanggulangi ekonominya Rendra hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok. Pada 1985, Rendra mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih berdiri sampai sekarang dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya. Bengkel teater ini berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar yang terdiri dari bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan sanggar untuk latihan drama dan tari.

e.    Penghargaan

1)   Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)

2)   Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)

3)   Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)

4)   Hadiah Akademi Jakarta (1975)

5)   Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)

6)   Penghargaan Adam Malik (1989)

7)   The S.E.A. Write Award (1996)

8)   Penghargaan Achmad Bakri (2006).

kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ke-3 yang memberinya dua anak, yaitu Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

f.     Beberapa karya

Drama

1)   Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)

2)   Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) – 1967

3)   SEKDA (1977)

4)   Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 6 kali)

5)   Mastodon dan Burung Kondor (1972)

6)   Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali

2.      TEGUH KARYA

Teguh Karya lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941, merupakan anak kedua Mohammad Adnan. Arifin menamatkan SD di Taman Siswa, Cirebon, SMP Muhammadiyah, Cirebon, lalu SMA Negeri Cirebon tetapi tidak tamat, kemudian pindah ke SMA Jurnalistik, Solo. Setelah itu ia kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Ia mulai menulis cerita pendek dan puisi sejak SMP dan mengirimkannya ke majalah yang terbit di Cirebon dan Bandung. Semasa sekolah ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi anggota Himpunan Peminat Sastra Surakarta sambil mencanangkan Hari Puisi. Di sini ia menemukan latar belakang teaternya yang kuat. Dalam kelompok drama bentukan W.S. Rendra tersebut ia juga mulai menulis dan menyutradarai lakon-lakonnya sendiri, seperti Kapai Kapai, Tengul, Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja. Kemudian saat kuliah, ia bergabung dengan Teater Muslim yang dipimpin Mohammad Diponegoro. Ia kemudian hijrah ke Jakarta dan mendirikan Teater Kecil pada tahun 1968.

Tahun 1972-1973 ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa, Amerika Serikat.

 

3.   ARIFIN C. NOER

Arifin lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941, merupakan anak kedua Mohammad Adnan. Arifin menamatkan SD di Taman Siswa, Cirebon, SMP Muhammadiyah, Cirebon, lalu SMA Negeri Cirebon tetapi tidak tamat, kemudian pindah ke SMA Jurnalistik, Solo. Setelah itu ia kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Ia mulai menulis cerita pendek dan puisi sejak SMP dan mengirimkannya ke majalah yang terbit di Cirebon dan Bandung. Semasa sekolah ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi anggota Himpunan Peminat Sastra Surakarta sambil mencanangkan Hari Puisi. Tahun 1972-1973 ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa, Amerika Serikat.

1.    Karier

Di tengah minat dan impiannya sebagai seniman, Arifin sempat meniti karier sebagai manajer personalia Yayasan Dana Bantuan Haji Indonesia dan wartawan Harian Pelopor Baru. Mengaku otodidak di bidang sinematografi, ia mulai bekerja dengan kamera ketika Wim Umboh membuat film Kugapai Cintamu, 1976. Arifin merasakan pengalaman sebagai sutradara teater merupakan dasar yang perlu di dunia film. Debut penyutradaraannya adalah Suci Sang Primadona yang diproduseri PT Gramedia Film.  Selain terlibat di bidang teater dan film, ia juga menulis puisi.

 

4. PUTU WIJAYA

Putu Wijaya adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, baik anggota keluarga dekat dan jauh. Putu mempunyai kebiasaan membaca sejak kecil. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak dan ibunya yang bernama Mekel Ermawati. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.

Pendidikan

 

3.      NANO RIANTIARNO

Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Ia bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia dan ikut mendirikan Teater populer pada 1968. Pada 1 Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok teater yang paling produktif di Indonesia saat ini.[1] Hingga 2006, kelompok ini telah menggelar sekitar 111 produksi panggung dan televisi.

Nano sendiri menulis sebagian besar karya panggungnya, antara lain:

4.      AKHUDIAT

Akhudiat, lahir di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, pada tanggal 5 Mei 1946. Ayahnya, Akwan (lahir tahun 1925), adalah seorang petani yang tekun di desa Karanganyar, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan ibunya, bernama Musarapah (kelahiran tahun 1930).

   

5.      YOSEPH ISKANDAR

             Yoseph Iskandar, lahir di Purwakarta, 11 Januari 1953 – meninggal di Ujungberung, Bandung, 26 Maret 2008 pada umur 55 tahun. Pengarang cerpen, novel, roman, dan drama dalam bahasa Sunda. Lulus dari SMA, Yoseph masuk ke ATPU (Akademi Teknik Pekerjaan Umum) di Bandung. Tapi ia lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan kesenian mahasiswa daripada kuliah. Ia pernah memimpin “Teater Khas" (1977-1981). Kemudian ia memilih untuk meninggalkan dunia teknik. Karya-karyanya yang sudah dibukukan di antaranya:

  1. Perang Bubat (1988)
  2. Wastu Kancana (1989)
  3. Prabu Wangisutah (1991)
  4. Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana (1991)
  5. Pamanahrasa (1991)
  6. Putri Subanglarang (1991)
  7. Prabu Anom Jayadéwata (1996)
  8. Tri Tangtu di Bumi

6.      Ali Shahab (lahir di Jakarta, 22 September 1941; umur 77 tahun) adalah seorang wartawan dan sutradara senior Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah sinetron Rumah Masa Depan yang ditayangkan di TVRI pada era 1980-an. Selain itu, ia juga menulis beberapa novel remaja bernuansa Islami.

1.      Ali adalah adik kandung dari wartawan dan budayawan Alwi Shahab.

2.      Ali Shahab (lahir di Jakarta, 22 September 1941; umur 77 tahun) adalah seorang wartawan dan sutradara senior Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah sinetron Rumah Masa Depan yang ditayangkan di TVRI pada era 1980-an. Selain itu, ia juga menulis beberapa novel remaja bernuansa Islami.

3.      Ali adalah adik kandung dari wartawan dan budayawan Alwi Shahab.

Sinetron

  • Rumah Masa Depan (1980)
  • Nyai Dasimah
  • Putri Malam
  • Zalsa (2000)


BAB III

PENUTUP

 

A.  SIMPULAN

Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi. Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan.  Perkataan drama berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak atau beraksi.

 

Klasifikasi drama didasarkan atas tanggapan manusia terhadap kehidupan. Berbicara pengertian drama secara luas kajiannya, tidaklah berkutat pada pengertian-pengertian semata, tetapi sebagai karya sastra.

 

penggerak teater di indonesia

1.    W.s Rendra

2.    Arifin C. Noer

3.    Teguh Karya

4.    Putu Wijaya

5.    Nano Riantiarno

6.    Akhudiat

7.    Yoseph Iskandar

8.    Ali Shahab


B.  SARAN

Demikianlah makalah yang penulis buat, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca terutama bagi penulis. Penulis mohon maaf bila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas. penulis hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. penulis juga sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi perbaikan makalah ini. Sekian dari kami, dan terima kasih atas partisipasinya dalam perbaikan makalah ini. Wabillahi taufiq wal hidayah fastabikul khaerat, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar