Kamis, 28 Maret 2019

Makalah Fonologi | Pola Struktural Fonemik Satuan Lingual


BAB I
PENDAHULUAN

Bahasa atau language merupakan produksi dari alat-alat bicara manusia (Organ of speech) diguanakan sebagai alat untuk berkomunikasi dan `berinteraksi. Bahasa mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan ini. Bloomfield berkata language plays agreat part in our live (1935:3). Fakta menunjukkan bahwa manusia dapat saja menggunakan alat komunikasi lain selain bahasa. Namun, bahasa verbal tetap merupakan alat komunikasi yang paling baik dan sempurna.
Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berarti ‘bunyi’ dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Bila kita mendengar suara orang berbicara entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtunan bunyi-bunyi bahasa yang terus menerus (Abdul Chaer, 2013: 1).
Secara populer orang sering menyatakan bahwa fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang huruf, atau ilmu yang menjadikan huruf sebagai objek kajian. Ada beberapa buku yang mungkin rumusannya agak berbeda tetapi bahwa bahasa menjadi kajian, kiranya tidak perlu diperdebatkan lagi.
           
          Oleh sebab itu, studi atau kajian struktural fonemik sangat penting karena dapat memberikan pemahaman mengenai bahasa itu sebagai satu-satunya alat komunikasi yang paling baik dan sempurna. Kajian bahasa ada yang bersifat mikro/ mikrolinguistik dan ada yang bersifat makro/ makrolinguistik, dengan kata lain ada kajian bahasa secara internal dan kajian bahasa eksternal.
           
BAB II
Pola Struktural Fonemik Satuan Lingual

A.     Pengertian Fonemik
Fonemik adalah kajian atau analisa bunyi bahasa dengan memperhatikan status-Nya sebagai pembeda makna. Bunyi bahasa yang diucapkan oleh manusia akan memiliki pembeda makna pada setiap bunyi bahasa-Nya (Abdul Chaer, 2013: 62).
Ada beberapa pengertian fonemik menurut para ahli diantaranya, Menurut Verhaar, Fonemik adalah bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu menurut fungsinya untuk membedakan leksikal dalam bahasa (Verhaar, 1982: 36). Sedangkan menurut Abdul Chaer, Fonemik adalah cabang kajian fonologi yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna (Abdul Chaer, 2013: 62).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bunyi-bunyi dalam bahasa dapat membedakan makna dan pengucapan bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut berfungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak.
Dalam bahasa indonesia fonemik (i) setidak-Nya mempunyai empat dua alofon, yaitu : Bunyi (i) seperti dalam kata cita, bunyi (i) seperti pada kata tarik, bunyi (i) seperti kata ingkar, dan bunyi (i) seperti kata kali.
Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai segmentasi terhadap arus ujaran disebut fomen segmental. Sebalik-Nya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental.

Unsur suprasegmental tampak-Nya tidak fonemik maupun morfemis; namun, intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Umpama-Nya kalimat dia membaca komik dengan tekanan pada kata dia berarti yang membaca bukan orang lain, dengan tekanan pada kata membaca berarti dia bukan menulis atau menjual komik, dan dengan tekanan pada kata komik berarti yang dibaca bukan koran (Abdul Chaer, 2013: 68).
Fonem-fonem dalam bahasa indonesia :
1.      Fonem Vokal
Fonem vokal adalah yang dihasilkan udara yang keluar dari paru-paru dengan tidak mendapatkan hambatan. Jenis vokal ditentukan oleh posisi bibir, tinggi rendah-Nya lisah dan maju mundur-Nya lidah (Abdul Chaer, 2013: 68). Contoh-Nya :
a.       /a/ vokal depan, rendah, tak bundar.
b.      /i/ vokal depan, tinggi, tak bundar.
c.       /u/ vokal belakang, atas, bundar.
d.      /e/ vokal depan, sedang, atas, tak bundar.
e.       /o/ vokal belakang, sedang, bundar.
( Abdul Chaer, 2013: 39) Bunyi-bunyi vokal dapat diklasifikasikan menurut :
a.       Tinggi rendahnya posisi lidah
Berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah bunyi-bunyi vokal dapat dibedakan atas:
1)     Vokal tinggi atas, seperti bunyi [i] dan [u];
2)     Vokal tinggi bawah, seperti bunyi [I] dan [U];
3)     Vokal sedang atas, seperti bunyi [e] dan [o];
4)     Vokal sedang bawah, seperti bunyi [ɛ] dan [⊃];
5)     Vokal sedang tengah, seperti bunyi [∂];
6)     Vokal rendah, seperti bunyi [a];
b.      Maju mundurnya lidah
Berdasarkan maju mundurnya lidah bunyi vokal dapat dibedakan atas:
1)     Vokal depan, seperti bunyi [i], [e], dan [a];
2)     Vokal tengah, seperti bunyi [∂];
3)     Vokal belakang, seperti bunyi [u] dan [o];
c.       Striktur
Striktur pada bunyi vokal adalh jarak antara lidah dengan langit-langit keras (palatum). Maka berdasarkan strikturnya bunyi vokal dapat dibedakan menjadi: (Abdul Chaer: 2013: 41)
1)     Vokal tertutup, yang terjadi apabila lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit, seperti bunyi [i] dan bunyi [u];
2)     Vokal semi tertutup, yang terjadi apabila lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga dibawah vokal tertutup, seperti bunyi [e], bunyi [∂], dan bunyi [o];
3)     Vokal semi terbuka, yang terjadi apabila lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga diatas vokal yang paling rendah, seperti bunyi [ɛ] dan [⊃];
4)     Vokal terbuka, yang terjadi apabila lidah berada dalam posisi serendah mungkin, seperti bunyi [a];

d.      Bentuk mulut
Berdasarkan bentuk mulut sewaktu bunyi vokal itu diproduksi dapat dibedakan: (Abdul Chaer: 2013: 41)
1)     Vokal bundar, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut membundar. Dalam hal ini ada yang bundar terbuka seperti bunyi [⊃], dan yang bundar tertutup seperti bunyi [o] dan bunyi [u];
2)     Vokal tak bundar, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut tak membundar, melainkan terbentang melebar, seperti bunyi [i], bunyi [e], dan bunyi [ɛ];
3)     Vokal netral, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut tidak bundar dan tidak melebar, seperti bunyi [a];
Berdasarkan empat kriteria yang dibicarakan tersebut, maka nama-nama vokal dapat disebutkan sebagai berikut: ( Abdul Chaer, 2013: 42)
[i] adalah vokal depan, tinggi (atas), tak bundar, tertutup.
[I] adalah vokal depan, tinggi (bawah), tak bundar, tertutup.
[u] adalah vokal belakang, tinggi (atas), bundar, tertutup.
[U] adalah vokal belakang, tinggi (bawah), bundar, tertutup.
[e] adalah vokal depan, sedang (atas), tak bundar, semi tertutup.
[ɛ] adalah vokal depan, sedang (bawah), tak bundar, semi terbuka.
[∂] adalah, vokal tengah, sedang, tak bundar, semi tertutup.
[o] adalah vokal belakang, sedang (atas), bundar, semi tertutup
[⊃] adalah vokal belakang, sedang (bawah), bundar, semi terbuka.
[a] adalah vokal belakang, rendah, netral, terbuka.
2.      Fonem Diftong
Fonem diftong adalah diftong/ay,diftong/aw/, dan diftong/oy/. Ketiga-Nya dapat dibuktikan dengan pasangan minimal (Abdul Chaer, 2013: 69). Diftong naik, terjadi jika vokal yang kedua diucapkan dengan posisi lidah menjadi lebih tinggi dari pada yang pertama Contoh-Nya :
a.       /ay/ gulai x gula (gulay x gula). Diftong /aw/ dapat menduduki posisi awal dan posisi akhir, seperti tampak pada contoh : aula [awla] dan pulau [pulaw]. Tidak dapat menduduki posisi tengah;
b.      /aw/ pulau x pula (pulaw x pula). Diftong /ay/ hanya menduduki posisi akhir, seperti pada kata [pantay] dan [landay]. Tidak dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah;
c.       /oi/ sekoi x seka (sakoi x seka). Diftong /oy/ hanya menduduki posisi akhir, seperti tampak pada kata [sakoy] dan [amboy]. Tidak menduduki posisi awal dan posisi tengah;
3.      Fonem Konsonan
Fonem konsonan adalah bunyi yang timbul akibat udara yang keluar dari paru-paru melalui rongga mulut atau rongga hidung (Abdul Chaer, 2013: 70).
Nama-nama fonem konsonan bahasa indonesia adalah :
a        /b/ konsonan bilabial, hambat, bersuara;
b        /p/ konsonan bilabial, hambat, tak bersuara;
c         /m/ konsonan bilabial, nasal;
d        /w/ konsonan bilabial, semi vokal;
e        /f/ konsonan labiodental, geseran, tak bersuara;
f          /d/ konsonan apikoalveolar, hambat, bersuara;
g        /t/ konsonan apikoalveolar, hambat, tak bersuara;
h        /n/ konsonan apikoalveolar, nasal;
i          /  / konsonan apikoalveolar, sampingan;
j          /r/ konsonan apikoalvolaer, getar;
k        /z/ konsonan laminoalvolar, geram, bersuara;
l          /s/ konsonan laminoalveolar, geseran, tak bersuara;
m      /ʃ/ konsonan laminopalatal, geseran, bersuara;
n        /ñ/ konsonan laminopalatal, nasal;
o        /j/ konsonan laminopalatal, paduan, bersuara;
p        /c/ konsonan aminopalatal, paduan, tak bersuara;
q        /y/ konsonan laminopalatal, semo vokal;
r         /g/ konsonan dorsovelar, hambat, bersuara;
s         /k/ konsonan dorsovelar, hambat, tak bersuara;
t          /ᶇ/ konsonan dorsovelar, nasal;
u        /x/ konsonan dorsovelar, geseran, bersuara;
v        /h/ konsonan laringal, geseran bersuara;
w      /?/ konsonan glotal, hambat;

