Berikut Contoh Makalah Tentang Drama!
MAKALAH
KAJIAN DAN APRESIASI DRAMA BAHASA INDONESIA
DISUSUN: KELOMPOK 2 / 5D
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, tak lupa penyusun memanjatkan puji syukur
kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penyusun masih diberi kesehatan yang tidak ternilai harganya. Berkat rahmat-Nya
pula, penyusun masih diberi kesempatan untuk menyusun makalah ini.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan
kepada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi
Wasallambeserta keluarga dan para sahabatnya. Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam telah menuntun umat islam
dari zaman kebodohan menuju zaman ilmu pengetahuan. Sehingga penyusun dapat
menyelesaikan makalah ini dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada.
Makalah ini dibuat untuk menambah wawasan teman-teman
tentang Kajian dan Apresiasi Drama. Makalah ini juga sekaligus memenuhi
kewajiban penyusun dalam menyelesaikan tugas kuliah. Makalah ini membahas
tentang Kajian dan Apresiasi Drama yang berjudul “Klasifikasi Dan Aliran
Drama dan Penggerak Teater Di Indonesia”. Adapun isi makalah ini, yaitu: klasifikasi drama,
Aliran-aliran drama, jenis drama berdasarkan konsepnya dan nama penggerakan
teater di indonesia.
Penyusun juga
berterima kasih kepada Azis Nojeng sebagai dosen pengampuh mata kuliah, Kajian dan Apresiasi
Drama karena
beliau tidak pernah bosan untuk mengarahkan penyusun agar lebih baik lagi.
Makalah ini tentu mempunyai banyak hambatan dari yang terkecil sampai yang
terbesar. Namun, berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari orang tua penyusun
yang selalu memberikan sumbangsi material dan doa, sehingga kendala-kendala
yang penyusun hadapi bisa teratasi.
Terima kasih kepada
teman-teman kelompok II, yaitu Putri salistyandari Sri Wanda Wahyuni, Rahmania hafsari, Irvan dan Sri Mardianti atas partisipasinya yang
telah mendedikasikan fikiran, tenaga, waktu, dan materialnya dalam proses
penyusunan makalah ini. Makalah ini disusun dengan penuh kesabaran dan
rintangan, baik yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.
Terima kasih juga
kepada pihak yang telah membantu penyusun dalam percetakan makalah dari awal pembuatan
makalah hingga selesai. Karena tanpa bantuan percetakan tentu penyusun tidak bisa menyelesaikan makalah
ini dalam bentuk yang diinginkan.
Semoga makalah ini
dapat memberikan wawasan yang lebih leluasa dan menjadi sumbangan pemikiran
kepada pembaca ataupun pendengar khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah
Makassar. Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata
sempurnah untuk itu kepada pembaca, penulis meminta kritik dan saran demi
perbaikan makalah dimasa yang akan datang. Wabillahi
taufiq wal hidayah fastabikul khaerat, wassalamu alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Makassar, November 2018
DAFTAR ISI
SAMPUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
A.
KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA DAN
1.
Klasifikasi Drama
2.
Aliran-Aliran Drama
3.
Jenis Drama Berdasarkan Konsepnya
B.
PENGGERAK TEATER DI INDONESIA
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang
sejajar dengan prosa dan puisi. Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama
memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas
konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan. Perkataan drama berasal dari bahasa Yunani
“draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak atau beraksi.
Lebih lanjut istilah drama dalam sejarah
perkembangannya di Indonesia dikenal dengan beberapa istilah, diantaranya :
Sandiwara, yang diambil dari bahasa Jawa “sandhi” dan “warah” yang berarti
pelajaran yang diberikan secara diam-diam atau rahasia (sandi artinya rahasia
dan warah artinya pelajaran. Lakon, yang berasal dari bahasa Jawa ini mempunyai
arti perjalanan cerita (biasanya dikenal dalam pementasan wayang). Oleh karena itu pementasan drama tentunya banyak
menghadirkan cerita yang berbeda-beda antara pengarang yang satu dengan yang
lainnya sehingga dapat melahirkan klasifikasi drama.
BAB II
KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA DAN PENGGERAK TEATER
DI INDONESIA
A. KLASIFIKASI DAN ALIRAN DRAMA
1.
Klasifikasi
Drama
Klasifikasi drama didasarkan atas tanggapan manusia terhadap
kehidupan. Berbicara pengertian drama secara luas kajiannya, tidaklah berkutat
pada pengertian-pengertian semata, tetapi sebagai karya sastra.
Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan ini
dari sisi yang menggembirakan dan sebaliknya dapat juga dari sisi yang
menyedihkan. Dapat juga seseorang memberikan variasi antara sedih dan gembira
mencampurkan dua sikap itu karena dalam kehidupan yang real manusia tidak
selalu sedih dan tidak selalu gembira.
Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan
dengan berbagai problemaktinya sehingga memberikan nuansa yang bervariasi baik
dalam keadaan sedih maupun gembira dalam kehidupan dunia pentas (drama). Oleh
karena itu pementasan drama tentunya banyak menghadirkan cerita yang
berbeda-beda antara pengarang yang satu dengan yang lainnya sehingga dapat
melahirkan klasifikasi drama.
2.
Aliran – Aliran Drama
Selain klasifikasi drama diatas, dapat juga dilihat
dari alirannya dan sifat-sifatnya. Walaupun sifat tersebut tidak menjadi corak
kaki (pijakaan) tetapi hanya dapat
menjadi ciri pokok saja karena tidak ada drama yang berpijak pada satu aliran
atau sifat secara mutlak seratus persen, tetapi kecendrungan menganut lebih
dari satu aliran atau sifat drama. Adapun klasifikasi drama berdasarkan aliran
atau sifatnya, di antaranya :
a. Aliran
klasik. Drama dengan aliran ini mempunyai beberapa ciri-ciri;
1) tunduk pada hukum trilogy Aristoteles,
2) actingnya bergaya deklamasi,
3) drama lirik lebih banyak ditulis,
4) irama permainan lamban, banyak diselingi dengan
monolog bersifat statis, dan
5) materi
cerita bergaya Romawi dan Yunani
b. Aliran romantik. Drama ini bertentangan dengan
drama aliran klasik, dengan tidak mematuhi hukum drama tetap (trilogy
Aristoteles), dengan ciri-ciri:
1) kebebasan bentuk,
2) isi yang fantastis
dan sering tidak logis,
3) materinya
bunuh-membunuh, teriakan dalam gelap, korban pembunuhan yang hidup kembali dan
tokoh-tokohnya sentmentil,
4) mementingkan
keindahan bahasa,
5) dalam
penyutradaraan segi visual ditonjolkan, dan
6) actingnya
bombastis, bernafsu, mimic yang berlebih-lebihan.
c. Aliran realis, dalam hal ini naskah yang
ditampakkan lebih pada pencapaian ilusi atas penggambaran kenyataan dalam
pentas. Terdapat dua realisme, yaitu:
1) reslisme sosial dengan ciri-ciri;
a) peran-peran utama biasanya
rakyat jelata, petani, buruh dan sebagainya,
b) aktingnya wajar seperti yang terlihat dalam
kehidupan sehari-hari. Dan
2) realisme psykologis, dengan ciri-ciri;
a) lebih menonjolkan aspek
kejiwaan tokoh atau lakon,
b) settingnya bersifat wajar
dengan intonasi yang tepat,
c) suasana digambarkan dengan
simbolik (perlambangan), dan lebih mementingkan konflik psikologis dari pada
konflik fisik
d. Aliran ekspresionis, ialah seni menyatakan
dengan menonjolkan perasaan atau pikiran pengarang, dengan ciri-ciri:
1) pergantian adengan cepat,
2) penggunaa pentas ekstrem, dan
3) fragmen-fragmen yang film-isme
(meniru gaya dan cara film)
e. Aliran naturalis, aliran ini merupakan
perkembangan lebih lanjut dari realisme dengan menampakkan kenyataan yang
digambarkan diusahakan mungkin dengan kenyataan alam (natural), sehingga
penampilan mendekati alam sesungguhnya, dan bukan alam tiruan (lukisan dekor
semata)
f. Aliran eksistensialis, dengan menampilkan
tokoh-tokoh yang sadar akan esksistensi (keberadaan) dalam drama yang
mengutamakan kebebasan tokoh (kemandirian kuat) akan rohaniyah dan jasmaniah
bahkan dikatakan mutlak. Kemandirian menjadi ciri-ciri eksistensi diri yang
hendak membentuk kebebasan setinggi-tingginya. Oleh karena itu sang tokoh
bicara seenaknya, sehingga lakon kehilangan kontek dengan lawan bicaranya.