B.     Pola Struktural Fonemik

Satuan kebahasaan berkaitan dengan bentuk dan makna. Bentuk satuan kebahasaan berupa deret bunyi bahasa. Bentuk tersebut bersifat acak atau arbitrer. Sementara itu makna suatu satuan kebahasaan bersifat linier atau tetap. Misalnya untuk mengungkapkan makna ‘lembaran-lembaran kertas yang terjilid, dapat berisi tulisan atau kosong’ dapat digunakan bentuk buku atau bisa juga dengan bentuk book atau bentuk lain dari berbagai bahasa.
Makna di atas bersifat tetap tetapi bentuk untuk mengungkapkan makna tersebut acak atau tidak tetap. Satuan kebahasaan tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu satuan kebahasaan yang belum memiliki makna atau satuan fonologis dan satuan kebahasaan yang yang bermakna atau satuan gramatikal. Yang termasuk satuan fonologis adalah fona atau bunyi, fonem, dan silabel atau suku kata.

                     1.         Fona
Fona adalah bunyi bahasa yang terdiri atas bunyi vokal dan bunyi konsonan ( Harimurti Kridalaksana, 2008: 62). Simbol atau lambang bunyi bahasa adalah huruf. Dalam Bahasa Indonesia terdapat 26 huruf dimulai dengan huruf a s.d. huruf z. Fon dapat dikatakan pula bunyi bahasa (bahasa Inggris: speech sound) atau fon adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap. Dalam fonologi, bunyi bahasa diamati sebagai fonem.
Fona merupakan satuan bahasa yang bersifat konkret. Fon itu dapat didengar dan dapat diucapkan. Karena itu, di samping fon, digunakan juga istilah bunyi. Kata kain dalam bahasa Indonesia misalnya, merupakan kata yang mengandung empat fon, yakni (k), (a), (i), dan (n), jika fon-fon itu diidentifikasi secara analitis.
Perlu diperhatikan bahwa fon berbeda dengan huruf. Fon adalah bunyi, sedangkan huruf adalah symbol grafis bunyi. Jumlah fon dan jumlah huruf tidak selalu paralel. Kata senyampang dalam bahasa Indonesia mengandung tujuh fon, yakni (s), (e), (n), (a), (m), (p), dan (n). Akan tetapi, kata tersebut bahwa fon tidak identik dengan bunyi. Memang ada kata yang jumlah fonnya sama dengan huruf yang terdapat pada kata itu, seperti yang tampak pada kata itu. Akan tetapi, secara prinsip fon adalah maujud yang berbeda dengan huruf.
Fona atau bunyi bahasa adalah satuan bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia dan diamati dalam fonetik sebagai fon atau dalam fonologi fonem. Ada dua jenis bunyi bahasa yaitu vokoid yaitu bunyi yang dihasilkan dengan arus udara yang tidak mengalami rintangan. Fon adalah realisasi dari fonem (parole), atau bunyi yang diartikulasikan (diucapkan) misalnya {lari}.
                     2.         Fonem
Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Misalnya dalam Bahasa Indonesia /h/ adalah fonem, karena membedakan makan kata harus dan arus; /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bapa dan papa berbeda maknanya. Fonem merupakan abstraksi, sedangkan wujud fonetisnya tergantung beberapa faktor, terutama posisinya dalam hubungan dengan bunyi lain. Salah satu cara menentukan sebuah fonem dalam sebuah sistem bahasa adalah dengan pasangan minimal (Harimurti Kridalaksana, 2008: 62).
Pasangan minimal adalah dua buah kata yang memiliki satu bunyi yang berbeda. Misalnya kata tali dan tari. Dalam kedua kata tersebut terapat dua bunyi berbeda yaitu [l] dan [r]. Dengan demikian bunyi [l] dan [r] dalam bahasa Indonesia adalah fonem.
Misalnya [a], [i], [e], dsb. Jenis yang kedua adalah kontoid yaitu bunyi yang dihasilkan dengan arus udara yang mengalami rintangan atau hambatan. Misalnya [p], [r], [t], dsb .
Fonem merupakan satuan bahasa terkecil yang bersifat abstrak dan mampu menunjukkan kontras makna atau abstraksi dari satu atau sejumlah fon, entah vokal maupun konsonan (Harimurti Kridalaksana, 2008: 62). Karena bersifat abstrak, fonem bukanlah satuan bahasa yang tidak nyata, bukan maujud yang dapat diindera. Dalam kata rokok, misalnya, terdapat empat fon, tetapi empat fon itu sebenarnya merupakan realisasi tiga fonem, yakni /r/, /o/, dan /k/. Dalam kata itu pula terdapat bunyi (k) yang sebenarnya merupakan realisasi fonem /o/. Hanya karena lingkungan berdistribusinya, fonem /o/ itu direalisasikan menjadi (k).
Memang banyak versi mengenai definisi atau konsep fonem. Namun, intinya adalah satu kesatuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna kata. Bagaimana kita tahu sebuah bunyi adalah fonem atau bukan fonem. Banyak cara dan prosedur telah dikemukakan oleh berbagai pakar. Namun, intinya adalah kalau kita ingin mengetahui sebuah bunyi adalah fonem atau bukan, kita harus mencari yang disebut pasangan minimal atau minimal pair, yaitu dua buah bentuk yang bunyinya mirip dan hanya sedikit berbeda. Umpamanya kita inginmengetahui bunyi [p] fonem atau bukan, maka kita cari, misalnya pasangan kata paku dan baku. Kedua kata ini mirip sekali. Masing-masing terdiri dari empat bunyi. Kata paku terdiri dari bunyi [p], [a], [k], dan [u]; sedangkan kata baku terdiri dari bunyi [b], [a], [k], dan [u]. jadi, pada pasangan paku dan baku terdapat tiga buah bunyi yang sama, yaitu bunyi kedua, ketiga dan keempat. Yang berbeda hanya bunyi pertama, yaitu bunyi [p] pada kata paku dan bunyi [b] pada kata baku.
Dengan demikian, kita sudah dapat membuktikan bahwa bunyi [p] dalam bahasa Indonesia adalah sebuah fonem. Mengapa? Karena kalau posisinya diganti oleh bunyi [b], maka maknanya akan berbeda. Sebagai sebuah fonem, bunyi [p] itu ditulis di antara dua garis miring menjadi /p/.
Apakah bunyi [b] pada pada pasangan kata paku dan baku itu juga sebuah fonem? Dengan sendirinya, bunyi [b] itu juga adalah sebuah fonem, karena kalau posisinya diganti oleh bunyi [p] atau bunyi [I] menjadi laku, maknanya juga akan berbeda.
Untuk membuktikan sebuah bunyi adalah
fonem atau bukan dapat juga digunakan pasangan minimal yang salah satu angotanya “rumpang”. Artinya, jumlah bunyi pada anggota pasangan yang rumpang itu kekurangan satu bunyi dari anggota yang utuh. Misalnya, untuk membuktikan bunyi [h] adalah fonem atu bukan kita dapat mengambil pasangan [tuah] dan [tua]. Bentuk [tuah] memiliki empat buah bunyi, sedangkan bentuk [tua] hanya memiliki tiga  buah bunyi. Maka, kalau bunyi [h] itu ditanggalkan, makna kata itu akan berbeda. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bunyi [h] adalah sebuah fonem [h].
Susunan Fonem Jumlah Fonem Susunan Huruf Jumlah Huruf Kata yang terbentuk
/adik/ 4 adik 4 adik
/inat/ 4 ingat 5 ingat
/nani/ 4 nyanyi 6 nyanyi
/pantay/ 6 pantai 6 pantai

32 Fonem resmi bahasa Indonesia :
a.       6 buah fonem vokal : /a/, /i/, /u/, /e/,/o/, /?/.
b.      buah fonem diftong : /oy/, /ay/, dan /ou/.
c.       23 buah fonem konsonan : /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /c/, /j/, /n/, /k/, /g/, /n/, /y/, /r/, /l/, /w/, /s/, /s/, /t/, /f/, /h/, /x/, dan /?/.
Selanjutnya, fonem-fonem ini akan membentuk satuan, yaitu saku kata. Suku kata dapat diidentifikasi dengan jalan mengidentifikasi vokalnya karena fonem vokal merupakan puncak sonoritas (kenyaringan).
Bentuk Fonem
Struktur Suku Kata
a.       KVKKK Korps;
b.      KKVKK Pleks , pada kata kompleks;
c.       KKKVK Struk, pada kata struktur;
d.      KKKV Stra, pada kata strategi;
e.       KVKK Teks, pada kata tekstil;
f.        KKVK Spon, p`da kata spontan;
g.       KKV Gra, pada kata granat;
h.      KV Ku, Di, Ti, dll;
i.         VK il, in pada kata ilmu-indah;
j.         V I, a, o, u, e;
                     3.         Silabel
Silabel atau suku kata itu adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang bisanya jatuh pada sebuah vokal. Kenyaringan atau sonoritas, ynag menjadi puncak silabel, terjadi karena adanya ruang resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung, atau rongga-rongga lain, didalam kepala dan dada (Abdul Chaer, 2014: 123).
Dalam kamus linguistik, silabel atau suku kata dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu sudut fisiologi, artikulasi, dan fonologi. Dari sudut fisiologi, suku kata adalah ujaran yang terjadi dalam satu denyut yakni pada satu penegasan otot pada waktu penghembusan udara dari paru-paru. Dari sudut artikulasi, silabel adalah regangan ujaran yang terjadi dari satu puncak kenyaringan di antara dua unsur yang tak berkenyaringan.
Dari sudut fonologi silabel adalah struktur yang terjadi dari satu fonem atau urutan fonem bersama dengan ciri lain seperti kepanjangan atau tekanan (Harimurti Kridalaksana, 2008: 221). Contoh silabel:
Kata kaki berasal dari suku kata ka- dan -ki.
Kata tangan berasal dari suku kata ta- dan -ngan.
Kata makan berasal dari suku kata ma- dan –kan tetapi.
Kata makanan berasal dari suku kata ma- ka- dan –nan.

                     4.         Grafem (grapheme)
Grafem adalah satuan terkecil yang distingtif dalam suatu sistem aksara (Harimurti kridalaksana, 2008: 73). Lambang huruf, grafem merujuk ke huruf atau gabungan huruf sebagai atuan pelambang fonem di dalam satu ejaan. Contoh : kata tanggal terdiri dari tujuh huruf, yaitu t-a-n-g-g-a-l, tetapi grafemnya hanya enam, yaitu <t>, <a>, <ng>, <g>, <a>, <l>.
Mengingat grafem itu adalah pelambangan dari fonem maka unsur-unsur segmental dan suprasegmental fonem itu pun akan terlihat dalam grafem. Unsur-unsur itu secara keseluruhan adalah vokal, konsonan, nada, dan jeda. Maka grafemnya akan sesuai penulisannya seperti bunyi yang dihasilkan oleh fonem. Contoh fonem vokal /a/ maka grafemnya adalah <a> (Abdul Chaer, 2014: 137).


































BAB III
PENUTUP

A.     Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas kami dapat menyimpulkan pengertian fonemik yaitu Fonemik adalah kajian atau analisa bunyi bahasa dengan memperhatikan status-Nya sebagai pembeda makna. Bunyi bahasa yang diucapkan oleh manusia akan memiliki pembeda makna pada setiap bunyi bahasa-Nya.
Selain itu kita juga dapat menyimpulkan struktur satuan bahasa mulai dari Fon, Fonem, Silabel, dan Grafem. Yang masing-masing mempunyai  arti dan penjelasan yang berbeda-beda satu sama lain.
B.     Saran
Bahasa yang baik adalah bahasa yang dapat digunakan sesuai kaidah kebahasaan. Maka dari itu kita harus mematuhi kaidah bahasa dengan baik supaya kita dapat menggunakan bahasa yang baik dengan benar.












Daftar Pustaka


Chaer Abdul. 2014. Linguistik Umum (edisi 4). Jakarta : Rineka Cipta.
Chaer Abdul. 2013. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer Abdul. 2014. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Kridalaksana Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta:  Gramedia
Pustaka Utama
Kridalaksana Harimurti, 2008. Kamus Linguistik (Edisi 4). Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.





Senin, 28 Januari 2019

Istilah-istilah dalam kajian fonologi dan contoh dari morfofonemik | fonologi | Makalah dan Tugas


Istilah- istilah Dalam Kajian Fonologi dan Contoh dari Morfofonemik
Oleh



Nama          : MILA AMALYA MUNIR
Nim             : 105331114216
Kelas          :  BI/D

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
November , 2016




PEMBAHASAN
A.     Istilah-istilah yang digunakan dalam kajian fonologi
1.      Abjad (alphabet)
Kumpulan tanda tulisan, disebut huruf, yang masing-masing menggambarkan satu bunyi atau lebih, dan  biasanya mempunyai urutan tetap. Contoh : A-Z
2.      Abjad fonetis (phonetic alphabet)
Abjad yang dipakai dalam transkripsi fonetis. Misalnya abjad ipa
3.      Ablaut kantitatif (quantitative vowel gradation)
Ablaut yang menyangkut penghilangan, pemendekan, atau pemanjangan vokal. Misalnya  L. pater (nominatif) menjadi patris (genitif).
4.      Abstrak (abstract)
Secara fisik tidak berwujud. Misalnya cinta adalah nomina abstrak.
5.      Adverbia (adverb)
Ata yang dipakai untuk memerikan verba, ajektiva, proposisi, atau adverbia lain.
Contoh : sangat, lebih, tidak, dsb.
6.      Adverbia ekstraklausal
Adverbial secara sintaksis mempunyai kemungkinan untuk berpindah-pindah posisi dan secara semantik mengungkapkan perihal atau tingkat proposisi secara keseluruhan. Misalnya barangkali, bukan, justru, memang, mungkin.
7.      Adverbia intraklausal
Adverbia yang berkonstruksi dengan verba ajektiva, numeralia, atau adverbia  lain. Misalnya alangkah, agak, amat sangat.
8.      Aferesis (aphaeresis)
Penanggalan bunyi atau kata dari awal sebuah ujaran. Missal selamat pagi! Menjadi pagi!
9.      Afrikat (affricate)
Bunyi hambat dengan penglepas frikatif. Misalnya bunyi pertama pada cakap.
10.  Bagian kalimat (sentence part)
Kategori sintasis yang membentuk konstituen kalimat. Misalnya subyek, predikat, obyek, dsb.
11.  Bahasa akusatif (accusative language)
Tipe bahasa yang mempunyai penanda eksplisit untuk obyek langsung. Misalnya bahasa inggris yang mempunyai kalimat seperti they killed him, kata him adalah bentuk akusatif dari kata he.
12.  Bahasa berprefiks (prefixing language)
Tipe bahasa yang mengungkapkan hubungan gramatikal dengan penambahan prefiks pada alas atau dasar. Misalnya bahasa bantu.
13.  Bahasa bersufiks (suffixing language)
Tipe bahasa yang mengungkapkan hubungan gramatikaldengan sufiks. Misalnya bahasa latin, bahasa algonkin, dsb.
14.  Bahasa campuran (mixed language)
Alat komunikasi yang terjadi karena pertukaran secara intensif unsur-unsur dari dua bahasa atau lebih. Contoh bahasa campuran ialah pijin dan kreol.
15.  Bahasa madya (meso-language)
Bahasa purba dari suatu kelompok dalam suatu keluarga bahasa yang mempunyai satu bahasa purba bersama. Misalnya:   
Bahasa pAC adalah bahasa madya, demikian pula bahasa pDF. Bahasa pAF adalah bahasa purba bersama.
16. Ciri intralinguistik (intralinguistic feature)
Cirri yang menjadi perhatian utama linguistik. Misalnya cirri pembeda dari satuan fonologis atau cirri makna.
17.  Dasar (base)
Morfem yang dapat diperluas dengan dibubuhi afiks. Misalnya juang dalam berjuang, bandingkan dengan pangkal (stem).
18.  De-ajektival (de-adjectival)
Berasal atau dibentuk dari ajektiva. Misalnya kata pemalu berasal dari malu.
19.  Dasar terikat (bound stem)
Morfem terikat yang bukan afiks, yang dapat berdiri sebagai kata hanya bila bergabung dengan morfem lain. Misalnya bahasa Indonesia juang, temu, dsb.
20.  Demonstrativa (demonstrative)
Kata yang dipakai untuk menunjuk atau menandai secara khusus orang atau benda. misalnya ini, itu.

B.     Contoh dari morfofonemik
1.     PROSES PERUBAHAN FONEM
Perubahan bunyi akan terjadi pada :
a. Pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang dimulai oleh fonem atau bunyi /d/ dan bunyi /s/ khusus pada bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing akan terjadi perubahan bunyi /N/ menjadi /n/.

meN- + datang
meN- + survai
peN- + damar
peN- + supply
→ mendatang
→ mensurvei
→ pendamar
→ pensupply
b. Pertemuan morfem meN- dan peN- pada bentuk dasar yang berawal dengan bunyi atau fonem /b, f/ akan terjadi perubahan bunyi /N/ menjadi /m/. Misalnya :
meN- + buru
meN- + fitnah
peM- + buang
peM- + fitnah
→ memburu
→ memfitnah
→ pembuang
→ pemfitnah
c. Pertemuan morfem meN- den peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /c, j/, maka fonem /N/ akan berubeh menadi /n/. Misalnya :
meN- + cakar
meN- + jajal
peN- + ceramah
peN- + jamu
→ mencakar
→ menjajal
→ penceramah
→ penjamu
d. Pertemuan morfem meN- dan peN- dengan. bentuk dasar yang berbunyi awal /g, h, x/ dan voka1 , maka fonem /N/ akan berubah menjadi /η/. Misalnya :
meN- + garap
meN- + hasut
meN- + khayal
meN- + ambil
meN- + intip
meN- + ukur
meN- + ekor
meN- + orbit
peN- + garis
peN- + harum
peN- + khianat
peN- + angkat
peN- + isap
peN- + umpat
peN- + olah
→ menggarap
→ menghasut
→ mengkhayal
→ mengambil
→ mengintip
→ mengukur
→ mengekor
→ mengorbit
→ penggaris
→ pengharum
→ pengkhianat
→ pengangkat
→ pengisap
→ pengumpat
→ pengolah
e. Pertemuan morfem ber- dan per— pada bentuk dasar ajar mengakibatkan perubahan bunyi /r/ men jadi /1/. Peristiwa ini sebenarnya merupakan peristiwa unik, sebab hanya terjadi pada bentuk dasar ajar sehingga ada yang mengatakan suatu “kekecualian”.
                  Perhatikanlah :
ber- + ajar
per- + ajar
→ belajar
→ pelajar
f. Pertemuan morfem ke-an dan -i dengan bentuk dasar berfonem akhir /?/ menyebabkan fonem tersebut berubah menjadi /k/. Misalnya :
duduk /dudu?/ + ke-an
bedak /beda?/ + -i
→ kedudukan
→ bedaki
2.     PROSES PENAMBAHAN FONEM
Proses penambahan bunyi terjadi pada :
a. Pertemuan antara morfem -an, ke-an, per-an, menyebabkan timbulnya fonem atau bunyi /?/ bila bentuk dasar itu berakhir dengan vokal /a/. Misalnya :
-an + sapa
ke-an + sama
per-an + kata
→ sapaan
→ kesamaan
→ perkataan
Jika peN-an dipertemukan dengan bentuk dasar yang diawali bunyi /p, t, k, dan s/ dan diakhiri oleh vokal maka morfofonemis yang terjadi berupa perubahan, penghilangan dan penambahan bunyi. Contoh :
peN-an + tanda
peN-an + padu
peN-an + kaji
peN-an + sampai
 → penandaan
→ pemaduan
→ pengajian
→ penyampaian

b. Pertemuan antara morfem -an, ke-an, per-an dengan bentuk dasar yang berakhir dengan bunyi /i/ akan menyebabkan timbulnya bunyi /y/. Misalnya :
-an + hari
ke-an + serasi
per-an + api
→ harian
→ keserasian
→ perapian
c. Pertemuan antara morfem , ke-an, per-an dengan bentuk dasar yang berkhir dengan fonem /u, o/ akan menyebabkan timbulnya fonem /w/. Misalnya :
-an + jamu
ke-an + lucu
per-an + sekutu
-an + kilo
ke-an + loyo
per-an + toko
→ jamuan
→ kelucuan
→ persekutuan
→ kiloan
→ keloy
→ pertokoan
3.     PROSES PENANGGALAN FONEM
Proses penanggalan atau penghilangan bunyi dapat terjadi atas :
a. Bunyi /N/ pada meN- dan peN- yang hilang karena pertemuan kedua morfem tersebut dengan bentuk dasar yang berbunyi atau berfonem awal /r, l, y, w/ dan nasal. Misalnya :


meN- + ramu
meN- + lucu
meN- + yakini
meN- + wangi
meN- + nyanyi
meN- + minyak
meN- + ngeong
meN- + nanti
peN- + rusak
peN- + lacak
peN- + yakin
peN- + wajib
peN- + nyala
peN- + mabuk
peN- + nanti
→ meramu
→ melucu
→ meyakini
→ mewangi
→ menyanyi
→ meminyak
→ mengeong
→ menanti
→ perusak
→ pelacak
→ peyakin
→ pewajib
→ penyala
→ pemabuk
→ penanti

b. Fonem /r/ pada morfern ber-, ter-, dan per- hilang bila yang berbunyi atau berfonem awal /r/ atau yang suku pertamanya berakhir dengan bunyi /r/. Misalnya :
ber- + rambut
ber- + serta
ber- + kerja
ter- + rasa
ter- + rayu
per- + ramal
per- + ramai
per- + serta
→ berambut
→ beserta
→ bekerja
→ terasa
→ terayu
→ peramal
→ peramai
→ peserta





Daftar Pustaka
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus linguistik. Jakarta: gramedia pustaka utama.
donni040189.blogspot.co.id.2010.pengertian-morfologi-dan-morfofonemik.

Selasa, 22 Januari 2019

Lebih Mengenal Bahasa Indonesia | Makalah | Tanggapan Mengenai Bahasa Indonesia


Tanggapan Mengenai Bahasa Indonesia

Dosen Pengampuh: Mu’ Aliyah Hi Asnawi S.S., S.Pd., M.Hum.


Disusun Oleh:
Mila Amalya Munir
105331114216
BI IV D

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018



1.      Seberapa pentingkah Bahasa Indonesia menurut anda?
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di kawasan republik Indonesia yang digunakan sebagai alat komunikasi lisan untuk menyampaikan pesan kepada penerima. Maka bahasa Indonesia bagi saya memiliki kedudukan yang sangat penting serta bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu yang menduduki tempat yang terkemuka di antara beratus-ratus bahasa nusantara.
Banyaknya bahasa yang terdapat di Indonesia membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa perantara dari berbagai macam suku dan budaya. Itulah mengapa bahasa Indonesia menurut saya sangat penting karena kedudukannya dan juga sebagai bahasa pemersatu dari berbagai macam latar bahasa dan budaya di nusantara. Sebab tanpa adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu maka komunikasi antar-budaya dan bahasa dari berbagai suku di Indonesia akan terganggu.

2.      Menurut anda bagaimana perkembangan bahasa Indonesia saat ini?
Untuk bahasa Indonesia itu sendiri perkembangannya semakin baik apalagi bahasa Indonesia sudah diminati oleh masyarakat Internasional. Bahkan informasi yang saya ketahui bahwa bahasa Indonesia sekarang ini sudah menjadi bahan pembelajaran di Negara-negara Asing seperti di Amerika Serikat. Maka dari itu, jati diri bangsa perlu diperhatikan yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa.
Bahasa Indonesia mempunyai ciri-ciri umum dan kaidah-kaidah pokok tertentu yang membedakannya dengan bahasa-bahasa lainnya di dunia ini, baik bahasa asing maupun bahasa daerah. Oleh karena itu, ciri-ciri umum dan kaidah-kaidah pokok tersebut merupakan jati diri bahasa Indonesia. Akan tetapi, apakah kita bangga akan bahasa kita sendiri yakni bahasa Indonesia.
Ada pepatah yang mengatakan “Bahasa menunjukkan bangsa” namun jati diri bangsa Indonesia sekarang ini bisa dikatakan sudah tidak mencerminkan bangsa Indonesia yang utuh. Mengapa? Sebab Saat ini masyarakat sudah mulai mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing maupun bahasa daerah dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Tetapi dalam konteks pembicaraan non-formal yang lebih akrab dikatakan bahasa gaul hal ini tidak menjadi suatu masalah yang sangat penting.
Namun bagaimana jadinya jika pemakaian bahasa gaul juga biasa terjadi pada sebuah forum ilmiah, kuliah, seminar dan forum formal lain. Penyebab dari masalah pemakaian bahasa gaul tersebut dikarenakan kurang bangga dengan bahasa dan budayanya sendiri dan merasa bahasa asing lebih dapat diterima dalam pergaulan. Sebagaimana yang saya lihat orang Indonesia ataupun generasi muda sekarang ini lebih bangga memperlihatkan kemahirannya dalam berbahasa asing terutama bahasa Inggris.
Bahkan yang saya lihat mereka merasa malu apabila tidak menguasai bahasa asing (Inggris) tetapi tidak pernah merasa malu dan kurang apabila tidak menguasai bahasa Indonesia. Menganggap remeh bahasa Indonesia merasa dirinya lebih pandai dari pada yang lain karena telah menguasai bahasa asing (Inggris) dengan lancar, walaupun penguasaan bahasa Indonesianya kurang sempurna.
Saya sebagai generasi penerus bangsa merasa sedih dan jujur saya masih sedikit kurang menguasai bahasa Indonesia dengan baik maka dari itu saya terus mencoba menggali kemampuan bahasa Indonesia saya supaya jati diri bangsa tetap terjaga. Karena jika bangsa Indonesia sendiri tidak dapat menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsanya, maka lambat laun bahasa ini akan mati.
Sebagai warga negara Indonesia yang baik, sepantasnyalah bahasa Indonesia itu dicintai dan dijaga. Bahasa Indonesia harus dibina dan dikembangkan dengan baik karena bahasa Indonesia itu merupakan salah satu identitas atau jati diri bangsa Indonesia. Setiap orang Indonesia patutlah bersikap positif terhadap bahasa Indonesia, janganlah menganggap remeh dan bersikap negatif. Setiap orang Indonesia mestilah berusaha agar selalu cermat dan teratur menggunakan bahasa Indonesia.

3.      Langkah apa yang harus dilakukan menurut anda untuk memajukan bahasa Indonesia?
Tanggung jawab terhadap kemajuan bahasa Indonesia terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Setiap warga negara Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia itu ke arah yang positif.
Solusi yang dapat ditawarkan adalah dengan menggalakkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar minimal pada fasilitas publik yang sering dilihat masayarakat luas. Sehingga bahasa Indonesia dapat lebih populer di mata masyarakat sendiri. Meskipun solusi tersebut dirasa sulit untuk diterapkan secara langsung, namun hendaknya dilakukan secara bertahap, mulai dari yang paling mudah terlebih dahulu.
Pemerintah harus dapat menyadarkan masyarakat betapa pentingnya kita menjaga bahasa Indonesia yang dapat diterapkan melalui kebijakan-kebijakan, karena pemerintah dalam hal ini menjadi regulator di negara ini. Inti awalnya adalah bagaimana bahasa Indonesia dapat dipakai secara luas dan baik di tempat umum, media massa, dan merek dagangan. Sehingga secara tidak langsung masyarakat dapat mengetahui mana bahasa yang baik dan tidak.

4.      Carilah UUD tentang Bahasa Indonesia?
-          UUD 1945 Bab XV Pasal 36 yang berbunyi:
“Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”
Ketentuan lebih lanjut mengenai Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan diatur dengan undang-undang.

Rumusan mengenai hal ini sebelumnya belum diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan hanya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951.
Masuknya ketentuan mengenai lambang negara serta lagu kebangsaan ke dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang melengkapi pengaturan mengenai bendera negara dan bahasa negara yang telah ada sebelumnya merupakan ikhtiar untuk memperkukuh kedudukan dan makna atribut kenegaraan di tengah kehidupan global dan hubungan internasional yang terus berubah.
Dengan kata lain, kendatipun atribut itu tampaknya simbolis, hal tersebut tetap penting karena menunjukkan identitas dan kedaulatan suatu negara dalam pergaulan internasional. Atribut kenegaraan itu menjadi simbol pemersatu seluruh bangsa Indonesia di tengah perubahan dunia yang tidak jarang berpotensi mengancam keutuhan dan kebersamaan sebuah negara dan bangsa, tak terkecuali bangsa dan negara Indonesia.




Sumber :
Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa dan Anton M. Moeliono. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Limc4u. 2012; 1. Penjelasan pasal 35 sampai 36 UUD 1945. Diambil dari: http://limc4u.com/blog/penjelasan-pasal-35-sampai-36-uud-1945/. (18 Maret 2018)