3.
Klasifikasi Drama Berdasarkan Konsepnya
a. Tragedi
Tragedi adalah jenis drama yang melukiskan
cerita penuh kesedihan dan kemalangan. Tokoh dalam drama tragedi biasa disebut
sebagai “tragic hero” yang memiliki arti yaitu seorang pahlawan
mengalami nasib tragis, seperti ketidakberuntungan, kesialan, dan lainnya.
Contoh drama jenis tragedi yang terkenal adalah garapan penulis Inggris yang
berjudul Doctor Faustus, dan masih banyak lainnya. Sementara drama
tragedi garapan William Shakespeare yang terkenal yaitu berjudul Hamlet,
Othello, dan Macbeth.
b. Komedi
Komedi adalah jenis drama yang bersifat
menghibur dengan unsur jenaka di dalamnya. Dalam naskah drama komedi, akan
terdapat dialog lucu yang menyindir dan biasanya memiliki ending yang
bahagia. Begitu pula dengan tokoh dalam drama komedi yang memiliki karakter
lucu, jenaka, tetapi juga bijaksana. Tujuan dari drama jenis komedi adalah
untuk menghibur penonton. Komedi memiliki beberapa sub-genre
tergantung dari konteks cerita yang akan dibawa oleh penulis, serta cara
pembawaan dialog, yang meliputi lelucon dan sindiran. Salah satu contoh drama komedi yang terkenal yaitu berjudul A
Midsummer Night’s Dream garapan William Shakespeare.
B. PENGGERAK TEATER DI INDONESIA
1.
W.S. RENDRA
W.S. Rendra yang memiliki nama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra
(lahir di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Sejak muda, dia menulis puisi, skenario
drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Pernah mengenyam
pendidikan di Universitas
Gajah Mada, dan dari perguruan tinggi itu pulalah dia menerima gelar Doktor Honoris Causa. Penyair yang kerap dijuluki sebagai
"Burung Merak"], ini, tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater
di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra
melahirkan banyak seniman antara lain Sitok Srengenge, Radhar
Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain. .
a. Kehidupan
Pribadi
Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus
Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang
guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional;
sedangkan ibunya adalah penari serimpi di Keraton
Surakarta Hadiningrat. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya.
b. Pendidikan
1)
TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
2)
SD s.d. SMA Katolik, SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo (tamat pada
tahun 1955).
3)
Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas
Gajah Mada, Yogyakarta
4)
Mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967).
c. Rendra
sebagai sastrawan
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat
ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya
dengan menulis puisi, cerita pendek, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis,
ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan
terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Ia pertama kali mempublikasikan puisinya di
media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya
pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah,
Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti
terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun
'60-an dan tahun '70-an. Kaki Palsu adalah drama pertamanya, dipentaskan
ketika ia di SMP, dan Orang-orang di Tikungan Jalan adalah drama
pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta.)
d. Bengkel
Teater dan Bengkel Teater Rendra
Pada tahun 1967, sepulang dari Amerika
Serikat, ia
mendirikan Bengkel Teater yang sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana
baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun sejak 1977 ia mendapat
kesulitan untuk tampil di muka publik baik untuk mempertunjukkan karya dramanya
maupun membacakan puisinya. Kelompok teaternya pun tak pelak sukar bertahan.
Untuk menanggulangi ekonominya Rendra hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok.
Pada 1985, Rendra mendirikan Bengkel
Teater Rendra yang masih berdiri sampai sekarang dan menjadi basis bagi
kegiatan keseniannya. Bengkel teater ini berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar
yang terdiri dari bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan
sanggar untuk latihan drama dan tari.
e. Penghargaan
1)
Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)
2)
Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
3)
Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
4)
Hadiah Akademi Jakarta (1975)
5)
Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
6)
Penghargaan Adam Malik (1989)
7)
The S.E.A. Write Award (1996)
8)
Penghargaan Achmad Bakri (2006).
kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan
orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil
mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher
seseorang. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah
Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.
Sang Burung Merak kembali mengibaskan
keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ke-3 yang memberinya dua anak, yaitu
Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal
karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada
1979, dan Sunarti pada tahun 1981.
f. Beberapa
karya
Drama
1)
Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
2)
Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) – 1967
3)
SEKDA (1977)
4)
Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 6 kali)
5)
Mastodon dan Burung Kondor (1972)
6)
Hamlet (terjemahan dari karya William
Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali
2.
TEGUH KARYA
Teguh Karya lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941,
merupakan anak kedua Mohammad Adnan. Arifin menamatkan SD di Taman Siswa, Cirebon, SMP Muhammadiyah, Cirebon, lalu
SMA Negeri Cirebon tetapi tidak tamat, kemudian pindah ke SMA Jurnalistik,
Solo. Setelah itu ia kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Ia mulai menulis cerita pendek dan puisi sejak SMP dan mengirimkannya ke majalah yang terbit di Cirebon dan Bandung. Semasa sekolah ia bergabung dengan
Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi anggota Himpunan Peminat Sastra Surakarta
sambil mencanangkan Hari Puisi. Di sini ia menemukan latar belakang teaternya
yang kuat. Dalam kelompok drama bentukan W.S. Rendra tersebut ia juga mulai menulis dan
menyutradarai lakon-lakonnya sendiri, seperti Kapai Kapai, Tengul,
Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja. Kemudian saat
kuliah, ia bergabung dengan Teater Muslim yang dipimpin Mohammad Diponegoro. Ia
kemudian hijrah ke Jakarta dan mendirikan Teater Kecil pada tahun 1968.
Tahun 1972-1973 ia mengikuti International
Writing Program di Universitas Iowa, Iowa, Amerika Serikat.
3. ARIFIN C. NOER
Arifin lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941,
merupakan anak kedua Mohammad Adnan. Arifin menamatkan SD di Taman Siswa, Cirebon, SMP Muhammadiyah, Cirebon, lalu
SMA Negeri Cirebon tetapi tidak tamat, kemudian pindah ke SMA Jurnalistik,
Solo. Setelah itu ia kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Ia mulai menulis cerita pendek dan puisi sejak SMP dan mengirimkannya ke majalah yang terbit di Cirebon dan Bandung. Semasa sekolah ia bergabung dengan
Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi anggota Himpunan Peminat Sastra Surakarta
sambil mencanangkan Hari Puisi. Tahun 1972-1973 ia mengikuti International
Writing Program di Universitas Iowa, Iowa, Amerika Serikat.
1. Karier
Di tengah minat dan impiannya sebagai
seniman, Arifin sempat meniti karier sebagai manajer personalia Yayasan Dana
Bantuan Haji Indonesia dan wartawan Harian Pelopor Baru. Mengaku otodidak di bidang sinematografi, ia mulai bekerja dengan kamera ketika Wim Umboh membuat film Kugapai Cintamu, 1976. Arifin merasakan pengalaman sebagai
sutradara teater merupakan dasar yang perlu di dunia film. Debut
penyutradaraannya adalah Suci Sang Primadona yang diproduseri PT Gramedia Film. Selain terlibat di bidang teater dan film, ia juga menulis puisi.
4. PUTU WIJAYA
Putu Wijaya adalah bungsu dari lima
bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks
perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, baik anggota keluarga dekat dan
jauh. Putu mempunyai kebiasaan membaca sejak kecil. Ayahnya, I Gusti Ngurah
Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak dan ibunya yang
bernama Mekel Ermawati. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia
akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Pendidikan
- SR,
Tabanan (1956)
- SMP
Negeri, Tabanan (1959)
- SMA-A,
Singaraja (1962)
- Fakultas
Hukum UGM
(1969)
- ASRI
dan Asdrafi, Yogyakarta
- LPPM,
Jakarta (1981)
- International
Writing Programme, Iowa, AS
(1974)
3.
NANO RIANTIARNO
Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya
dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Ia bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia
dan ikut mendirikan Teater populer pada 1968. Pada 1 Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok teater yang paling
produktif di Indonesia saat ini.[1] Hingga 2006, kelompok ini telah menggelar
sekitar 111 produksi panggung dan televisi.
Nano sendiri menulis sebagian
besar karya panggungnya, antara lain:
4.
AKHUDIAT
Akhudiat, lahir di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur,
pada tanggal 5 Mei 1946. Ayahnya, Akwan (lahir tahun 1925), adalah seorang
petani yang tekun di desa Karanganyar, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten
Banyuwangi. Sedangkan ibunya, bernama Musarapah (kelahiran tahun 1930).
5.
YOSEPH ISKANDAR
Yoseph Iskandar, lahir di Purwakarta, 11
Januari 1953 – meninggal di Ujungberung, Bandung, 26
Maret 2008 pada umur 55 tahun. Pengarang cerpen, novel, roman, dan drama dalam bahasa Sunda. Lulus dari SMA, Yoseph masuk ke ATPU (Akademi Teknik Pekerjaan Umum)
di Bandung.
Tapi ia lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan kesenian mahasiswa daripada
kuliah. Ia pernah memimpin “Teater Khas" (1977-1981). Kemudian ia
memilih untuk meninggalkan dunia teknik. Karya-karyanya yang sudah dibukukan di
antaranya:
- Perang Bubat
(1988)
- Wastu Kancana
(1989)
- Prabu Wangisutah
(1991)
- Tanjeur na Juritan,
Jaya di Buana
(1991)
- Pamanahrasa
(1991)
- Putri Subanglarang
(1991)
- Prabu Anom Jayadéwata
(1996)
- Tri Tangtu di Bumi
6. Ali
Shahab (lahir di Jakarta, 22 September 1941; umur 77 tahun) adalah seorang wartawan dan sutradara senior Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah
sinetron Rumah Masa Depan yang ditayangkan di TVRI pada era 1980-an. Selain itu, ia juga menulis
beberapa novel remaja bernuansa Islami.
1. Ali adalah adik kandung dari
wartawan dan budayawan Alwi Shahab.
2. Ali
Shahab (lahir di Jakarta, 22 September 1941; umur 77 tahun) adalah seorang wartawan dan sutradara senior Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah
sinetron Rumah Masa Depan yang ditayangkan di TVRI pada era 1980-an. Selain itu, ia juga menulis
beberapa novel remaja bernuansa Islami.
3. Ali adalah adik kandung dari
wartawan dan budayawan Alwi Shahab.
- Beranak dalam Kubur (1971),
dibintangi oleh Suzanna.
- Bumi Makin Panas (1973),
dibintangi oleh Suzanna.
- Napsu Gila (1973),
dibintangi oleh Suzanna.
- Rahasia Perawan (1975),
dibintangi oleh Tanty Yosepha,
Robby Sugara,
dan Yati Octavia.
- oleh Dewanty Bauty dan lain-lain
Sinetron
- Rumah Masa Depan (1980)
- Nyai Dasimah
- Putri Malam
- Zalsa (2000)
BAB
III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Naskah
drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi.
Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu
ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai
kemungkinan dipentaskan. Perkataan drama
berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku,
bertindak atau beraksi.
Klasifikasi drama didasarkan atas tanggapan manusia
terhadap kehidupan. Berbicara pengertian drama secara luas kajiannya, tidaklah
berkutat pada pengertian-pengertian semata, tetapi sebagai karya sastra.
penggerak teater di indonesia
1.
W.s Rendra
2.
Arifin C. Noer
3.
Teguh Karya
4.
Putu Wijaya
5.
Nano Riantiarno
6.
Akhudiat
7.
Yoseph Iskandar
8.
Ali Shahab
B. SARAN
Demikianlah makalah yang penulis buat, semoga
bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca terutama bagi penulis. Penulis
mohon maaf bila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang
kurang jelas. penulis hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
penulis juga sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi
perbaikan makalah ini. Sekian dari kami, dan terima kasih atas partisipasinya
dalam perbaikan makalah ini. Wabillahi
taufiq wal hidayah fastabikul khaerat, wassalamu alaikum warahmatullahi
wabarakatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar